Menu

Sepenggal Cerita Kepulangan Novel Baswedan

Novel Baswedan saat memberikan sambutan di lobi Gedung KPK, usai tiba dari Singapura, Kamis (22/2)

KERAP diteror berkali, kali Novel Baswedan tak pernah ciut nyali. Dia bahkan menjadikan teror yang dialaminya suatu hal yang biasa dan sebagai penyemangat dirinya dalam melakukan pemberantasan korupsi di Indonesia.

Oleh: Muhammad Ridwan

Kini, usai menjalani perawatan di Singapura selama lebih dari sepuluh bulan lamanya, Novel kembali sejenak ke Tanah Air, sebelum menjalani operasi kedua untuk memulihkan kondisi matanya yang disiram air keras oleh orang tak dikenal pada Selasa, 11 April 2017 silam.

Tak seperti biasanya, Kamis siang (23/2) suasana pelataran lobi gedung lembaga antirasuah penuh dijejali ratusan orang. Ada yang memakai baju putih, ada yang memakai kaos, ada pula yang memakai baju kemeja sebagaimana layaknya pekerja kantoran.

Mereka berbaris rapi, dengan membentangkan beberapa poster dan pamflet yang berisi beberapa kata motivasi untuk Novel Baswedan. Ini dilakukan untuk menyambut suami Rina Emilda tersebut yang kembali dari negeri Singa, usai lebih dari sepuluh bulan menjalani perawatan, akibat keduanya matanya disiram air keras oleh orang tak dikenal, Selasa 11 April 2017 silam.

Di depan Gedung, tampak juga beberapa karangan bunga yang dikirim oleh Wadah Pegawai KPK dan beberapa simpatisan lain yang peduli terhadap Novel dan pemberantasan korupsi yang dilakukan KPK.

Dua jam sebelumnya, Novel Baswedan memang dikabarkan sudah tiba di Bandara Soekarno-Hatta sekitar pukul 11.00 WIB.

Kedatangannya tak diketahui oleh sejumlah awak media yang menunggunya di bandara. Sebab Novel mendapat pengawalan ketat dari Tim KPK dan jalan melalui jalur VVIP di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta untuk langsung menuju gedung KPK.

Namun, kondisi kedatangan Novel terpantau oleh saluran TV swasta nasional yang membuntinya sejak dari Singapura.

Setelah menunggu cukup lama, akhirnya, sekitar pukul 13.00 WIB, orang yang ditunggu-tunggu pun datang. Turun dari mobil yang menjemputnya di sisi kanan Gedung KPK, tepatnya di pintu masuk kedatangan, Novel berjalan santai dengan diapit oleh Wakil Ketua KPK Laode M Syarief dan Wakil Ketua Wadah Pegawai KPK (WP KPK) Harun Al-Rasyid.

Sontak, saat Novel turun dan berjalan menuju pelataran lobi Gedung KPK, suara ratusan orang yang menyambutnya pun bergemuruh. Mereka bersuka cita, mengelu-elukan kedatangan sang penyidik senior KPK tersebut, bak pahlawan yang datang dari medan laga.

Lambaian tangan pun diangkat Novel sebagai tanda kerinduannya kepada para penggawa KPK, aktivis antikorupsi, awak media, serta kalangan masyarakat yang telah lama menunggu kedatangannya.

Suara gemuruh tersebut baru berhenti ketika Pimpinan KPK Laode M Syarief memegang mikrofon dan memberikan sambutan.

Usai pimpinan KPK tersebut memberikan sambutan, tak berapa lama, juru bicara KPK Febri Diansyah memberikan aba-aba komando kepada suami Rina Emilda tersebut, untuk memberikan sambutan kepada ratusan khayalak yang sudah menunggunya sejak pagi.

Dalam sambutannya, Novel berterima kasih kepada seluruh pihak yang senantiasa mendoakan dan mendukung dirinya selama menjalani pengobatan di Singapura.

“Saya menyampaikan ucapan terima kasih sebesar-besarnya kepada masyarakat di seluruh Indonesia, kepada Bapak Presiden, Wakil Presiden yang telah memberikan perhatian, dukungan dan juga terkait dengan pembiayaan saya selama di Singapura,” kata Novel.

Kepada seluruh hadirin yang menyambutnya dan seluruh masyarakat Indonesia, Novel menegaskan jika apa yang dialaminya tidak membuatnya menjadi ciut nyali. Dia bahkan menegaskan bahwa apa yang dialaminya adalah suatu hal yang biasa.

“Bagi saya, yang terjadi kepada diri saya, penyerangan kepada diri saya, saya tidak ingin menjadikan ini kelemahan, tapi ini menjadi penyemangat buat diri saya,” tegas Novel yang terlihat jelas kerusakan mata kirinya, karena mencopot kaca matanya.

Semangat ini imbuh Novel, juga ingin ia tularkan kepada seluruh pihak lain yang bertugas memberantas korupsi, serta mendukung upaya pemberantasan korupsi di Indonesia.

Sehingga ke depannya akan semakin berani, sungguh-sungguh dalam rangka melakukan tugas pemberantasan korupsi.

“Karena apabila kejadian diri saya membuat takut, menurunkan produktivitas kerja dan lain-lain, tentunya ini kemenangan bagi pelaku penyerangan, saya tak ingin ini terjadi,” tandas mantan Kasatreskrim Polresta Bengkulu tersebut.

Kobaran api semangat ini pun langsung disambut hangat mantan Ketua KPK Abraham Samad yang sengaja datang untuk menghadiri acara penyambutan penyidik andalan KPK tersebut.

“Apa yang menimpa Novel tidak boleh sedikit menciutkan nyali seluruh pegawai KPK. Tapi ini justru sebaliknya. Apa yang menimpa Novel itu membuat seluruh pegawai KPK semakin garang terhadap para koruptor,” seru Abraham.

Terkait pengusutan kasus yang menimpa Novel, Abraham menegaskan, tidak ada cara lain untuk menyelesaikan kasus penyerangan yang dialami mantan Kasatgas kasus dugaan korupsi e-KTP tersebut, selain dibentuknya Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF). Oleh karena itu, ia mendesak agar pimpinan KPK sudi mengajukan hal tersebut kepada Presiden Joko Widodo.

“Karena saya tidak yakin, kalau tidak dibentuk TGPF, maka kasus Novel akan berlalu begitu saja dan tidak pernah ditemukan pelakunya seperti yang dialami pegawai-pegawai KPK sebelumnya dan para aktivis antikorupsi yang pernah dialami seperti Novel,” tandasnya.

Harapan senada juga dilontarkan seorang masyarakat yang membentuk petisi agar Jokowi dapat segera menyetujui pembentukan TGPF kasus penyerangan yang mengakibatkan mata sisi kiri Novel luka parah.

“Sebanyak Lebih dari 60 ribu dukungan dari masyarakat sudah disampaikan, meminta Jokowi segera membentuk TGPF untuk Novel,” tandas Yansen, anggota masyarakat yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Sipil Antikorupsi.

Di lain pihak, Harun Al-Rasyid menegaskan, jika ingin TGPF kasusnya terbentuk, ia meminta kepada pejuang antikorupsi tersebut untuk berdoa sungguh-sungguh kepada Tuhan, untuk menyentuh hati Presiden Jokowi.

“Kalau engkau minta bentuk TGPF mintalah kepada Allah, bukakan hati presiden itu,” tukas Harun.

Kini, bola ada di tangan Presiden Jokowi. Jika memang mantan Gubernur DKI ini peduli terhadap pemberantasan korupsi yang kerap digaungkannya, maka sudah semestinya tak perlu waktu lama lagi untuk membentuk TGPF seperti halnya pada pengusutan kasus pembunuhan aktivis HAM Munis S Thalib.

Sebab, sudah lebih dari sepuluh bulan lamanya, tak ada hasil perkembangan berarti dari pihak kepolisian yang mengaku mengerahkan ratusan penyidiknya untuk menyelidiki kasus penyerangan yang dialami mantan korps bhayangkara tersebut. (rdw/JPC)

Loading...