Menu

Kejayaan Apel Malang Sudah Menjadi Cerita Masa Lalu

Istimewa
Apel Malang

Popularitas apel Malang mulai redup. Tidak seperti di era 1980 hingga 1990-an. Saat itu, populasi buah yang kali pertama ditanam oleh Ir Ghert, warga Belanda di Pujon, Kabupaten Malang, itu begitu besar, melimpah.

Namun, kini jumlah pohonnya jauh menurun. Bahkan di Malang sendiri, penjualan apel Malang sudah kalah oleh gempuran apel impor. Kenapa ini bisa terjadi?

Rumah megah berjajar di sepanjang jalan Desa Gubugklakah, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang.

Di setiap rumah, rata-rata terparkir kendaraan roda empat. Pemandangan itu menunjukkan jika warga desa ini bisa dibilang makmur secara ekonomi.

Ya, kondisi itu tidak lain berkat keberhasilan warga yang mayoritas menjadi petani apel. Kehidupan warga begitu sejahtera dari buah apel.

Namun, sekarang kejayaan buah apel itu sudah menjadi masa lalu. Warga Poncokusumo yang dulunya menjadi petani apel, sekarang beralih ke pohon jeruk. Jumlah pohon apel yang dulu hingga 1 juta pohon, kini tersisa tinggal 300 ribuan. ”Sekarang sudah jarang yang menanam apel. Terakhir masa keemasan apel di sini pada 2000 silam,” terang Azhari Anwar, tokoh petani apel Poncokusumo.

Dia menjelaskan, masuknya tanaman apel ke Poncokusumo pada 1964. Saat itu yang memelopori menanam yaitu (alm) H. Maskur, Joyo, Masram, Suwi, dan Trisno.

Mereka sebelumnya belajar menanam apel ke tuan Kriben, petani sukses di Nongkojajar, Kabupaten Pasuruan. ”Awalnya hanya ditanam di sekitar rumah. Dan hasilnya bagus. Akhirnya warga ikut menanam di kebun,” ungkapnya.

Percobaan menanam apel pun sukses. Hasil panen juga melimpah. Untuk satu hektare lahan bisa menghasilkan 30 ton buah apel.

Akhirnya para tetangga pun ikut menanam hingga mayoritas petani di Poncokusumo menanam apel. Namun, semua berubah setelah 2000 silam.

Hasil panen menurun drastis. Untuk lahan 1 hektare hanya mampu menghasilkan 5 ton apel. Padahal, biaya operasional relatif mahal.
Setiap hektare butuh biaya Rp 14 juta. Artinya, dengan harga jual sekitar Rp 5 ribu per kilogram, hasil yang didapat per hektare Rp 25 juta. Itu belum termasuk jika ada risiko hama penyakit yang banyak sekali. ”Nggak nutut untuk operasionalnya. Makanya sejak delapan tahun lalu, banyak petani banting setir menanam jeruk,” imbuh pria kelahiran 17 Mei 1959 ini.

Azhari mencontohkan, dirinya dulu memiliki delapan hektare lahan kebun apel. Kini semua sudah dia ganti dengan pohon jeruk. ”Karena sudah nggak memungkinkan (tanam apel). Sulit,” terang pria lima putra ini.

Sementara itu, Suroso Budi, petani lain hingga kemarin masih bertahan menanam apel. Dia memiliki lahan 1 hektare. Dia mengaku terpaksa menanam apel karena tidak ada pilihan.

”Sambil berharap ada kenaikan harga karena sudah sedikit yang menanam apel,” ungkap pria yang menanam apel sejak 1980 ini.

Era tahun 1980-an, harga apel hanya Rp 250–Rp 500 per kilogram. Namun, kala itu biaya operasional pertanian juga tidak semahal sekarang.

Dulu tanpa pestisida dan pupuk, hasil panennya sudah melimpah. Sedangkan harga kebutuhan pokok juga relatif rendah.

”Dulu tidak banyak penyakit, kalau sekarang musim penyakit dan hamanya berbeda-beda,” ujarnya. Kondisi serupa terjadi di Kota Batu. Jumlah pohon apel terus menurun drastis dibanding lima tahun sebelumnya.

Dari data Dinas Pertanian Kota Batu, jumlah tanaman apel pada 2012 lalu masih di atas 1 juta pohon. Kini tercatat tinggal 970 ribu pohon.

Kabid (Kepala Bidang) Hortikultura, Dinas Pertanian Kota Batu Yayat Supriyatna menjelaskan, era 1990-an tanaman apel menyebar hingga di Pendem dan Junrejo.

Namun, kini sentra apel tinggal ada di Bumiaji. ”Karena global warming, suhu naik 1–2 derajat dibanding dulu (kini 22 derajat Celcius). Selain itu, apel juga tidak cocok di ketinggian tanah di bawah 700 mdpl (meter di atas permukaan laut) itu susah, dulu masih bisa,” kata Yayat.

