Menu

Ibu Ini Bawa 1.200 Butir Ekstasi

ISHAK LUBIS/ METRO ASAHAN
Tersangka Maulizar saat memperlihatkan barangbukti 1.200) pil ektasi.

MetroAsahan.com, TANJUNGBALAI – Seorang ibu rumah tangga mengenakan hijab coklat, Maulizar (36), harus berurusan dengan Satnarkoba Polres Tanjungbalai. Pasalnya, warga Desa Cut, Kecamatan Titeue, Kabupaten Pidie, Provinsi NAD ini nekat membawa 1.200 butir pil ekstasi.

Kapolres Tanjungbalai, AKBP Try Setyadi Artono melalui Kasubbag Humas Iptu Djumadi kepada wartawan, Senin (11/12) memaparkan, sebelumnya pihak kepolisian mendapat informasi dari masyarakat bahwa ada seorang wanita bernama Maulizar, telah melakukan transaksi 1.200 butir pil ekstasi di Jalan Tembaga, Kampung Baru, Tanjungbalai.

Mendapat informasi itu, Kapolres melalui Kasat Narkoba, AKP Adi Hartono langsung memerintahkan tim personilnya melakukan penyelidikan ke tempat kejadian perkara (TKP).

Setibanya di TKP awal, sambung Iptu Djumadi, tersangka dengan ciri berbadan gemuk, memakai pakaian kemeja lengan panjang dan berhijab coklat itu tidak ditemukan lagi di lokasi transaksi.

Kemudian tim Sat Narkoba melakukan pengejaran ke daerah Simpang Kawat Asahan. Wanita tersebut pun terlihat di dalam sebuah loket bus antar Provinsi sedang duduk sambil memegang sebuah tas.

Kemudian petugas langsung melakukan penggeledahan. Ditemukanlah dua bungkus plastik transparan berisi narkotika jenis ekstasi di dalam sebuah tas milik tersangka.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, tersangka yang diduga merupakan sindikat jaringan narkotika antar provinsi ini diamankan di Mapolres Tanjungbalai guna kepentingan proses sidik.

Selain dua bungkus plastik transparan berisi 1.200 butir pil ekstasi, polisi juga menyita satu bungkus kotak wafer warna coklat dan satu buah tas kain merk Crocs warna putih.

Terpisah, tersangka Maulizar saat menjalani pemeriksaan dihadapan petugas mengakui bahwa ribuan pil ekstasi itu akan dibawanya ke Palembang.

“Pemiliknya bernama si Akim. Rencananya ribuan butir pil ekstasi itu akan saya serahkan kepada Fahmi yang berada di Palembang,” ujarnya sembari menangis menyesali perbuatannya dan teringat keluarga dan anak-anaknya di kampung.

Dirinya berharap kepada pak jaksa tidak mengajukan tuntutan yang berat dan juga berharap kepada pak hakim untuk menjatuhkan vonis ringan. (ilu)