Merajut Asa Dibalik Teror yang Menerpa

Bagikan:
Ratusan pegawai KPK, saat melakukan aksi damai melawan teror terhadap penyelidiknya, Kamis (7/2) lalu. (Fedrik Tarigan/Jawa Pos/Metro Asahan)

Belum reda kasus yang dialami penyidik senior KPK Novel Baswedan dan sejumlah perkara lain seperti teror bom yang dialami dua pimpinan KPK terungkap. Kini pegawai lembaga antirasuah kembali mendapat serangan keji.

Intan Piliang, Jakarta

Ketika sedang menjalani tugasnya menyelidiki adanya dugaan perkara korupsi, penyelidik KPK dianiaya oleh oknum rombongan dari pejabat Pemprov Papua. Perlu ada komitmen yang kuat dari pihak kepolisian agar tak masuk angin , sehingga segera mengungkap teror-teror yang dialami sejumlah pegawai lembaga antirasuah. Ini penting dilakukan, agar teror serupa tak menimpa penegak dari lembaga hukum lain.

Siang itu Kamis (7/2), sekitar 13:25 WIB terik matahari begitu menyengat kulit. Meski demikian, hal itu tak mengendurkan semangat pegawai KPK untuk berkumpul di halaman gedung lembaga antirasuah.
Ratusan pegawai dari berbagai direktorat, berbondong-bondong memenuhi halaman depan gedung, dalam rangka menggelar aksi damai, usai salah satu koleganya dianiaya Minggu (3/2) pekan lalu.
Tampak ratusan pegawai tersebut kompak mengenakan pakaian berwarna gelap dan masker mulut berwana hijau. Beberapa dari mereka bahkan membawa poster bertuliskan ‘kami tidak takut’, dan ‘penegakkan hukum tidak boleh ditunda’.

Usai diberi aba-aba, mereka saling bergandengan tangan membentuk rantai manusia, dan mengitari gedung KPK sembari membentangkan kain berwarna hitam. Dalam rantai manusia itu, tampak juga penyidik senior KPK Novel Baswedan yang juga pernah beberapa kali menjadi korban teror.
Aksi damai ini dilakukan sebagai tanda bahwa mereka tidak takut terhadap teror apapun. Meskipun nyawa taruhannya. Namun sayangnya, aksi ini terciderai karena tak tampak hadir pimpinan KPK satu orang pun.

“Kami pegawai KPK, seluruh direktorat, hari ini kita perwakilan 1.800 pegawai hadir di sini sebagai bentuk solidaritas bahwa kawan kita tidak pernah sendiri. Ada kita yang selalu menyemangatinya,” Pekik Ketua Wadah Pegawai KPK, Yudi Purnomo Harahap, saat menyampaikan orasi di hadapan ratusan pegawai.

“Kami minta Bapak Kapolri untuk secara tegas dan serius melakukan penegakan hukum untuk orang yang diduga menganiaya teman kami,” tambah Yudi dengan suara lantang.

Dalam orasinya, Yudi menegaskan, dirinya dan para pegawai lembaga antirasuah lain menegaskan, apapun yang akan dilakukan oleh para koruptor, pihaknya akan tetap kompak dan solid. “Kami tidak akan pernah kendur melawan koruptor,” tegasnya.

Sementara terkait tindakan penganiayaan yang dialami koleganya, Yudi mengutuk dan mengecam teror tersebut. Ini karena terjadi saat sedang menjalankan tugas. “Pasca penganiayaan teman kami menderita luka di hidung sehingga harus dioperasi. Kami minta pihak lain tidak lagi ada pengalihan isu, dengan pelaporan terhadap teman kami. Kami akan melindungi teman-teman kami,” tukasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Novel Baswedan menilai, kejadian yang kembali menimpa koleganya menjadi keanehan jika tak ada yang terungkap satupun. “Kasus teror tidak terungkap ini tentu menjadi keanehan. Karena ini merupakan serangan yang kesepuluh kalinya,” kata Novel.

