Menu

45 Tahun Keliling Indonesia, Bule Swiss Kumpulkan Seribu Pusaka

AGUNG BAYU/BALI EXPRESS
PAMERAN PUSAKA: Gunter Weber, Bule asal Swiss (kanan) mengikut pameran keris pusaka di Museum Bali, Kamis (31/8).

MetroAsahan.com – Berbicara tentang benda pusaka, yang terlintas di benak masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Bali adalah kesan angker, bertuah dan lain sebagainya. Namun, kesan tersebut tak membuat para pemiliki benda pusaka enggan menjual atau memberikannya kepada orang lain. Hal inilah yang dirasakan pria asal Negara Swiss, Gunter Weber yang kini menjadi salah satu kolektor benda pusaka asli Indonesia.

Terik mentari dan rimbunya pepohonan di lapangan Puputan I Gusti Ngurah Made Agung, Kota Denpasar, Kamis (31/8) kemarin seakan menyambut datangnya Tim Bali Express (Jawa Pos Group) menyusuri kawasan yang disebut sebagai titik Nol Kota Denpasar ini. Dalam kesempatan yang sama, turut dilaksanakan Pertinget Tumpek Landep yang diselenggarakan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Denpasar.

Berbagai jenis keris yang berasal dari berbagai Kota di Nusantara turut meramaikan kegiatan ini. Ada yang dari Lombok, Solo, dan tentunya perajin lokal turut memeriahkan acara ini. Bahkan, Wakil ketua DPR RI, Fadli Zon turut memberikan 13 keris koleksiannya untuk dipamerkan dalam ajang ini.

Selain keris milik politisi Partai Gerindra, itu yang turut menyita perhatian adalah adanya salah seorang kolektor benda pusaka asal negara Swiss yakni Gunter Weber yang mengikuti kegiatan rutin ini sejak setahun yang lalu.

Dalam kesempatan ini, Bali Express tergolong beruntung dapat langsung bertemu dengan Gunter Waber. Dalam perbincangan yang tergolong cukup lama tersebut Waber menceritakan bagaimana cikal bakalnya hingga kini menjadi seorang kolektor benda pusaka Indonesia.

Waber yang tergolong fasih berbahasa Indonesia, ini mengatakan mulanya pihaknya adatang ke Bali yakni pada tahun 1969 dan bekerja sebagai seorang chef di Inna Grand Bali Beach Hotel, Sanur. Ketika itu dirinya telah memiliki ketertarikan tersendiri dengan kesenian dan benda-benda pusaka Nusantara, khususnya Bali.

Waber mengatakan, ketertarikannya terhadap benda pusaka bermula dari sebuah patung singa yang dimilikinya. Dimana, patung tersebut jika dilihat dari fisiknya sudah banyak mengalami kerusakan. Namun, jika dilhat dari tahun pembuatannya, suatu saat nanti Weber meyakini patung singa ini akan menjadi benda berusia tua. “Dan dari kondisi fisiknya yang kurang baik tersebut akan tercpta nilai kesenian tersendiri di dalamnya,” ujarnya.

Dari situlah muncul keinginan Weber untuk mencari beberapa benda pusaka di Bali untuk dikoleksi dalam sebuah ruangan yang disebutnya sebagai Museum Kecil di kawasan Desa Kesiman Petilan, Kota Denpasar.

Di sana, berbagai jenis bokor, tapel, togog, senjata, pedang dan keris dipajang rapi lengkap dengan identitasnya. Sejak tahun 1969, untuk mengikuti hobinya yang tertarik dengan pusaka nusantara ini, dia rela keliling Nusantara untuk menjadi seorang chef. Berbekal keahliannya sebagai jusru masak ini, maka Weber dapat dengan mudah diterima di berbagai restaurant maupun hotel di Indonesia.

Dengan demikian, Weber menjadi lebih mudah menjalani hobinya untuk mencari benda-benda pusaka di seluruh nusantara. Hingga dirinya memutuskan untuk berhenti mencari benda pusaka pada tahun 2014 lalu. Saat itu, sedikitnya sekitar 1.000 lebih benda pusaka berhasil dikumpulkan. “Jadi setelah 45 tahun saya mencari ke daerah di Indonesia, saya memutuskan untuk berhenti dan hanya merawat saja, karena umur juga sudah 73 tahun, sudah tua,” ungkapnya.
“Selain itu, tempat untuk menyimpan juga tidak ada,” imbuhnya.

Cara untuk memperoleh benda-benda tersebut menurut Waber tergolong unik. Ada yang beberapa harus dibeli dan ada beberapa yang memang diberikan secara cuma-cuma oleh pemiliknya. Namun, hal itu dilakukan Waber dengan senang hati. Bahkan hingga kini koleksi benda pusakanya sama sekali tidak pernah dipublikasikan dan digunakan untuk komersial.

Waber mengatakan, saat ini masyarakat Indonesia terlalu mengagung-agungkan orang asing. Padahal sejatinya mereka memiliki pekerjaan yang relative sama dengan masyarakat Indonesia di sini. Hal inilah yang menyebabkan masyarakat Indonesia justru melupakan kekayaan asli daerahnya sendiri.