Boyong Spirit Sepak Bola Indonesia ke Kampus, Jersey dan Syal di Ruang Kerja Jadi Obat Kangen Lapangan Hijau

Bagikan:
MENCINTAI SEPAK BOLA: Fajar Junaedi di ruangan kerjanya di kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. (Taufiqurrahman/Jawa Pos/Metro Asahan)

JERSEY berbagai klub lokal yang memenuhi ruang kerja Fajar Junaedi punya nilai sejarah masing-masing. Saat memberikan tugas, dia sengaja mencampuradukkan para mahasiswa yang memiliki tim favorit berbeda-beda.

TAUFIQURRAHMAN, Jogjakarta

Berbagai jersey klub sepak bola tanah air memenuhi ruangan itu. Digantung berderet-deret dengan kapstok.

“Ini semacam pengobat kangen saya kepada dunia suporter dan lapangan hijau,” kata Fajar Junaedi di ruangan yang terletak dalam kompleks kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) itu.

Fajar memang dosen ilmu komunikasi UMY. Kalau kemudian ruangan kerja berukuran sekitar 3 x 3 meter itu bernuansa “tak lazim”, penuh jersey, itu karena sepak bola adalah bagian tak terpisahkan dari dunia kesehariannya.

Pria berambut panjang sebahu itu intens mengikuti perkembangan sepak bola Indonesia di berbagai level. Dia menonton, meriset, mendokumentasikan, serta menulis. Merayakan Sepak Bola adalah salah satu buku karyanya yang dikenal luas publik sepak bola tanah air.

Spirit itulah yang kemudian dia bawa sampai ke kampus tempat dia mengajar. Jersey-jersey yang menggantung di ruangannya itu masing-masing punya catatan sejarah di baliknya.

Salah satunya jersey 88th Battle of Heroes produksi MBB Apparel. Tidak ada logo sponsor mana pun. Hanya ada logo MBB, logo Persebaya, dan tulisan 1927-2015.

Fajar bercerita, saat laga itu dihelat pada 2015, Persebaya 1927 (kini kembali bernama Persebaya) berada di tahun-tahun yang sulit. Sebab, dicekal PSSI dari kompetisi resmi.

Bonek akhirnya berinisiatif untuk mendesain sendiri jersey untuk pertandingan ekshibisi yang melibatkan Andik Vermansah dan beberapa pemain eks Persebaya 1927 itu. Laga di Gelora Bung Tomo tersebut dihelat dalam rangka perayaan HUT Ke-722 Surabaya dan Hari Jadi Ke-88 Persebaya.

“Ini jersey yang paling berkesan karena merepresentasikan perjuangan Bonek saat Persebaya diperlakukan secara tidak adil oleh PSSI,” kenang Fajar saat kembali diwawancarai Jawa Pos kemarin (31/1). Sebelumnya Jawa Pos berkesempatan menemui pria kelahiran Madiun, Jawa Timur, itu di ruangannya yang khas.

Satu jersey lainnya yang berpola biru dan putih adalah jersey dari klub Persatuan Sepak Bola Hizbul Wathan (PS HW) UMY, klub kampus UMY. Dia mendapatkannya dari Manajer sekaligus Wakil Rektor UMY Achmad Nurmandi.

Masih ada banyak jersey lain. Misalnya, kostum PSM Makassar, Persela Lamongan, juga Semen Padang. Selain jersey, ada beberapa syal. Salah satu yang terbaru bertulisan aksara Kiril Rusia.

“Yang ini dari alumni ilmu komunikasi UMY angkatan 2002 yang liputan sebagai camera person di Piala Dunia 2018,” ungkapnya.

Ada pula syal yang merupakan buah tangan dari kolega dosen dari Australia dan Belanda yang datang ke kampus. Atau berkolaborasi menulis dan meriset sepak bola Indonesia.

Dengan gayanya yang santai dan kasual khas suporter, Fajar memang dikenal dekat dengan para mahasiswa. Dia selalu menempatkan mahasiswa sebagai sahabat. Bukan sekadar relasi dosen dan mahasiswa.

Daripada di ruang kelas, Fajar dan para mahasiswa lebih sering bercengkerama di kafe, mendiskusikan dan mengkreasikan produk. Atau nonton pertandingan bersama-sama. Sampai turun ke lapangan untuk membuat proyek khusus.

Misalnya, proyek katalog potensi kampung-kampung di selatan Jogjakarta. Juga, berkolaborasi memetakan potensi bencana. Dia dan para mahasiswa sudah menghasilkan buku panduan peliputan bencana lokal untuk Jogjakarta.

Mahasiswanya pun berasal dari berbagai kota di Indonesia. Dengan klub favorit masing-masing. Namun, perbedaan itu tak pernah membuat mereka bertengkar. “Kalau diibaratkan, ketika nongkrong bareng, pelat nomor dari berbagai daerah ada,” katanya.

Fajar bahkan kerap sengaja mencampuradukkan komposisi tim penugasan. Dengan kolaborasi di tugas kuliah, mahasiswa lintas klub dan lintas bendera suporter akan saling mengenal.

Wengky Ardi, salah seorang mahasiswa jurusan komunikasi UMY, termasuk yang merasakan keseruan berinteraksi antarsuporter dengan didampingi Fajar. Menelaah dan mendiskusikan berbagai hal terkait suporter.

Termasuk tragedi yang dialami pendukung Persija Haringga Sirla yang tewas karena dikeroyok fans Persib Bandung di kawasan Stadion Bandung Lautan Api, Bandung.

Wengky pendukung Persib. Namun, dia sangat mengecam tindakan yang dilakukan para pengeroyok Haringga. Kebetulan Haringga juga teman sekampungnya di Indramayu, Jawa Barat.

“Mas Fajar tidak seperti dosen, sudah seperti teman kita sendiri,” jelas Wengky.

Tulus Budi alias Cak Tulus, sesepuh Bonek Jogja, juga menyebut Fajar sebagai sosok yang pandai menempatkan diri. Kepada para mahasiswa, dia melakukan pendekatan lewat musik, film, dan sepak bola.

“Kebetulan sejak kenal pertama pada tahun 2010-an saya awalnya sering diskusi tentang musik dan film. Lalu, diskusi bola,” katanya.

Ketika berdiskusi dengan kawan-kawan suporter di berbagai kota, Fajar, kata Tulus, juga bisa berlaku adil. “Sehingga jika dia menyentil teman-teman suporter, tidak menimbulkan ketersinggungan,” kata Tulus.

Adapun Fajar berharap, dengan menumbuhkan solidaritas di lingkup kampus, akan tumbuh bibit-bibit intelektual di kalangan suporter dari berbagai kota. Yang memahami benar keragaman dan sportivitas. Sehingga tidak ada lagi kerusuhan dan pertikaian antarsuporter.

“Lagi pula, sepak bola memang harus dirayakan, bukan malah jadi medium pertengkaran,” kata Fajar. (*/ma)

Bagikan: