Ustadz Humaidi, Syiar Islam Lewat Majelis Hijrah

Bagikan:
Reporter Metro Tabagsel mengunjungi kediaman ustadz Muhammad Humaidi Nasution di Desa Lumbandolok, Mandailing Natal. (Ridwan Lubis/Metro Tabagsel/Metro Asahan)

MetroAsahan.com, MADINA – Mungkin pembaca masih ingat dengan Gus Miftah, ustadz yang melaksanakan kegiatan dakwahnya di tempat-tempat maksiat bahkan sering berdakwah di tempat diskotik yang penuh dengan minuman keras dan narkotika di Kota Jakarta.

Hampir sama dengan ustad Muhammad Humaidi Nasution yang mulai menjalankan kegiatan dakwahnya dari kelompok masyarakat yang mencintai dunia hitam.

Berdakwah di tengah-tengah masyarakat maupun di tempat pengajian semacam majelis zikir adalah hal yang sudah lumrah dalam melaksanakan syiar agama Islam. Dan bisa dipastikan peserta pengajian juga orang-orang yang ingin mendalami syariat agama.

Tetapi, berdakwah dan menyiarkan agama Islam bagi kalangan ‘dunia hitam’ adalah hal yang jarang terjadi, karena dunia hitam orientasi dengan penjahat atau kelompok masyarakat yang jauh dari kegiatan keagamaan.

Pandangan tersebut berbeda bagi ustadz Muhammad Humaidi Nasution, seorang ustadz tahfiz Alqur’an yang berasal dari desa Lumbandolok kecamatan Siabu kabupaten Mandailing Natal (Madina).

Ia ingin menjalankan kegiatan dakwah dan syiar agama Islam khusus bagi kalangan dunia hitam atau kelompok masyarakat yang secara sosial dikategorikan jauh dari agama dan jarang mengikuti pengajian syariat agama Islam.

Ustadz yang akrap disapa Humaidi itu masih tergolong muda dan masih lajang, saat ini ia sedang menyelesaikan pendidikannya di salah satu perguruan tinggi di kota Medan, dan kuliahnya hampir selesai.

Saat dikunjungi Metro Tabagsel di kediaman orangtuanya di Desa Lumbandolok, ustadz Humaidi dengan perawakan rambut panjang begitu juga jenggot yang lebat. Di dinding rumahnya itu penuh dengan kitab-kitab dari Arab, seperti Tafsir Alquran, kitab-kitab hadis, fiqih, dan kitab referensi hukum syariat agama Islam. Ia menghabiskan waktu di rumahnya dengan membaca kitab-kitab tersebut.

Ustadz Humaidi memulai bincang-bincang dengan kegiatan yang sedang ia lakukan saat ini, yakni sedang mencari informasi mengenai komunitas-komunitas anak muda, komunitas anak punk, dan sebagainya.

Ia menjelaskan, saat ini banyak kelompok masyarakat seperti organisasi kepemudaan, organisasi masyarakat dan lainnya yang menyerukan berantas semua bentuk maksiat hingga ke akar-akarnya.

Menurutnya, seruan tersebut cukuplah baik dan syariat agama Islam juga menyuruh supaya umatnya mencintai kebaikan dan menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Tetapi, ustadz Humaidi menerangkan bahwa, pelaku-pelaku maksiat ini perlu dibimbing dan diberikan pemahaman agama secara emosional dan pendekatan yang manusiawi.

“Karena sesungguhnya mereka juga tahu apa yang mereka lakukan salah dan berdosa, tetapi mereka bingung dan tidak paham bagaimana mengawali kebaikan itu sendiri, mereka takut dan malu untuk bergaul bersama orang-orang yang baik, karena mereka sadar mereka banyak melakukan dosa dan kesalahan,” terang Humaidi.

Ia menyebut, dalam berdakwah, sebaiknya tidak memilih siapa yang akan diajak kepada kebaikan. Bahkan, sebaiknya yang diberikan pemahaman agama itu adalah orang-orang yang tidak paham sama sekali, sehingga efek dari dakwah tersebut mengajak orang yang jauh dari agama menjadi orang yang mencintai agama.

“Dakwah ini kan mengajak orang untuk mencintai agamanya, sehingga ia meninggalkan perbuatan-perbuatan maksiat secara ikhlas dan sepenuh hati. Apalagi sekarang kita lihat perkembangan zaman digitalisasi yang tentunya merusak moral khususnya kalangan pemuda. Bila kita tidak dekati mereka, maka dengan sendirinya mereka akan jauh dari agama kita, itu yang perlu kita selamatkan,” sebutnya.

Ustadz Humaidi menyampaikan, berdakwah bagi kelompok yang terjun ke dunia hitam harus dengan keikhlasan. Ikhlas menerima tantangan, cobaan dan bahkan bisa mendapat makian dari mereka, dan tentunya harus sabar. Ia mengisahkan perjalanan dakwah yang pernah dilakukannya bersama beberapa orang rekannya di daerah kabupaten Langkat.

“Kami pernah berdakwah di daerah Stabat. Di situ kami ada beberapa orang mendatangi sebuah lokalisasi. Kami datangi mereka, tetapi pemilik tempat tersebut marah. Mereka mengusir kami, tapi kami tetap sabar. Besoknya kami datang lagi ke tempat itu. Lalu si pemilik tempat langsung menolak kami dan memukuli kami. Kami tidak melawan. Kami pulang,” ucapnya mengenang.

“Besoknya kami datang lagi. Dan kembali mendapat pemukulan. Di situ wajah saya lebam. Kami tidak melawan. Kalau tidak salah, ada 13 kali kami ke tempat itu berturut-turut setiap malam, dan setiap datang selalu dipukul dan dilempar. Terakhir kami datang, kami sampai di tempat itu, tidak ada lagi kegiatan judi, biliar, dan minuman keras,” sambungnya.

“Kami pun heran waktu itu, lalu si pemilik tempat memeluk kami satu per satu. Memohon maaf, bahkan ia sempat bersimpuh di hadapan kami. Ia mengakui kesalahannya dan merasa orang paling jahat karena telah memukuli kami yang ingin mengajak mereka ke jalan kebaikan,” terang ustadz Humaidi.

Salah satu trik yang dipakai oleh Humaidi dalam merangkul para preman, pelacur dan pelaku maksiat lainnya adalah dengan tidak menyebut kata “dosa” dalam setiap tausiahnya. Ia justru menekankan agar para pelaku maksiat ini untuk melihat masa depan agar mau bertaubat.

“Kalau dijelaskan tentang dosa. Mereka justru sudah sangat tahu perbuatan mereka adalah dosa besar, justru dengan memberikan mereka harapan akan masa depan yang lebih baik, hati mereka akan perlahan-lahan menerima kebenaran,” paparnya.

Ustadz Humaidi mengakui, melaksanakan kegiatan dakwah dengan masuk ke dunia hitam dan mengajak pelakunya agar mencintai agama dan meninggalkan perbuatan dosa dengan suka rela adalah perbuatan yang sangat sulit. Tetapi, ia yakin nantinya akan ketemu dengan orang-orang yang ikhlas bergabung bersamanya dalam rangka dakwah dan mengajak umat Islam mencintai agamanya.

“Karena itulah, kami akan memulai kegiatan dakwah ini di Kabupaten Madina melalui Majelis Hijrah, kami siap datang ke tempat mana saja untuk mengajak masyarakat secara emosional dan memperlakukan mereka secara manusiawi sehingga mereka sadar dan mau meninggalkan perbuatan maksiat dengan ikhlas dan sepenuh hati,” tutupnya. (wan/mt/ma)

Bagikan: