Menu

Universitas Asahan Terus Berinovasi, Teliti Sorgum sebagai Bahan Pangan

Mahasiswa UNA menunjukkan hasil olahan sorgum menjadi popghum (sejenis popcorn)

Universitas Asahan terus berinovasi. Kali ini masih dari Fakultas Pertanian. Setelah sukses merevitalisasi laboratorium kultur jaringannya, memproduksi yoghurt, memperbanyakan klonal anggrek langka dan seed synthetic serta jagung pulut, kini mereka sedang  mengembangkan tanaman yang tahan kekeringan, yaitu Sorgum.

Perdana Ramadhan, Asahan

Selain efesien dan tak hanya tahan di daerah kering, Sorgum juga  bisa dijadikan bahan panganan alternative pengganti beras, jagung, dan batang sorgum yang bisa diperas dan diolah menjadi gula menggantikan tebu.

“Kalau orang tua tua bilang, tanaman ini jagung cantel. Jadi ini baru diteliti beberapa bulan yang lalu. Hasil riset kolaborasi tiga orang dosen Fakultas Pertanian yakni Sri Susanti Ningsih MSi, Rita Mawarni MSi dan dosen baru Asep Rodiansah SP MSi,” kata Dekan Fakultas Pertanian  Safruddin SP MMA saat berbincang dengan Metro Asahan, Senin (27/8).

Safruddin kemudian mengapresiasi kerja keras para dosen yang terus berkeinginan untuk memperkaya khasanah penelitian di lingkungan UNA agar tema riset tidak terbatas kepada komoditas yang itu-itu juga setiap tahunnya. Sehingga perlakuan penelitian bisa lebih berkembang tidak berkutat di dosis pupuk ataupun pupuk kandang.

“Bahkan sekarang ini para dosen sudah mulai gencar melakukan riset ke optimasi mikroba melalui pemanfaatan mikoriza. Ini harapan kami bisa ditularkan ke mahasiswa dengan dukungan labolatorium kita saat ini,” tambahnya.

Dari hasil penelitian dosen di lapangan, memiliki kandungan protein lebih tinggi dibandingkan pangan lain, seperti beras, jagung, dan umbi-umbian. Selain itu tanaman tersebut merupakan tanaman efesien dalam menggunakan air sehingga dapat menjadi alternatif pengganti beras dan jagung, yang nanti bisa diolah menjadi pangan dengan kelebihan indeks glikemiksnya yang rendah.

Bahkan sangat direkomendasikan untuk penderita diabetes, apalagi batang shorgum menggandung gula yang nanti bisa diperas dan diolah menjadi gula untuk menggantikan gula tebu.

“Penelitian di lapangan menunjukan bahwa mikoriza bisa mengefisienkan jumlah pupuk. Sehingga bisa mengurangi biaya produksi usaha tani. Selain itu mikoriza bisa menyelimuti akar rambut tanaman Sorghum, sehingga bisa menyerap air lebih optimal dan menambah daya tahan ketahanan tanaman terhadap kekeringan,” kata Asep Rodiansah, salah seorang dosen yang ikut melakukan penelitian.

Dijelaskan Asep, penelitian ini merupakan penelitian bioteknologi terapan di lapangan. Sehingga memantapkan Universitas Asahan sebagai universitas yang siap dalam menguasai dan mengaplikasikan bioteknologi, baik di lapangan maupun dilaboratorium, dan terjadi sinergitas antara laboratorium dan lapangan.

“Keunikan lainnya adalah bisa dijadikan pengganti popcorn. Biji sorghum yang sudah disosoh dan dikeringkan selanjutnya digoreng dengan menggunakan margarin atau minyak sayur. Selanjutnya ditutup, maka akan meletup dan mengembang lima kali dari ukuran semula. Popghum (sejenis popcorn, red) yang terbentuk bisa dikonsumsi menjadi cemilan dan oleh-oleh,” katanya.

Selain itu, brangkasan berupa batang dan daun shorgum bisa digunakan untuk pakan ternak. Sehingga bisa mengintegrasikan antara peternakan dan pertanian dalam bentuk pertanian terpadu, terutama untuk daerah yang mengalami kekeringan.

Kini, Universitas Asahan telah berhasil melakukan peneltian yang outputnya tidak hanya skripsi atau jurnal ilmiah, tapi produk dan jasa. Selain itu penelitian juga sangat berkontribusi terhadap pengembangan keahlian mahasiswa.

Hal ini sejalan dengan ‘akselerasi’ yang terus digaungkan oleh Rektor UNA Prof Ibnu Hajar MSi. Dimana mahasiswa zaman sekarang dapat dibawa kepada yang nyata dan berorientasi output yang jelas baik dari segi ke-Ilmuwan maupun hilirisasi hasil riset, sehingga mendukung aksererasi UNA Unggul. (*)

Loading...