Menu

Menabung dari Jualan Sayur, 4 Anak Sarjana, Berangkat ke Tanah Suci

Perdana/Metro Asahan
Nursiti Siregar, pedagang sayur keliling yang giat menabung puluhan tahun untuk berangkat haji.

Kegigigihan Nursiti Siregar (62), yang kesehariannya berprofesi sebagai tukang sayur keliling setelah lebih dari 30 tahun sabar menabung berbuah pada perjalannya ke tanah suci untuk menunaikan rukun Islam.

PERDANA RAMADHAN, Kisaran

Tahun ini ia tergabung bersama 427 jemaah haji asal Kabupaten Asahan. Kisah warga Jalan Setia Budi, Gang Cempedak, Kecamatan Kisaran Timur Kabupaten Asahan itu seakan menginspirasi cita-cita umat Islam dibelahan bumi untuk menyempurnakan agama ke Tanah Suci Mekkah dan membuktikan pribahasa populer yang sering diucapkan orang bijak, dimana ada kemauan di situ ada jalan.

Saat diwawancarai wartawan sebelum keberangkatannya menuju tanah suci di kediamannya, janda yang ditinggal mati suaminya sejak 21 tahun lalu itu mengisahkan bagaimana perjalanan hidupnya sebagai seorang tukang sayur keliling berjuang seorang diri untuk membesarkan keempat anaknya.

“Kalau anak sekarang sudah pada besar. Alhamdulillah semuanya selesai S1 dari berdagang sayur keliling ini,” ujarnya.

Di tengah pahitnya perjuangan untuk bertahan hidup dan menyekolahkan anak, tidaklah membuat niatan tulus Nursiti untuk menjalankan ibadah haji dengan menabung sedikit demi sedikit.

Hasil keringatnya dia tabung sendiri dan dengan bantuan keluarga mencukupi membeli satu ekor lembu, yang diternakkan di kampung halamannya di Gunung Tua, Padang Lawas Utara (Paluta). Kemudian lembu itu dijual dan dibelikan ladang padi seluas 1,4 hektare.

“Pertama uang tabungan itu saya belikan lembu. Kemudian diternakkan lalu dijual lagi beli ladang padi. Karena izin Allah, ladang itu dijual lagi seharga ONH (Ongkos Naik Haji),” jelas Nursiti.

Bagi Nursiti yang hanya seorang pedagang sayur keliling, impian naik haji kala itu bagaikan pungguk merindukan bulan. Sebab dia harus bekerja setiap hari mulai pukul tiga dini hari sampai pukul 12 siang untuk menopang kehidupannya sebagai tulang punggung keluarga dan menyekolahkan anak-anaknya.

Loading...