Menu

Karaokean, Puluhan Pelajar Terjaring Razia

Petugas Satpol PP mengamankan sejumlah pelajar dalam razia kasih sayang dari warnet dan tempat karaoke

MetroAsahan.com, KISARAN – Puluhan pelajar terjaring razia kasih sayang yang digelar oleh aparat gabungan dari sejumlah tempat karaoke dan warnet di Kota Kisaran, Senin (16/10). Saat akan diamankan, para pelajar ini berdalih bahwa mereka sudah pulang sekolah lebih awal karena dalam masa ujian tapi tetap saja mereka dibawa ke kantor Satpol PP Asahan.

Bahkan, saat petugas menggiring para pelajar ini untuk dimintai keterangannya menuju kantor Satpol PP Asahan beberapa siswi terlihat menangis seakan tidak percaya pesta kecil-kecilan mereka untuk merayakan ulang tahun seorang teman di salah satu ruang karaoke keluarga yang terletak di Jalan HM Yamin harus berakhir di Kantor Satpol PP.

“Walau mereka sudah pulang sekolah, tetap saja para pelajar ini masih menggunakan seragam sekolah dan berkeliaran tidak langsung pulang ke rumah. Operasi razia kasih sayang ini bertujuan  untuk menekan angka pelajar yang membolos sekolah di jam pelajaran,” kata Siti Rosmita Hasibuan Kasi Trantibum Satpol PP saat dikonfirmasi wartawan.

Puluhan pelajar yang diamankan ini berasal dari sekolah menengah atas dan sekolah menengah pertama baik negeri maupun swasta di kota Kisaran. Di kantor Satpol PP kemudian mereka didata dan diperiksa sejumlah perlengkapan tasnya untuk menyisir dibawanya barang terlarang yang seharusnya tak dimiliki seorang pelajar.

“Para pelajar yang diduga membolos sekolah ini diamankan dari sejumlah warung internet, pusat game permaian, taman kota  sampai lokasi karaoke keluarga,” tambahnya.

Selain dilakukan pendataan identitas dan asal sekolah, para pelajar tersebut tampak dihukum fisik berlari keliling lapangan halaman kantor Satpol PP sebelum guru pembimbingnnya dari masing-masing sekolah datang menjemput siswanya.

Siti Rosmita menambahkan, razia pelajar bertajuk operasi kasih sayang ini merupakan kegiatan rutin yang digelar setiap bulannya melibatkan Polri, TNI dan Dinas Pendidikan setempat.

Sementara itu, Andre para pelajar yang terjaring menolak dirinya dikatakan membolos. Dia berdalih sedang menunggu orangtuanya pulang ke rumah dengan bermain di warnet. “Saya tak bolos pak, memang cepat pulang sekolah karena kami ujian,” ujarnya.

Selanjutnya para pelajar ini disuruh menandatangani surat perjanjian tidak akan membolos setelah mendapat jaminan lalu dijemput oleh dari orangtua dan guru di sekolah masing masing. (Per/syaf/ma)