Menu

10 Ribu Nelayan di Tanjungbalai Terancam Kelaparan

Nelayan membongkar hasil tangkapan ikan di pelabuhan. Nelayan tradisional mengharapkan agar kapal pukat trawl dan harimau yang beroperasi di Selat Malaka ditertibkan karena bisa mengancam penghasilan mereka.

MetroAsahan.com, TANJUNGBALAI – Nelayan tradisional dari kelompok Jaring Puput mengeluhkan penurunan hasil tangkapan mereka. itu karena kapal ikan jenis pukat trawl masih sering melakukan tangkapan di perairan Selat Malaka dan di Pulau Berhala. Akibatnya sedikitnya ada 10 ribu nelayan tradisional di Tanjungbalai, Asahan, dan Batubara yang terancam kelaparan.

Itu dikatakan nelayan tradisional Ayub (41), Kohir (46), dan Amri (34). Menurut ketiganya, sudah sering para nelayan pulang dengan tangan kosong. Selain itu, sudah sering para anak buah kapal pukat trawl mengancam mereka. Para nelayan mengaku sudah sering melaporkan masalah ini kepada instansi terkait namun hingga kini aksi pengancaman yang dilakukan para nelayan pukat trawl tetap terjadi.

“Ini peristiwa yang ke sekian kalinya kami alami. Sepertinya tidak ada lagi penegak hukum yang ditakuti para nelayan pukat trawl di wilayah Selat Malaka ini. Kami minta agar Persatuan Nelayan Tradisional Indonesia (PNTI) mendesak aparat penegak hukum lebih bertanggungjawab terhadap keamanan di laut,” kata Ayub.

Menurut Ayub, selain mengadukan ancaman yang dilakukan nelayan pukat trawl ke Dinas Kelautan, pihaknya juga sudah melaporkan kasus ini ke Dewan Pimpinan Daerah Persatuan Nelayan Tradisional Indonesia (DPD PNTI).

Menurut para nelayan, kapal pukat tarik II dan pukat harimau masih marak beroperasi di perairan Tanjungbalai-Asahan. Kondisi ini, mengakibatkan para nelayan semakin sulit untuk memeroleh tangkapan ikan.

Menurut mereka, setiap harinya ada puluhan kapal pukat grandong yang masih terus kelihatan mengganas menangkap ikan. Bahkan pukat grandong merampah lokasi tangkapan ikan nelayan tradisional. Kondisi ini membuat nelayan tradisional yang menggunakan jaring kecil dan alat pancing kesulitan mendapatkan ikan.

Rizal (47) nelayan lainnya mengatakan, alat tangkap pukat grandong milik kapal modren itu, tidak hanya menguras segala jenis ikan yang terdapat di laut, tetapi juga memasuki kawasan daerah tangkapan nelayan kecil.

Zona wilayah tangkapan nelayan tradisional yang hanya berapa mil jaraknya dari pinggir pantai. Oleh karena itu, kata Rizal, nelayan kecil yang menangkap ikan di zona tersebut tidak mendapatkan apa-apa, kadang-kadang pulang dari melaut tanpa membawa ikan, melainkan rasa kecewa.

Nelayan kecil itu, juga sudah sering mengingatkan kepada tekong kapal yang mengoperasikan jaring grandong itu, agar jangan lagi memasuki wilayah tangkapan mereka. Menurut Rizal, jika situasi ini tidak secepatnya diatasi pemerintah, maka ribuan nelayan yang berasal dari Tanjungbalai, Asahan akan terancam kelaparan. (syaf/ma)