Desa Bengkel, Pusat Kuliner Dodol Rindukan Pemudik

Share this:
Pusat jajanan dodol di Perbangunan, Serdang Bedagai (Sergai) Sumatera Utara yang siap melayani pemintaan pemudik.

SERGAI – “Habis Manis Sepah Dibuang” sepertinya layak ditujukan kepada sentra pusat kuliner UMKM dodol di Desa Bengkel, Kecamatan Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai, yang kini dilupakan.

Berada di Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) persisnya di Kilometer 43-44. Sejak puluhan tahun kawasan ini kerap disinggahi orang yang melintas menggunakan mobil maupun para penumpang angkutan dari berbagai daerah karena letaknya tepat berada di sepanjang Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum).

Desa Bengkel merupakan tempat favorit bagi warga maupun pemudik yang menyukai jajanan atau kuliner khas setempat sambil beristirahat sejenak ketika melintas di jalan lintas tersebut. Sepanjang jalan mulai dari perlintasan kereta api hingga sampai ke tikungan Bengading, sejauh 500 meter tampak kiri dan kanan berjajar kios-kios yang menjual dodol disepanjang sisi Jalan Lintas Sumatera.

Dodol merupakan salah satu produk unggulan di desa itu dengan berbagai rasa seperti rasa dodol original (biasa), pandan dan durian.
Namun, kini pusat kuliner UMKM dodol itu bakal tinggal kenangan akibat menurunnya permintaan dan daya beli.

Para pedagang dodol di kawasan Desa Bengkel mengeluhkan berkurangnya nilai penjualan produk dodol mereka sejak beroperasinya jalan tol Medan-Tebing Tinggi.

Penyebabnya banyak penumpang angkutan dan pengendara mobil yang tidak sempat singgah karena melintas di jalur tol. Akibat sepinya pembeli saat ini ada 30 dari 80 kios yang tutup.

Turunnya permintaan dan menurunnya daya beli masyarakat menjadi faktor pengusaha dodol menutup kiosnya.

Salah seorang pengusaha dodol Bengkel Ridwan Sinaga yang sudah berjualan selama 28 tahun mengatakan para pedagang berharap pemudik Lebaran nantinya dapat datang ke Pusat UMKM kuliner dodol dan membelinya sebagai oleh-oleh.

“Kami sebagai pedagang dodol ini pasti mengharapkan para pemudik yang pulang kampung untuk singgah ke sini karena kami ini kan tidak jualan di dalam atau di sekitar jalan pintu tol maupun di pasar,” katanya.

Ia menyampaikan harapan agar para pemudik nantinya singgah ke pusat UMKM kuliner dodol yang selama ini sepi pembeli akibat dampak hadirnya jalan tol Medan-Tebing Tinggi.

“Hidup segan mati tidak mau”, Itulah yang dialami para pedagang dodol yang selama ini selalu berfikir untuk bertahan hidup.
Meskipun harga bahan baku mahal para pedagang dodol tetap mempertahankan harga jual seperti biasa.

“Walaupun kami kurang dan untungnya dikit, iya, tidak apa-apalah yang penting penjualan lumayan,” katanya.

Ridwan berharap pemerintah daerah peduli terhadap pusat UMKM kuliner dodol Bengkel yang dulunya sempat jaya dan selalu ramai dikunjungi wisatawan.

“Akibat sepinya pembeli, saat ini masih ada bertahan. Sisanya, memilih keluar dan mencari profesi yang lain,” sebutnya.

Keluhan yang sama juga disampaikan oleh Bu Ani pedagang lainnya menambahkan dirinya untuk menyiasati sepinya pengunjung di desa Bengkel harus berjualan keliling demi mendapatkan penghasilan.

“Kalau tidak begitu, dagangan saya tidak akan laku. Kalau mengandalkan orang datang ke sini juga tidak mungkin, jangankan untuk membeli orang lewat aja nggak ada,” kata ibu empat anak dengan nada sedih. (ant)

Share this: