Menu

Polisi Menunggu Hasil Visum Kejahatan Seksual Sang Ayah

GideonAritonang / MSG.
Korban yang masih mengenakan seragam sekolah didampingi perwakilan Dinas Sosial dibawa ke ruang Perlindungan Anak.

MetroAsahan.com, SIANTAR – Polisi belum menindak pelaku dugaan tindak kejahatan seksual yang dilakukan terhadap SS(11), murid SD kelas V. Polisi beralasan belum memegang hasil visum yang dilakukan di RSUD dr Djasamen Saragih Pematangsiantar.

Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Ipda Herlinda Damanik yang ditemui di Mapolres Siantar, Selasa (10/10) mengatakan, pihaknya sampai saat ini masih menunggu hasil visum dari rumah sakit.

“Kita masih menunggu hasil visum dari Rumah Sakit. Hasil visum kemaluan korban belum keluar. Biasanya seminggu lah, paling cepat tiga hari,” ujarnya.

Sementara Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait angkat bicara terkait kasus pelecehan seksual yang diduga dilakukan pria berinisial AB, yang merupakan ayah kandung korban.

“Atas peristiwa bejat ini dan demi kepentingan terbaik bagi korban, Komisi Nasional Perlindungan Anak sebagai lembaga independen yang memberikan pembelaan dan perlindungan anak di Indonesia mendesak Polres Siantar sesuai dengan kewenangannya untuk segera menangkap, menahan dan menjerat pelaku dengan ketentuan UUU RI Nomor 17 Tahun 2016 tentang penerapan Peraturan Pengganti Undang-undang (Perpu) Nomor 1 Tahun 2016 tentang perubahan kedua UU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak junto ketentual pasal 82 ayat 1, 3 dan 4 UU RI Nomor 35 Tahun 2014,”tegas Arist melalui pesan singkat WhatsApp.

Menurut Arist,Lembaga Komnas PA sangat menyayangkan perbuatan bejad yang diduga dilakukan ayah kandung tersebut. Menurutnya, seorang ayah seharusnya menjadi pahlawan bagi anaknya terutama anak perempuan.

Kejadian ini ditakutkan akan menjadi mala petaka bagi si anak, terutama untuk masa depannya dan lingkungan sekitar.
“Kejahatan kemanusiaan ini tidak bisa ditoleransi, apalagi kejahatan seksual ini dilakukan oleh orangtua kandungnya sendiri. Ayah yang sesungguhnya sebagai pahlawan bagi anak-anaknya, malah justru berubah menjadi monster dan sumber mala petaka yang merusak masa depan anak kandungnya sendiri,” beber Putra asli Kota Siantar ini.

Sebelumnya diberitakan, curhat kepada temannya, sesama murid kelas V Sekolah Dasar (SD), menjadi awal terungkapnya kejahatan seksual yang menimpa SS (11). Miris, pelakunya diduga ayah kandungnya sendiri, AB.

Warga Kelurahan Bah Kapul, Kecamatan Siantar Sitalasari ini, bercerita kepada temannya beda sekolah, bahwa dirinya sering menjadi korban kejahatan seksual yang dilakukan ayah kandungnya di rumah mereka sendiri. Di rumah tersebut, SS tinggal bersama ayahnya AB dan neneknya. Sementara ibunya, sudah bercerai dengan ayahnya dan tidak tinggal dengan mereka.

Curhatan dari SS, kemudian diceritakan temannya kepada guru agama di sekolahnya. Guru agama tersebut menyampaikan informasi tersebut kepada guru agama tempat korban bersekolah dan diteruskan langsung kepada kepala sekolah. Informasi awal tersebut kemudian diperjelas si guru dengan menanyakan langsung kepada si korban.

Awalnya korban enggan, namun setelah temannya curhatnya dipanggil, secara gamblang SS menceritakan kejadian yang menimpa dirinya. Pihak sekolah pun akhirnya memanggil nenek korban, dan diakui neneknya mengetahui bahwa pelaku telah mencabuli korban. Nenek korban yang ditaksir berumur 80 tahun, mengaku enggan melaporkan anaknya karena tak ingin anaknya di penjara.(cr05/esa/ma)