Menu

Terkait Pelecehan Seksual Ayah Terhadap Putrinya, Keterangan Perwira Polres Siantar Berbeda

GideonAritonang / MSG.
Korban yang masih mengenakan seragam sekolah didampingi perwakilan Dinas Sosial dibawa ke ruang Perlindungan Anak.

MetroAsahan.com – Pasca pelaporan seorang ayah yang diduga melakukan pelecehan seksual terhadap putrinya yang masih berusia 11 tahun, dua perwira menengah Polres Siantar yaitu AKP Restuadi dan Ipda Herlinda Damanik mengungkapkan keterangan yang berbeda.

Pada Rabu 11 Oktober 2017 siang, AKP Restuadi yang menjabat sebagai Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasat Reskrim) mengatakan kepada awak media, jika hasil visum seorang anak berinisial SS sudah keluar.

Dari hasil pemeriksaan dokter Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Djasamen Saragih menyatakan jika kemaluan SS tidak terdapat luka dan bekas akibat disetubuhi. Dengan demikian keterangan yang mengatakan jika SS telah dijadikan budak seks oleh AB, yang merupakan ayah kandungnya tidak terbukti.

“Hasil (Visum) nya udah keluar, (hasilnya) negatif. Kan uda ku kasih sama si Tahan, biar berita kalian itu satu. Jangan yang ini bilang A, yang lain bilang B,”kata Restuadi saat berada di depan ruang kerjanya.

Sementara setelah itu, keterangan berbeda juga dikatan Ipda Herlina Damanik. Wanita yang menjabat sebagai Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) ini mengatakan hal sebaliknya. Sambil menyarankan agar awak media tidak mendengarkan perkataan orang lain, kanit yang baru menjabat seminggu ini menegaskan jika hasil visum anak berinisial SS belum keluar.

“Kita tidak bisa berbicara seperti itu kalau belum keluar (Hasil visum). Ke arah kesana (Hasilnya negatif) kita belum bisa memastikan kalau hasil visum belum keluar. Paling lambat hasilnya itu tiga hari atau seminggu,”ucap Herlina ketika ditemui di ruang kerjanya.

Dia dengan terang menjelaskan jika pihak keluarga SS tidak ada yang keberatan dengan kasus yang dilaporkan ini. Walau demikian, Herlina menegaskan, laporan tersebut tetap diterima meskipun pihak keluarga tidak keberatan.

Lanjutnya, didalam Undang undang, setiap warga Negara yang melihat, mendengar dan menyaksikan tindak pidana berhak melaporkan kepada pihak yang berwajib, dalam hal ini Kepolisian.

“Ya itu tadi, pihak keluarganya pun tidak ada yang keberatan. Tapi laporan tetap kita terima. Yang melaporkan pihak sekolah dan dinas sosial,”terangnya.

Disinggung tentang adanya tindakan yang tidak di inginkan dari pihak keluarga terhadap SS sebelum adanya kepastian hukum, Herlina mengatakan jika sampai surat hasil visum belum keluar, Kepolisian tidak dapat berbuat apa apa. Sementara jika hasil itu sudah keluar, Kepolisian berhak membawa SS untuk sementara diamankan ke tempat lain.

Untuk masalah penyelidikan yang saat itu dilakukan pihak Kepolisian, sampai saat ini, penyidik telah meriksa beberapa orang saksi, termaksud pihak sekolah dan dinas sosial. Dimana di dalam hal ini, yang membuat laporan pengaduan adalah pihak sekolah bersama dinas sosial.

Terhadap terlapor dan nenek dari SS, secepatnya akan dilakukan pemanggilan. Pihak kepolisian akan memintai keterangan ayah dari SS yang didalam kasus ini adalah terlapor dan neneknya dalam minggu ini. (cr-05)