Menu

Ada Bilik Asmara di Lapas Sukamiskin, Namanya ‘Gudang’

Suasana di dalam Lapas Sukamiskin yang tenang dan mewah.

LAPAS Kelas I Sukamiskin memang “ramah” bagi para narapidana (napi) koruptor. Sejumlah fasilitas wah bisa mereka dapatkan di sana. Ada bungalo dan saung, taman indah, kolam pancing, sampai bilik asmara. Wartawan Jawa Pos Agus Dwi Prasetyo menyambangi Lapas Sukamiskin beberapa waktu lalu sebelum KPK melakukan OTT.

“HP dibawa saja, ‘aman’ kok!” celetuk rekan saya sebelum masuk pintu utama Lapas Sukamiskin Pintu itu berukuran besar. Dicat merah. Akses keluar masuk satu-satunya bagi pengunjung. “Oh, boleh ya HP dibawa masuk?” tanya saya memastikan. “Boleh, taruh di kantong belakang saja,” kata teman saya.

Kami pun masuk ke lapas. Lewat pintu kecil yang posisinya di sisi tengah bawah pintu besar itu. Petugas lapas menyambut kami dengan raut wajah ditekuk. Tanpa basa-basi, dia lalu meminta kami menitipkan tas yang kami bawa. Tidak ada pemeriksaan saat itu. HP di saku celana saya yang secara kasatmata tampak menonjol pun tak menarik perhatian petugas.

Itu merupakan kunjungan pertama saya di Lapas Sukamiskin, 17 Juli 2017. Saya “nebeng” rekan saya yang mengunjungi salah seorang terpidana korupsi. Seorang mantan kepala daerah. Kasusnya diusut Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada 2014. Kami masuk pukul 14.10. Itu merupakan waktu di luar jam besuk. Normalnya, pengunjung hanya bisa masuk pukul 09.00 sampai 11.00.

Setelah masuk tanpa pemeriksaan ketat, kami lantas menuju deretan saung bambu di tengah area lapas. Jumlahnya puluhan. Dikelilingi pagar keamanan berukuran tinggi.

Kesan eksklusif sangat terlihat di area itu. Sebab, bukan hanya kursi dan meja, di dalam saung juga tersedia berbagai perkakas rumah tangga. Misalnya, kompor, dispenser, gelas, piring, panci, dan penggorengan. Para napi korupsi biasanya menyuruh tahanan pendamping (tamping) untuk memasak makanan atau sekadar menyeduh kopi dan teh.

“Kami kerja untuk membantu lapas, dinas. Itu aturan di sini (Sukamiskin) wajib. Jam 12.00 atau 12.30 baru ke sini (bungalo membantu napi korupsi, Red),” ungkap salah seorang tamping kepada Jawa Pos. Tamping itu umumnya adalah napi kasus pidana umum (pidum) di Sukamiskin. Ada puluhan napi pidum di lapas itu. Mayoritas “dipekerjakan” sebagai pembantu napi korupsi kelas elite.

Loading...