Menu

Ditemukan di Labusel, Tapir Ini Dirawat di Paluta

Istimewa
REHABILITASI - Hewan langka Tapir yang masuk ke pemukiman warga di Kota Pinang sudah dirawat dan direhabilitasi di Barumun Nagari Wildlife Sanctuary (BNWS), Paluta, Selasa (19/12).

MetroAsahan.com – Satwa langka Tapir yang ditemukan masuk ke pemukiman warga di Kampung Kristen, Kota Pinang, Labuhan Batu Selatan (Labusel), saat ini sudah dirawat dan direhabilitisasi di BNWS Paluta, Selasa (19/12).

Kepala Seksi Konservasi Wilayah VI Kota Pinang (Labusel) Darmawan memaparkan, awalnya informasi tentang keberadaan satwa langka tapir ini diterima dari petugas KPH wilayah VII.

“Informasi yang kita dapat, satwa langka dan dilindungi ini masuk ke perkampungan masyarakat dan berhasil ditangkap kemudian diikat,” ujarnya, Selasa (19/12).

Selanjutnya, setelah berkoordinasi dengan Dinas Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Labusel, satwa tapir yang sempat dirawat warga kemudian dibawa ke Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswas) Pemkab setempat.

” Sempat dirawat dan diamankan warga, kemudian dibawa ke Pusat Kesehatan Hewan Pemkab Labusel untuk diamankan,” tukasnya dan selanjutnya berkoordinasi dengan Tim dari Bidang Konservasi Wilayah III Padangsidimpuan.

Mendapat informasi temuan tersebut, Tim Konservasi Padangsidimpuan bersama dokter hewan dari BNWS langsung turun ke lokasi.”Saat dilakukan pemeriksaan awal, kondisi tapir tampak mengalami trauma berat, dan sejumlah luka dibagian tubuh serta kuku,” jelas Darmawan yang mengaku tapir yang ditemukan berjenis kelamin jantan dan berumur sekitar empat tahun.

Kemudian, untuk memulihkan kondisi kesehatan, hewan langka dengan nama latin Tapiru Indicus ini dibawa ke BNWS di Paluta untuk direhabilitasi. “Kondisinya sampai saat ini masih trauma, dan perlu perawatan yang cukup agar dapat pulih dan kemudian dilepasliarkan kembali (release),” ungkapnya.

Kata Darmawan, lokasi penemuan tapir merupakan perkampungan yang jauh dari kawasan hutan. Dan hampir keseluruhan merupakan areal perkebunan sawit dan karet.

“Kondisi perkampungan tempat tapir ditemukan jauh dari habitat hewan. Apalagi, disekitar perkampungan adalah areal perkebunan sawit dan karet,” ucapnya.

Ia juga mengaku, berdasarkan keterangan warga, masih ada tapir lainnya yang sering ditemukan warga melintas di areal tersebut. “Masih ada dua ekor lagi, dan berada di areal perkebunan. Untuk itu kita imbau kepada masyarakat untuk tidak melakukan perbuatan apapun yang dapat melukai apalagi sampai menghilangkan nyawa hewan tersebut,” pungkasnya. (yza)