Untuk diketahui, di Kota Batu, ketinggian tanah di atas 700 dpl (di atas permukaan laut) tinggal di Bumiaji. Suhunya relatif lebih dingin dibanding daerah lain.

Jadi, tanaman apel yang bisa berbuah, banyak tumbuh di Bumiaji. Sedangkan di daerah lain, tanaman bisa hidup subur, tapi produktivitas buahnya minim.

Yayat menyebut, apel adalah tanaman yang cukup sensitif dengan perubahan suhu. Karena sebenarnya apel itu tanaman subtropika atau yang hidup di negara empat musim.

”Kalau di sini bisa hidup, tapi ya bergantung dengan suhu dan hasil rekayasa pengguguran daun atau rompes,” terang dia. Menurunnya jumlah tanaman apel itu dampak dari penggunaan pupuk kimia dan pestisida yang berlebihan pada puluhan tahun lalu.

Dampaknya, tanahnya saat ini keras dan rusak. Dulu, petani hanya menggenjot produktivitas dengan menggunakan pestisida, tapi tidak memikirkan risiko kesuburan tanah.

Tingkat keasaman (pH)) juga rendah: Kisaran 4–5. Padahal, idealnya pH 5–6. ”Jadi, tanahnya terlalu asam. Ini yang tidak diperhatikan petani,” sebut Yayat.

Kendala petani apel lain adalah hama dan penyakit. Sebenarnya ada hewan organisme alami yang bisa melawan hama dan penyakit. Namanya hewan kepik. Namun, karena petani terlalu banyak memakai pestisida, kepiknya ikut mati.

Peneliti Madya Balitjestro Ir Suhariyono MBA menambahkan, yang merusak apel di Batu juga kutu sisik. Hama ini bisa dibilang sangat bandel dan susah diatasi.

Keluarnya saat menjelang matahari terbit dan bentuknya yang mempunyai sisik atau cangkang sehingga tidak akan mati jika disemprot pestisida biasa.

”Jadi, sebelum matahari terbit itu mereka keluar, lalu menempel di batang dan mencengkeram ke pohon,” kata pria berusia 61 tahun ini.

Saat sudah mencengkeram, tubuh kutu sisik di luar yang seperti cangkang inilah yang tidak akan tertembus pestisida. ”Jadi diperlukan penyemprotan secara sistemik, atau akan lebih baik dilakukan saat matahari belum terbit sehingga lebih maksinal,” ungkap pria asal Sumbergondo ini.

Selain kutu sisik, yang menjadi perusak tanaman apel adalah penyakit embun tepung dan marsonena. Untuk menangani agar apel tidak hilang dari tanah Batu, beberapa langkah pun dilakukan. Yayat menyebutkan, revitalisasi tanah terus dilakukan secara bertahap saat ini.

”Kami sudah mulai melakukan revitalisasi itu sejak 2012, 2013, 2014, dan ada kembali tahun ini (2017),” kata dia. Tahun ini sebanyak 7 hektare lahan di Batu diperbaiki kembali atau dikembalikan unsur haranya. Dan, 7 hektare itu ada di Desa Sumbergondo dua hektare, dan Tulungrejo, Bulukerto, Punten, Bumiaji, dan Giripurno.

Ketua Petani Bangkit Kota Batu Winardi menyebut, penyebab menurunnya pohon apel cukup beragam. Mulai dari suhu yang semakin panas, harga pemeliharaan yang tinggi. Selain itu, banyak tanaman apel yang mati karena sudah tua.

”Sekarang pohon apel hanya ada di bagian atas (Bumiaji),” kata pria yang juga ketua Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) Mitra Sejati, Desa Pandanrejo, itu. Dia juga menyayangkan suhu udara di Kota Batu sudah tidak dingin lagi. Lima tahun lalu, suhu masih di bawah 20 derajat Celcius, sekarang sudah sekitar 22 derajat Celcius. ”Kalau suhu sudah panas, naik berapa derajat seperti saat ini sulit tumbuh,” terang dia.

Selain sejumlah faktor tadi, banyak petani yang mengeluhkan biaya operasional tanaman apel yang tinggi. Jadi, petani yang tidak memiliki banyak modal beralih ke tanaman lain yang murah.

Ada yang menanam bunga dan sayuran. ”Apel itu pembiayaannya tinggi, mulai bibit, pupuk, pestisida, perawatan, hingga panen pun butuh biaya,” terang dia.

Kondisi itulah yang membuat petani apel kehilangan gairah. Sudah operasionalnya mahal, banyak hama, harga penjualannya juga tidak bagus-bagus amat.

Selain itu, pemerintah tidak membatasi jumlah impor apel luar negeri. ”Banyak pembeli memilih apel impor,” keluh dia. (adk/im/haf/c2/abm)

Loading...