Menu

Indira, Mahasiswa Unej Penderita GBS

Heru Putranto/Radar Jember
DEMI SAHABAT: Berbagai upaya dilakukan teman kuliah Indira untuk membantu biaya pengobatan penderita penyakit langka (GBS) yang besarnya ratusan juta, melalui info berantai di media sosial.

Tak banyak orang tahu tentang penyakit GBS. Memang, penyakit ini sangat kecil untuk mematikan pasiennya. Namun jika kelewat dan pasien tak terobati, maka kelumpuhan permanen tak bisa dihindari.

 

INDIRA Agasta Permatasari masih terbaring di ruang ICU RSD Soebandi Jember, kemarin. Mahasiswi Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Jember (Unej) itu tak berdaya di atas ranjang perawatan rumah sakit. Dia terlihat begitu lemas. Tangannya tertancap jarum infus. Hidungnya diberi selang bantuan pernapasan. Sedangkan di samping ranjangnya, ada alat pendeteksi detak jantung.

Kedua tangan dan kakinya, tidak bisa digerakkan. Seperti orang yang sedang lumpuh. Bicara pun tak bisa. Kondisi kesehatannya itu pun, mengundang panik kedua orang tua dan adiknya. Mereka bertahan menunggu kesembuhan Indira, dari luar ruang ICU.

Mahasiswi yang kini sudah duduk di bangku semester 7 itu, harus melawan penyakit yang jarang diderita orang lain. Sebab jika tak kuat, nyawanya bisa saja tak selamat. Bahkan rawan mengalami kelumpuhan permanen.

Para tenaga medis menyebut penyakitnya: Guillain Barre Syndrome (GBS), suatu penyakit karena kekebalan tubuh pasien yang menyerang saraf. Dokter juga menyebutnya Autoimun. Penyakit ini serius dan membutuhkan biaya banyak.

Biaya besar, saat proses terapi berlangsung. Terapi dilakukan dengan memasukkan cairan infus khusus. Setiap harinya, Indira, membutuhkan 9 botol cairan seharga Rp2,5 juta setiap botolnya. Sedangkan dia, butuh asupan cairan infus itu selama lima hari. Sehingga, untuk menebus cairan itu pun keluarga Indira, harus menyediakan uang sebanyak Rp112,5 juta. “Memang biaya terapinya mahal,” tutur dr Komang Yunita SpS, dokter spesialis syaraf di RSD dr Soebandi Jember, kemarin.

Dana perawatan yang tembus hingga ratusan juta rupiah, membuat orang tuanya angkat tangan. Mereka pasrah, sembari berharap ada uluran tangan dari masyarakat Jember. “Kami tidak punya uang sebanyak itu,” tutur M Taufikul Hadi, ayah Indira.

Bapak dua orang anak itu, berulang kali mengaku tak sanggup membiayai anaknya dengan uang ratusan juta rupiah. Taufikul juga tidak mau melihat anak kebanggaannya lumpuh. Semisal ada yang mau membeli ginjalnya, dia pun rela menjual untuk biaya pengobatan anaknya. “Apa pun akan saya lakukan untuk anak saya,” kata pria yang tinggal di Jalan Kaliurang, Sumbersari, Jember.

Drajad Surya Maula (teman kuliah Indira), tegas melarang ayah temannya yang berniat menjual ginjalnya. Biaya pengobatan memang besar, namun teman kuliahnya di Unej tidak mau diam. Mereka terus bergerak menggalang donasi bertajuk: “Ayo Urunan Bantu Indira Sembuh dari Penyakit GBS”.

Penggalangan donasi dilakukan secara tradisional. Membagi info berantai di media sosial. Kemudian, mengajak teman, sahabat, saudara, bahkan orang yang baru dikenal sekali pun, untuk bergerak saling membantu biaya pengobatan.

Selain itu, gerakan solidaritas mahasiswa juga dilakukan dengan memanfaatkan website khusus donasi. Website yang digunakan sudah menyebar secara nasional. Bahkan, cara berdonasi juga cukup dilakukan dengan online. “Sejak hari Kamis (16/11) pekan kemarin, sudah terkumpul dana Rp 20 juta,” ungkap mahasiswa asal Banyuwangi tersebut.

Kebutuhan biaya berobat dengan hasil donasi memang belum sebanding. Masih kurang sekitar Rp95 juta. Namun mereka tidak patah semangat. Terus bergerak menggalang dana untuk Indira. “Kami ingin Indira sembuh. Dia sahabat terbaik kami,” tuturnya.

Drajad bersama rekan-rekannya sekampus, tak akan pernah meninggalkan Indira terbaring dalam sakit. Mereka, mengatur shift jaga sekaligus berbagi peran, mengawal penggalangan donasi. Sampai nanti, Indira kembali sembuh dan mereka bisa ke kampus bersama.(jr/rul/was/das/JPR)