Turut Menyelamatkan Alam Meratus lewat Kertas Gambar dan Kanvas

Bagikan:
Ketua Sanggar Seni Lukis Solihin Banjarmasin, Fathurrahmi, membuat sketsa panorama alam di pinggir sungai yang ada di Desa Nateh. (F/Jawa Pos Group/Metro Asahan)

LEWAT sketsa dan tulisan, para seniman di Hulu Sungai Tengah hendak memberi tahu khalayak ramai bahwa Pegunungan Meratus tak boleh dicederai. Bagian dari gerakan melawan pertambangan batu bara.

WAHYU RAMADHAN, Barbai

Fathurrahmi berdiri santai di pinggir sungai. Di seberangnya tampak dua buah rumah tepat di pinggir kali yang berlatar perbukitan karst. Ada beberapa bocah yang sedang asyik mandi di sungainya. ”Selesai,” ujar lelaki yang memakai ikat kepala itu sembari meletakkan hasil sketsanya di gazebo.

Sketsa yang dibuat Ketua Sanggar Seni Lukis Solihin tersebut memang tak sedetail pemandangan yang di hadapannya. Tapi setidaknya mewakili pemandangan yang terhampar.

Pemandangan di Desa Nateh, Kecamatan Batang Alai Timur, Hulu Sungai Tengah. Di kawasan Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan, yang tengah dihembalang kisruh pertambangan batu bara.

Pada Minggu pagi itu (27/1), rombongan Sanggar Seni Lukis Solihin yang berbasis di Banjarmasin tersebut datang ke Nateh untuk menunjukkan dukungan mereka terhadap gerakan Save Meratus. Dengan cara yang mereka mampu: lewat sketsa dan lukisan.

”Kami ingin menggambarkan, kemudian memberitahukan kepada khalayak ramai, khususnya di Banjarmasin, bahwa Nateh tak boleh ditambang. Pegunungan Meratus tak boleh dicederai,” kata Aswin Noor, anggota sanggar yang lain.

Meratus adalah pegunungan yang membelah Kalimantan Selatan menjadi dua. Mengutip Tektosiana.org, titik tertinggi di rangkaian pegunungan yang memanjang sampai perbatasan Kalimantan Selatan dengan Kalimantan Tengah dan Timur itu terletak di Gunung Halau-Halau. Gunung setinggi 1.901 meter di atas permukaan laut tersebut berlokasi di perbatasan tiga kabupaten: Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan, dan Tanah Bumbu.

Di Nateh yang berjarak 30 kilometer dari Barabai, ibu kota Hulu Sungai Tengah, terhampar serpihan keindahan Meratus. Sungai bening yang dikepung bukit karst dan hutan menghijau.

Tak heran kalau berbagai jujukan wisata bermunculan. Di antaranya, arung jeram. Jadi, tak mengherankan pula kalau tempat tersebut ramai didatangi.

Di hadapan keindahan dan keramaian itulah, Aswin mulai menggoreskan pulpen di atas kertas putih. Berawal dari sekadar corat-coret acak, kemudian berubah menjadi sebuah sketsa rombongan wisatawan yang berdiri di pinggir sungai. Pesan di baliknya, barangkali, kalau sampai boyak, ke mana lagi orang akan mencari keindahan serupa.

Lain lagi dengan Umar Sidiq. Pelukis yang kerap melahirkan karya bertema keseharian warga dan budaya itu memilih bermain-main sejenak di sungai. Sebelum kemudian duduk santai, mengamati pemandangan sekitar, sembari menyesap kopi.

Umar tak menggambar di kertas gambar. Tapi, dia sedang ”menggambar” lanskap di depannya itu di dalam benak.

”Saya kurang terbiasa dengan sketsa. Jadi, saya hanya ingin melihat kawasan ini, kemudian nanti saya tuangkan di atas kanvas dan cat,” ungkapnya.

Seperti halnya Aswin dan Fathurrahmi, Umar pun ingin membuka mata khalayak melalui lukisannya. Dia juga ingin Pegunungan Meratus beserta isinya tak diusik oleh mereka yang gemar mengeruk kekayaan alam. Misalnya, melalui pertambangan batu bara.

”Saya ingin lukisan saya nanti tentang Nateh bisa dipahami secara gampang. Untuk menambah minat masyarakat yang melihat, mungkin saya masukkan semacam ilustrasi,” katanya.

Gerakan Save Meratus yang bergaung sejak tahun lalu mendapat dukungan luas dari berbagai kalangan. Di antaranya, aktivis dan organisasi lingkungan, mahasiswa, sampai seniman.

Di kanal Y.H Channel di YouTube, misalnya, ada video tentang Festival Banjar 2018 di Jakarta. Dalam kesempatan tersebut, jajaran Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Tengah turut mengampanyekan gerakan Save Meratus. Isinya, komitmen warga kabupaten yang terletak sekitar 5 jam perjalanan dari Banjarmasin, ibu kota Kalimantan Selatan, itu untuk menjaga alam.

Para anggota sanggar yang lain tak kalah sibuk menuangkan apa yang mereka lihat ke dalam sketsa dan kanvas. Dengan sudut pandang yang berbeda-beda. Ada yang fokus ke sungai, ada yang tentang bentangan bukit karst atau lanskap Nateh secara keseluruhan.

Semuanya dengan tujuan yang sama: Jangan sampai keindahan di depan mata itu musnah.

Nursiwan, pencetus Organisasi Pencinta Alam Garimbas (Gabungan Anak Rimba Meratus Batang Alai Selatan) mengapresiasi dukungan yang ditunjukkan Sanggar Seni Lukis Solihin itu. Bagi dia, semakin beragam bentuk dukungan, semakin luas pula publik yang bisa dijangkau.

”Tak punya keahlian melukis, kita bisa dengan memakai kuota internet. Dengan cara memajang keindahan panorama alam serta kearifan budaya yang ada kaitannya dengan Pegunungan Meratus,” kata warga Batang Alai Timur itu.

Meski begitu, menggelorakan semangat semua orang agar terus berjuang menggemakan Save Meratus memang tak segampang membalik telapak tangan. Bahkan, penyair Banjar Y.S. Agus Suseno mengumpamakannya dengan cinta.

”Tak bisa dipaksakan, tapi bisa dimulai pelan-pelan,” katanya. Lewat sketsa dan lukisan, siapa tahu cinta itu akhirnya bisa tumbuh. (*/ma)

Bagikan: