Menu

Centeng Kebun Korban Pembacokan Mulai Pulih, Minta Pelaku Dihukum Setimpal

(Ist)
Heri korban pembacokan kondisinya sudah pulih, menunjukkan tangannya yang diamputasi.

MetroAsahan.com, ASAHAN – Masih ingat dengan kasus yang menimpa i Heri Syahputra (38) centeng (security) kebun di Kecamatan Aek Kuasan yang menjadi korban pembacokan yang mangakibatkan tangannya putus. Saat ini kondisinya sudah mulai pulih. Meski dia harus mengikhlaskan tangan kanannya diamputasi dan menyisakan sejumlah luka jahitan di tubuhnya, ia pun meminta kepada petugas kepolisian agar mengusut dan menghukum pelaku dengan adil.

“Saya sudah ikhlas menerima semua ini. Keluarga juga sudah banyak memberikan doa dan nasehat harapan terakhir saya agar pelaku diminta untuk dihukum se adil-adilnya,” kata Heri kepada wartawan disela menerima silaturahmi Camat Aek Kuasan, Aspihan SH di kediamannya, Sabtu (9/9).

Heri pun menambahkan, selama ia menjalani masa pemulihan tetap mendapatkan dukungan baik moril maupun materi di perusahaan tempatnya bekerja dengan menanggung semua biaya perobatannya sampai di rujuk ke rumah sakit di Medan.

“Saya juga ucapkan terimakasih kepada perusahaan, dan pihak pihak lain yang membantu saya maupun keluarga,” ujar pria yang sudah mengabdi bekerja selama 17 tahun tersebut.

Sementara itu, Camat Aek Kuasan yang datang ke rumah turut menghibur Heri. Iapun mengatakan dibalik kesusahan yang dihadapi Heri telah disiapkan satu rencana yang tidak diketahuinya oleh Allah SWT. “Banyak banyak bersabar, dan yakinlah setiap cobaan ini pasti ada rencana lain dari yang maha kuasa,” jelas camat Aspihan.

Terpisah,  ketua Federasi Serikat Pekerja PT Socfindo Aek Loba Edy Syahputra mengatakan saat dikonfirmasi pihaknya berharap agar proses hukum pelaku pembacokan terhadap anggotanya diproses dan ditindak sesuai dengan hukum yang berlaku.

“Kami melalui PC (Pimpinan Cabang) F.SPSI Kabupaten Asahan telah menyurati Kapolres Asahan agar pelaku pembacokan karyawan, Heri Syahputra diproses sesuai hukum,” pintanya.

Edy Syahputra juga berharap andaikan pelaku dinyatakan kurang waras pihaknya harus tahu dulu pembuktiannya untuk bisa disampaikan kepada anggota/karyawan.  “Kita harap ada proses hukumnya, jangan sampai dilepas begitu saja yang akhirnya bisa meresahkan semua orang,” imbuhnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, peristiwa naas yang menimpa Heri Syahputra itu terjadi Jumat (4/8) sekira pukul 17.00 WIB.  Saat itu ia bersama rekannya Mulyadi (29) sedang bertugas menjaga kebun di Blok 59 Afd III. Lalu keduanya melihat Asmanto Marpaung yang merupakan warga Desa Alang Bonbon, Kecamatan Aek Kuasan masuk ke dalam perkebunan sambil membawa ontel atau egrek (alat panen buah sawit).

Semula Asmanto yang dikenal keduanya sebagai pria stres meminta buah kelapa sawit, tetapi tidak diberi. Lalu meminta rokok juga tidak diberi karena keduanya tidak punya rokok. Akhirnya Asmanto mengambil ontelnya dan mengejar sembari mengayunkan egrek dan menebas tangan kanan Heri Syahputra hingga putus. Saat korban berusaha kabur tiba-tiba terjatuh, dan saat itu Asmanto membacoki korban secara membabi buta.

Akibatnya, selain mengalami luka bacok di lengan kanan hingga putus, tangan kiri robek hampir putus, paha kiri robek, pinggang sebelah kanan luka robek juga luka robek dalam dekat ulu hati hingga mengalami lebih kurang 95 jahitan luar dalam.

“Kalau tidak saya tangkis dengan tangan mungkin leher saya yang putus, walaupun saya sudah memelas minta ampun tapi Asmanto terus menebaskan oltelnya bertubi tubi seperti orang kesurupan,” papar Heri Syahputra mengisahkan kejadian mengerikan yang dialaminya. (Per/syaf/ma)