Menu

Kepala SMKN 2 Kisaran Didemo Guru dan Siswa

Perdana Ramadhan/ METRO ASAHAN
Para siswa saat melakukan aksi unjuk rasa di sekolahnya.

ASAHAN –  Tidak dibayarnya gaji  guru honorer sejak  lima bulan yang lalu dan fasilitas ruang praktek labolatorium sekolah yang tidak bisa dipergunakan siswa menjadi pemicu aksi spontanitas demonstrasi ratusan pelajar dan guru di halaman sekolah mereka, Kamis (23/11) kemarin.  Bahkan, sehari pasca didemo warga sekolahnya sang kepala sekolah Zulfikar tidak terlihat di sekolahnya.

“Hari ini belum ada masuk pak, tapi sepertinya aktivitas belajar tetap dilaksanakan,” kata Hasibuan salah seorang guru kepada wartawan, Jumat (24/11).

Sebelumnya,  ratusan pelajar dan guru menggelar aksi unjuk rasa di halaman sekolah mereka menuntut pertanggungjawaban manajemen sekolah yang dinilai sudah carut marut  dan meminta kepala sekolah SMK Negeri 2 untuk meletakkan jabatannya karena dinilai tidak mampu  memegang jabatan.

“Kemarin pelajar dan guru melakukan aksi mogok menuntut kepala sekolah untuk mundur dari jabatannya, serta siswa menuntut belajar praktek di adakan kembali sebab sudah hampir setahun tidak melaksanakan praktek sebagaimana lazimnya sekolah kejuruan,” ujarnya.

Menurut Kepala Sekolah adapun alasan pihak sekolah tidak menggunakan ruang praktek alasan ketiadaan dana sekolah. Sementara disebut sebut aliran dana bantuan operasional sekolah (BOS) sudah diterimanya sebanyak tiga kali dengan total hampir sebesar Rp1,2 miliar.

“Karena itu, siswa yang ingin belajar praktek terpaksa mengumpulkan uang patungan lagi supaya bisa belajar,”ujarnya.

Secara terpisah kepala unit pelaksana tehnis ( Ka.UPT) Disdik Propinsi Sumut Sapri Moesa yang didampingi Irawadi sekertaris UPT Disdik Asahan mengatakan pengelolaan managemen di SMKN 2 Sei Renggas ini sudah amburadul, dana BOS sudah mereka terima dari Tri wulan 1 hingga Tri Wulan 3 sebesar Rp1,2 miliar namun bisa-bisanya kepala sekolah ini tidak dapat melaksanakan belajar pratikum pada siswanya dengan alasan ketiadaan biaya operasional. Terlebih lagi adanya lima orang tenaga guru honor yang tidak dibayar gajinya selama lima bulan.

“Permasalahan yang terjadi di sekolah ini sudah luar biasa, selain itu pimpinan sekolah ini juga terlalu egois dalam menyikapi apa yang terjadi serta pimpinan sekolah di sini tidak mau menerima saran dari bawahannya.

Untuk itu, pihaknya akan segera melaporkan hal tersebut kepada pimpian di Dinas Pendidikan tingkat I Sumatera Utara, agar situasi di sekolah bisa berjalan dengan normal.

Nyaris Adu Jotos
Kepala Unit Pelayanan Terpadu (Ka. UPT) Dinas Pendidikan Sumatera Utara, Sapri Moesa dan Kepala Sekolah SMK N 2 Kisaran Zulfikar nyaris jual beli pukulan di hadapan ribuan siswa yang melakukan aksi unjuk rasa, Kamis (23/11) sekira pukul 10.00 WIB, di halaman SMK N 2 Kisaran.
Keributan dipicu tudingan guru dan siswa yang menyebut Zulfikar tidak transparan dan melakukan manipulasi managemen keuangan sekolah, yang berakibat tidak dibayarkannya honor para guru honor di sekolah tersebut, seperti yang diteriakan siswai.

Seperti yang disampaikan S Manurung, salah seorang guru pada sejumlah wartawan mengatakan, selama kepemimpinan Zulfikar, kualitas pendidikan SMK N 2 mengalami kemunduran bahkan tenaga guru honor yang mengabdi di sekolah ini tidak dibayar honornya hingga lima bulan lamanya.

Lanjut S.Manurung, aksi “unjuk rasa” ribuan siswa anak asuhnya itu menuntut Zulfikar untuk mundur dari jabatannya, serta menuntut belajar praktek yang selama ini tidak pernah lagi harus diaktifkan lagi.

“Memang siswa sudah hampir setahun tidak melaksanakan praktek sebagaimana lazimnya sekolah kejuruan. Alasan kepala sekolah karna tidak cukup biaya untuk praktek. Sementara aliran dana BOS sudah diterima brliau sebesar Rp1,2 miliar terhitung dari Tri wulan 1 sampai tri wulan 3,” ucap Manurung.

Diakuinya lagi, siswa dalam melaksanakan belajar praktek terpaksa patungan menggunakan dana pribadi agar bisa ikut belajar praktek.

Terpisah kepala unit pelaksana tehnis ( Ka.UPT) Disdik Propinsi Sumut, Sapri Moesa didampingi Irawadi, selaku Sekertaris UPT Disdik Asahan mengakui, pengelolaan managemen di SMK N 2 Sei Renggas ini tidak benar.

Dimana, dana BOS sudah diterima, dari mulai Tri wulan 1 hingga Tri Wulan 3, sebesar Rp1,2 miliar dari pagu Rp1,6 miliar.

“Kan aneh. Dana BOS udah diambil, bisa bisanya kepala sekolah ini tidak dapat melaksanakan belajar pratikum pada siswanya dengan alasan ketiadaan biaya operasional, terlebih lagi adanya lima orang tenaga guru honor yang tidak dibayar gajinya selama lima bulan,” ucapnya dengan raut wajah kesal.

Bahkan menurutnya, permasalahan yang terjadi di SMK N 2 Kisaran sudah luar biasa. Selain pimpinan sekolah terlalu egois dalam menyikapi apa yang terjadi, kepala sekolah juga tidak mau menerima saran dari bawahannya.

“Kami akan membawa serta melaporkan apa yang terjadi disekolah ini pada pimpinan di Dinas Pendidikan tingkat I Sumut. Walaupun tadi kepala sekolah ngaku bisa nangani permasalahan ini, tapi saat kita desak batas waktu menyelesaikan beliau malah tidak bisa memastikanpungkasnya,” akhirnya pada sejumlah wartawan.

Info diperoleh, aksi unjuk rasa di SMK N 2 Kisaran bukan kali ini saja terjadi. Jauh sebelum siswa/i melakukan mogok belajar seperti hari ini, sejumlah guru, khususnya guru honor pernah melakukan aksi serupa.

“Pas itu kami unjukrasa biar honor kami dibayarkan. Dia (zulkifli) waktu itu janji akan bayar tanggal 30 bulan ini,” ucap seorang guru honorer pada awak koran ini, minta identitasnya disembunyikan. (Per/ind/syaf)