Menu

Spanduk di Vihara Tolak Kekerasan Rohingya

Ilustrasi

MetroAsahan.com, RANTAU – Sejumlah Vihara di Labuhanbatu memasang spanduk penolakan aksi kekerasan di Rohingya, Myanmar, Minggu (10/9).

Amatatan wartawan, spanduk penolakan kekerasan di Myanmar itu dipajang persis di depan pintu masuk sejumlah vihara.

Seperti yang terlihat di Vihara Buddha Jayanti Jalan Gatot Subroto Rantauprapat. Di Vihara ini, tampak terpajang spanduk  bertuliskan “Ummat Buddha Vihara Buddha Jayanti prihatin dan mengesalkan serta mengutuk aksi kekerasan di Rakhine-Myanmar. Kami Harapkan Ummat Buddha Labuhanbatu turut mendoakan dan membantu saudara-saudara kita kaum Muslim di Rakhine Myanmar agar terbebas dari penderitaan’.

Spanduk penolakan juga tampak terpajang di Vihara Pek Kong Jalan Sanusi Rantauprapat dan Vihara Avalokitesvara Jalan asam Jawa Rantauprapat.

Kedua vihara ini memajang spanduk dengan tulisan ‘Kami Sangat Prihatin, Menentang Keras dan Mengutuk Keras Kejadian di Rakhine-Myanmar’.

Sebelumnya, Majelis-majelis agama Budha di Labuhanbatu menyatakan sikap mengutuk pelaku krisis kemanusiaan di Rohingya, Myanmar, Kamis (7/9).

Dalam delapan poin pernyataan sikapnya, Majelis agama Budha Labuhanbatu melihat eskalasi krisis dan konflik kekerasan yang terjadi tidak kunjung mereda dan berdampak buruk.

“Maka dengan ini kami pimpinan Majelis Agama Budha menyatakan keprihatinan mendalam atas krisis kemanusiaan Rohingya, Myanmar,” ujar Pemuka Agama Budha Labuhanbatu Gunawan di Bundaran Simpang Enam, Rantauprapat ketika berbaur dalam aksi peduli Rohingya bersama AL UOIS (Aliansi Ummat dan Organisasi Islam) Labuhanbatu.

Gunawan dihadapan ratusan massa yang turut dalam aksi, terdiri dari sejumlah elemen ormas Islam mengatakan krisis Rohingya bukanlah konflik agama, melainkan konflik sosial dan kemanusiaan.

Mereka, kata Gunawan mendesak Pemerintahan Myanmar untuk memberikan perlindungan, bantuan dan hak asasi dasar kepada masyarakat Rohingya.

“Kami sangat mengharapkan pemerintah Indonesia menjamin umat beragama untuk beribadah dengan tenang dan aman, serta menjamin keamanan terhadap rumah ibadah yang berada di Indonesia,” ujarnya membacakan petikan sikap pimpinan majelis agama Budha Indonesia terhadap konflik Rohingya. (nik/rah)