Istimewanya 7 Sumur di Wihara Gayatri, Pengobatan Hingga Cari Jodoh

Bagikan:
Wihara Gayatri yang terletak di Kelurahan Cilangkap, Kecamatan Tapos, Depok. (Dery Ridwansah/JawaPos.com/Metro Asahan)

Hampir seluruh bagian komplek wihara dipenuhi dengan pepohonan. Sehingga, tempat itu terasa rimbun dan rindang. Tidak hanya pepohonan, lebih dari tiga kolam ikan pun dapat dijumpai di Wihara Gayatri.

Wildan Ibnu Walid, Jakarta

Ratusan orang memadati Wihara Gayatri yang terletak di Kelurahan Cilangkap, Kecamatan Tapos, Depok. Mereka tampak khusyuk bersembahyang di depan dewa-dewa. Sambil melafalkan doa-doa, para pengunjung berharap keberkahan dan keselamatan melalui Hari Raya Imlek 2570.

Mereka datang dari berbagai daerah. Umumnya berasal dari wilayah Jakarta dan sekitarnya. Mengenakan pakaian atribut serba merah, umat Budha maupun warga keturunan Tionghoa, menyempatkan diri untuk bersilaturahmi ke tempat wihara yang dibangun pada 1984 itu.

Wihara Gayatri merupakan salah satu ikon tempat suci warga Depok dan sekitarnya. Luasnya mencapai 6 hektare. Hampir seluruh bagian komplek wihara dipenuhi dengan pepohonan. Sehingga, tempat itu terasa rimbun dan rindang. Tidak hanya pepohonan, lebih dari tiga kolam ikan pun dapat dijumpai di Wihara Gayatri.

Memasuki perayaan Hari Raya Imlek seperti ini, wihara yang terletak sekitar 3,5 kilometer dari Stasiun Cibinong itu menjadi primadona tersendiri bagi para pengunjungnya. Bukan saja dari kalangan umat Budha, pengunjung umum pun kerap datang ke Wihara Gayatri untuk sekedar berekreasi atau mengisi waktu libur sambil melihat pemandangan yang memanjakan mata.

Salah seorang pengelola Yayasan Wihara Gayatri Asep menuturkan, wihara itu sudah berusia 35 tahun. Luas bangunan Wihara ini mencapai 2.400 meter persegi. Di dalamnya terdapat beberapa ruangan untuk sembahyang.

Ruangan-ruangan itu di antaranya, ruang Dewi Kwan Im (dewi kesejahteraan), Dewa Kwan Tong (dewa kebajikan), Dewa Cai Sen (dewa kekayaan), serta Dewa Toti Pakung (dewa dapur).

Asep mengatakan, para pengunjung sudah mulai memadati Wihara Gayatri sejak Senin (5/2) malam. Kebanyakan dari mereka bermalam di wihara untuk berdoa, hingga merenung untuk mengingat-ingat perbuatan semasa hidup.

“Sebagian besar dari mereka banyak yang bermalam. Karena dia merindukan suasana khidmat bersembahyang di Wihara Gayatri,” ujar Asep kepada JawaPos.com, Selasa (5/2).

Asep menjelaskan, Wihara Gayatri menyimpan suasana kedamaian dan ketenangan. Sehingga pendiri Wihara, Luginawati membangunnya dengan menyelaraskan keseimbangan alam. Karena alam merupakan elemen penting bagi kehidupan.

“Keseimbangan alam patut dijaga. Karena sebagai elemen penting kehidupan umat manusia,” terangnya.

Selain banyaknya pepohonan, kolam penuh ikan, dan kura-kura, di Wihara Gayatri tersimpan 7 sumur yang dipercaya memiliki keistimewaan. Asep menjelaskan, ketujuh sumur itu tak pernah surut, meski di musim kemarau sekalipun.

Air di dalam sumur itu berasal dari sumber mata air. Oleh para umat Budha dan warga keturunan Tionghoa dimanfaatkan untuk mandi, dengan harapan bisa terhindar dari malapetaka. Bukan hanya itu, sumur tersebut dipercaya bisa mendatangkan jodoh dengan cepat.

Seperti Sumur Sri Ningsih, sumur itu berkhasiat untuk menerangkan diri dan pikiran. Kemudian, Sumur Waras, yang dianggap mampu mengobati segala macam penyakit. Serta Sumur Sri Lungguh dipercaya akan mendatangkan kedudukan derajat yang lebih tinggi.

Sementara yang paling banyak dikunjungi, yakni Sumur Kunaratih Kumadjaya yang disebut-sebut pengunjung bakal mudah mencari jodoh. Kemudian, Sri Rezeki berkhasiat melancarkan usaha cari mencari rezeki. Selanjutnya yaitu Sumur Dewi Sri Mulyasari untuk pengobatan, dan Sri Pontjo Warno memiliki keistimewaan terhindar dari musibah yang mengancam.

“Air dalam sumur ini, bila mandi di tengah malam dan diresapi, rasa airnya sangat segar, tapi tidak merasa dingin, bahkan bisa hangat,” ujar Asep.

Masing-masing sumur itu jaraknya berdekatan. Para pengunjung pun bisa dalam sekali waktu mengunjungi ketujuh sumur sekaligus. Tidak hanya untuk mandi, sumur itu pun dimanfaatkan pengunjung untuk melemparkan koin.

Mereka percaya, dengan melakukan ritual ibadah seperti itu, kebaikan akan kembali kepada orang yang melemparkan koin itu. Seperti dilakukan Hasan dan enam anggota keluarganya. Warga Jonggol, Cileungsi, Mekarsari, Bogor itu tidak melewatkan ritual turun menurun lempar koin di sumur.

Ia percaya, koin yang dilemparkan ke dalam sumur itu akan mendatangkan kebaikan. Menurutnya, koin yang dilemparkan sebetulnya untuk sedekah atau membantu biaya pemeliharaan wihara. Dengan begitu, turut berbuat baik memelihara wihara, akan dibalas dewa dengan kebaikan yang lebih banyak.

“Segala perbuatan baik akan dibalas kebaikan lebih oleh dewa. Kami pun mengajarkan kepada anak-anak agar berbuat baik,” kata Hasan. (*/ma)

Bagikan: