Melawan Teror Tawon dengan OTT Lari dan Masuk Rumah pun Tetap Dikejar

Bagikan:
Petugas Damkar membasmi sarang tawon yang menggangu warga. (Johanny Silitonga/Radar Tarakan/Jawa Pos Group/Metro Asahan)

MetroAsahan.com – Tawon menyerang di rumah, permakaman, kebun, sampai jalanan kota. Belasan meninggal, orang dan hewan. Petugas pun harus tiap hari melakukan OTT di berbagai titik.

HARI-HARI ini para petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) Klaten tak kalah sibuknya dengan para personel Komisi Pemberantasan Korupsi. Sama-sama melakukan OTT. Lho, apa sekarang sudah ada “koruptor api”?

Bukaaan, Ferguso! Kalau di OTT (operasi tangkap tangan)-nya KPK yang ditangkap orang, di OTT-nya Damkar Klaten yang dihalau adalah tawon.

“Dalam sehari kami bisa (OTT) sampai tujuh titik sekaligus. Rata-rata dalam penanganan memakan waktu hingga dua jam, bergantung posisi sarang tawon,” jelas Edy Setyawan, bagian pendataan dan dokumentasi Tim OTT (Operasi Tangkap Tawon) Damkar Klaten, kepada Jawa Pos Radar Solo (Grup Koran Ini).

Maklum, Klaten termasuk salah satu kawasan yang mengalami “teror” tawon. Persinya tawon jenis Vespa affinis atau yang di kalangan masyarakat biasa disebut tawon endas (kepala). Ciri-ciri umumnya, antara lain, ada “cincin” di bagian ekornya yang berwarna oranye.

Sepanjang Januari-Desember 2018, tercatat 207 kejadian sengatan tawon di Klaten. Dari jumlah itu, ada 5 korban meninggal dan 1 ekor kambing tewas.

Salah seorang korban tewas itu adalah Marini Karno Mulyono. Pria 70 tahun itu diserang tawon saat tengah nyekar ke permakaman desa di Kelurahan Ketitang, Kecamatan Juwiring, Klaten, pada awal tahun lalu.

Kejadian yang sama menimpa Bardiman, 67, asal Dusun Jogodayah, RT 06, RW 01, Desa Kalikotes, Kecamatan Kalikotes, Klaten. Kakek malang itu meninggal dunia setelah disengat ratusan tawon saat sedang membakar sampah dedaunan kering di kebun. Tepat di bawah pohon mangga yang dihinggapi sarang berukuran diameter 40 cm dan tinggi 50 cm.

“Kondisi bapak memang tidak memungkinkan untuk lari menyelamatkan diri karena sudah tua. Hingga akhirnya bapak hanya pasrah saat sekujur tubuhnya disengat,” jelas Alfi, 36, anak pertama korban.

Teror tawon juga terjadi di berbagai daerah lain di bekas Karesidenan Surakarta, Jawa Tengah. Sepanjang tahun lalu ada 600-an kejadian. Yang sampai memakan korban meninggal 14 orang.

Sukoharjo menjadi daerah yang paling menonjol terkait kasus sengatan tawon. Sepanjang Januari-Desember 2018, petugas damkar setempat telah memusnahkan 315 sarang tawon. Di atap rumah warga, perkebunan, atap sekolah, dan lainnya.

Sepanjang tahun itu juga, enam warga Sukoharjo tewas terkena sengatan tawon jenis Vespa affinis. Kasus terakhir menimpa warga Puri Gentan Asri I B5, Desa Gentan, Kecamatan Baki, Sukoharjo, Mukti Ali.

Pria 57 tahun itu tewas tersengat tawon ketika sedang membersihkan sarang tawon di rumahnya pada pertengahan Desember tahun lalu. Nyawanya tidak tertolong setelah dirawat di rumah sakit selama sehari.

Tetangga korban, Joko Indriyanto, mengatakan bahwa awalnya Mukti Ali mau memusnahkan sarang tawon di plafon teras rumahnya. Namun, saat naik itu, korban tidak sengaja menyentuh rumah tawon.

Tetangga yang melihat korban dikeroyok tawon berusaha menolong. Namun, saat diturunkan, tubuhnya sudah dalam keadaan lemas. “Setelah itu, dia dilarikan ke rumah sakit. Dirawat semalam, nyawa Pak Mukti tidak tertolong,” papar Joko kepada Jawa Pos Radar Solo.

Sebelumnya, awal 2018, Mitro Wiyono, 80, warga Dusun Puluhan, Desa Lawu, Kecamatan Nguter, Sukoharjo, juga meninggal setelah disengat ribuan tawon.

Saat itu Mitro sedang mencari daun pisang di kebun. Dia tidak sadar bahwa di lokasi itu ada sarang tawon. Berada di pohon belimbing setinggi 2 meter.

Mitro sebenarnya sudah berusaha lari menghindari serangan tawon. Namun, karena jumlahnya mencapai ribuan, dia tetap tak berdaya.

Mitro pulang ke rumah dengan badan panas serta gemetar. Dia mengalami luka memar memerah pada bagian muka, leher, tangan, dan punggung.

Mitro sempat dibawa ke bidan desa dan diberi obat. Namun, sesampai di rumah, kondisinya kian buruk dan akhirnya mengembuskan napas terakhir beberapa jam kemudian.

Kepala Bidang (Kabid) Damkar Satpol PP Sukoharjo Margono mengungkapkan, rata-rata korban meninggal setelah sehari atau beberapa jam dirawat di rumah sakit. Untuk ukuran sarang, bervariasi. Tapi, rata-rata bisa mencapai seukuran kepala orang dewasa. Karena itulah, warga biasa menyebutnya tawon endas. “Permintaan pemusnahan sarang tawon ini hampir merata di wilayah Sukoharjo,” ujar Margono.

Dalam memusnahkan sarang tawon tersebut, petugas menggunakan pakaian standar keamanan. Selain itu, petugas membawa kresek besar untuk menampung sarang tawon.

Selain menyerang manusia, tawon meneror hewan ternak. Diakui, Margono memang belum mencatat jumlah hewan ternak yang mati karena tersengat tawon. Namun, seingatnya, ada beberapa kambing yang sudah menjadi korban keganasan tawon.

“Permintaan warga untuk pemusnahan sarang tawon sepanjang 2018 juga meningkat tiga kali lipat dibanding 2017,” papar dia.

Menurut Edy, penanganan sarang tawon paling sulit adalah sarang yang berada di rumah warga. Pasalnya, petugas harus ekstrahati-hati untuk meminimalkan kerusakan bangunan saat OTT.

Selain itu, untuk meminimalkan terjadinya sengatan kepada warga yang lebih luas lagi, dilakukan penanganan dengan menggunakan blower. Alat itu sangat berguna untuk menyedot seluruh tawon yang berterbangan di sekitar sarang. Sehingga memudahkan tim dalam penanganan saat mengambil sarang.

Penanganan tawon dilakukan berdasarkan skala prioritas. Mulai sarang tawon di rumah warga dan yang lingkungan banyak anak. “Jika tidak segera ditangani, dikhawatirkan tawon membahayakan warga sekitar,” jelasnya.

Selain di Klaten dan Sukoharjo, kasus serangan tawon dengan jumlah yang lebih kecil terjadi di Wonogiri, Sragen, dan Kota Solo. Di Wonogiri dan Sragen, ada pula korban sengatan yang meninggal.

Terbaru, sekitar sebulan yang lalu, Ngatinem, 55, warga Dusun/Desa Tenggak, Kecamatan Sidoharjo, Sragen, meninggal setelah disengat tawon setelah mencari rebung di kebun. Menurut Ketua RT Muhammad Husnul Azis, Ngatinem mencari rebung di barongan atau rerimbunan pohon bambu tidak jauh dari rumahnya. Tiba-tiba muncul kerumunan tawon usuk, lalu menyerang dan menyengat Ngatinem.

Kawanan tawon usuk itu menyerang tangan dan tubuh Ngatinem yang sontak langsung berlari menyelamatkan diri. Namun, ternyata kawanan tawon tersebut tetap mengikuti Ngatinem sampai rumah. Bahkan, ada yang sampai masuk ke dalam pakaian.

Di Solo, teror tawon pernah menyerang warga dan para pengendara bermotor yang melintas di Jalan Ir Sutami, tepatnya di selatan Taman Makam Pahlawan (TMP) Kusuma Bhakti, Jurug, Kecamatan Jebres. Serangga dengan nama Latin Xylocopa latipes itu menyerang penumpang bus dan dua anak yang sedang mengendarai sepeda motor.

“Busnya parkir tepat di samping pohon (tempat sarang tawon, Red). Tawon langsung masuk ke bus. Tidak tahu kemarin ada yang terdampak atau tidak,” kata Robin Sunarto, 32, pedagang asongan di sekitar TMP Kusuma Bhakti.

Kepala Dinas Damkar Surakarta Gatot Sutanto mengatakan, kondisi sarang tawon rusak, berlubang pada bagian bawahnya. Dia menduga, penyebabnya, warga melemparkan batu ke sarang. “Saya harap tidak ada lagi yang melakukan itu karena bisa membahayakan keselamatan mereka sendiri,” katanya. (yan/ren/din/kwl/atn/wa/bun/ria/c10/ttg/jpc/ma)

Bagikan: