Menu

Petinju Labuhanbatu Raih Medali Emas

Atlet tinju Labuhanbatu Grece Savon Simangunsong berfoto bersama dengan Ketua KONI Sumut

MetroAsahan.com, RANTAU – Dua atlet tinju Labuhanbatu berhasil meraih prestasi dalam kejuaraan daerah (Kejurda) Tinju Elite di Tarutung pada 26-29 Juli 2017.

Mereka adalah Grece Savon Simangunsong peraih medali emas putra kelas 69 kg dan Bima yang meraih medali perunggu putra kelas 60 kg. Kepada wartawan, Grece Savon Simangunsong mengatakan kalau kemenangan yang diraih bukan tanpa perjuangan yang mudah. Sebab untuk mengikuti Kejurda tersebut, mereka tak mendapat dukungan dari pihak manapun, kecuali keluarga.

“Kami atlet yang meraih medali emas dan perunggu pada Kejurda Tinju Elite di Tarutung tidak ada bantuan dari pihak manapun, semua biaya sendiri,” sebut Grece Savon Simangunsong, Minggu (6/8).

Meski begitu, Savon mengaku kalau hal itu tak mengurangi sedikit pun semangat mereka untuk bertarung mengikuti Kejurda Tinju Elite tersebut. Malah, ketiadaan dukungan itu dijadikan pemicu bagi mereka untuk meraih prestasi.

“Tentunya atas dukungan kedua orangtua dan kakek saya,” ungkapnya.

Kakek Savon, B Simangunsong selaku sesepuh olahraga di Labuhanbatu, menyesalkan kurangnya perhatian pemerintah dan pihak-pihak terkait terhadap atlet berprestasi.

“Pada saat saya ketua Pertina Labuhanbatu, belum pernah terjadi seperti ini,” kesal B Simangunsong.

Dia berharap supaya tidak terjadi lagi hal serupa di kemudian hari. Menurutnya, pihak-pihak terkait harus memperbaiki sikap dengan memberi perhatian serius terhadap atlet berprestasi. Kalau masih terulang, ia khawatir atlet berprestasi dari Labuhanbatu akan ramai-ramai pindah ke daerah lain, terlebih dalam menghadapi Pordasu tahun 2018.

“Saya khawatir prestasi olahraga daerah ini akan menurun kalau terus begini. Atlet harus dibantu, pelatihnya juga harus dibantu,” ujar B Simangunsong yang 40 tahun mengurusi Pertina Labuhanbatu.

Dia menyebut, perhatian yang kurang membuat atlet berprestasi ada yang pindah ke daerah lain. Salah satunya, Suzen Ramsi Simangunsong, petinju wanita Labuhanbatu yang juga cucu B Simangunsong, pindah ke Bekasi Jawa Barat.

Pada kesempatan itu, ayah Savon, Hendrik Simangunsong, mantan petinju juara Asia, mengaku tidak pernah mengalami seperti yang dialami putranya. Ia sangat kesal tidak adanya perhatian dan kepedulian pemerintah dan pihak-pihak terkait terhadap atlet yang membawa nama daerah.

“Ini rencana Savon akan berangkat mengikuti kejuaraan oven antarsasana se Indonesia di Jakarta pada 20 Agustus 2017, yang bergelar Rocky Fight. Kita lihat, ada atau tidak perhatian pemerintah, KONI dan Pertina terhadap ini,” ujarnya.

Sementara seperti diberitakan, dua atlet tinju Labuhanbatu mengikuti Kejuaraan Daerah (Kejurda) Pertina Sumut yang berlangsung di Tarutung, Tapanuli Utara, 26-29 Juli 2017. Ironisnya, atlet berprestasi membawa nama daerah tersebut harus bertarung dengan menggunakan biaya pribadi lantaran tak mendapat dukungan dari KONI Labuhanbatu.

“Ini sangat-sangat kita kesalkan. KONI yang seharusnya turut berperan, malah tak mendukung atlet berprestasi yang akan bertarung membawa nama Labuhanbatu di tingkat propinsi,” ujar Wakil Ketua Umum Persatuan Tinju Amatir Indonesia (Pertina) Labuhanbatu, Tavip Simangunsong, Kamis (27/7) di Rantauprapat.

Menurut Tavip, setidaknya ada 7 atlet tinju berprestasi yang patut mengikuti Kejurda di Tarutung. Namun karena keterbatasan biaya, pihaknya hanya mampu mengirimkan 2 dua atlet saja, Savon Simangunsong dan Bima, yang diberangkatkan pada Selasa (25/7) malam.

“Mereka harus berangkat mendadak karena minimnya biaya. Dan begitu sampai Rabu (26/7) kemarin, atlet kita Sapon Simangunsong langsung bertanding melawan petinju asal Tebing Tinggi,” ucapnya.

Meski tak memiliki waktu istirahat yang cukup seperti atlet lainnya, Sapon pun, sambung Tavip, berhasil menang KO mengalahkan petinju asal Tebing Tinggi  itu.

“Bayangkan saja, tanpa istirahat mereka tetap bertanding. Inilah perjuangan mereka membawa nama Labuhanbatu,” ucapnya.

Padahal, lanjut Tapiv, dua pekan sebelum jadwal Kejurda, pihaknya sudah melayangkan surat permohonan bantuan dana kepada KONI Labuhanbatu.

“Tapi permohonan kita ditolak KONI dengan alasan tidak ada biaya lantaran kegiatan mengikuti Kejurda ini tidak masuk dalam anggaran. Lantas, untuk apa dan kemana anggaran KONI yang mencapai milyaran rupiah itu,” kesalnya.

Alasan itu pun, menurut Tavip, berbanding terbalik dengan misi penyelenggaran PORKAP yang baru saja diselenggarakan KONI Labuhanbatu dengan menghabiskan anggaran sekitar tujuh ratusan juta rupiah.

“Tujuan Forkap itu untuk menjaring atlet berprestasi agar dapat mengikuti kejuaraan tingkat daerah maupun nasional. Nah, saat ada peluang seperti ini, mengapa tidak didukung,” kesalnya lagi. (bud/nik/rah)