Adapun, 9 kasus teror sebelumnya yakni, pertama adanya penyerbuan dan teror terhadap fasilitas KPK, kedua ancaman bom ke gedung KPK, ketiga teror bom ke rumah penyidik KPK, keempat penyiraman air keras dan kelima ancaman pembunuhan terhadap pejabat dan pegawai KPK.

Keenam perampasan perlengkapan penyidik KPK, ketujuh penculikan terhadap pegawai KPK yang sedang bertugas, kedelapan percobaan pembunuhan terhadap penyidik KPK, dan kesembilan teror bom terhadap ketua KPK Agus Rahardjo dan Wakil Ketua KPK Laode M Syarif, yang hingga saat ini juga belum terungkap.

Atas berbagai teror ini, Novel berharap agar pegawai maupun pimpinan tidak takut sedikitpun menghadapi teror ini. “Penyerangan terhadap orang KPK harus menjadi masalah serius. Dan tidak boleh terus dibiarkan hingga membuat orang memberantas korupsi menjadi benar-benar takut,” tukasnya.
Pegawai KPK yang enggan disebutkan namanya mengatakan, dirinya dan pegawai lain tidak takut menghadapi teror. Apalagi, pegawai bekerja berdasarkan perintah undang-undang dan tugas resmi.

“KPK merupakan lembaga penegak hukum, tentunya kerja-kerja pegawai memenuhi standar kerja yang ketat. Peristiwa yang menimpa pegawai tentu tak ada yang berharap terjadi. Apakah kami menjadi takut, jawabannya tentu tidak,” tegasnya.

Dia pun menjelaskan, karena komitmen sejak awal total berjuang memberantas korupsi, teror ini membuat begitu banyak pekerjaan rumah yang perlu dievaluasi.

“Jangan sampai membiarkan pelaku kriminal bebas berkeliaran. Hukum harus ditegakkan dan kami akan terus memantau semua peristiwa penyerangan terhadap kawan-kawan kami,” tandasnya.

Pegawai KPK lain yang tak bisa disebutkan namanya mengatakan, aksi damai yang dilakukan pihaknya, dilakukan sebagai bentuk kekecewaan pegawai terhadap sikap pimpinan yang tak tegas membela anak buahnya yang dianiaya.

“Aksi ini muncul karena pegawai rasakan pimpinan tidak tegas mengambil posisi untuk membela pegawai. Karena jelas, Gilang menjalankan tugas resmi lembaga,” ungkapnya.

Pegawai KPK lain yang juga enggan disebutkan namanya menilai, para koruptor sudah semakin canggih dalam memainkan aksinya. Bahkan bukan hanya terorganisir, tapi para koruptor juga tak takut pada aparat penegak hukum. Oleh karena itu kata dia, lembaga antirasuah harus lebih gahar memperkuat lembaganya.

“Para koruptor merasa paling berkuasa jadi bisa seenaknya. Pimpinan harus ikut ambil andil atas kejadian belakangan ini. Kepolisian juga harus selesaikan segera kasus teror yang pernah ditujukan ke pegawai KPK,” imbuhnya.

Menurutnya, kalau kasus tak terungkap, maka kejadian serupa bakal selalu terjadi. “Meski kami telah menandatangani pernyataan dengan sepakat ‘siap menerima teror’, tapi kami sama sekali tidak takut. Kalau kita takut atau kita loyo, makin besar hati koruptor itu,” tandasnya.

Pegawai KPK lain yang juga tidak mau disebutkan namanya menegaskan, pegawai KPK dalam melaksanakan tugas tanpa keraguan. Sebab rasa takut bukan karena teror, melainkan hanya boleh takut pada Tuhan.

“Penyerangan ini merupakan bagian dari perlawanan dalam upaya pemberantasan korupsi. Karena ikhtiar perjuangan pemberantasan korupsi tersebut, akan senantiasa melalui proses dan hambatan serta perlawanan dari berbagai pihak,” tukasnya.

Dia pun berharap, agar sistem hukum dapat bekerja dengan baik dalam menuntaskan kasus-kasua teror yang menimpa pegawai. “Bagi kami pekerjaan memberantas korupsi merupakan tantangan bagi kami untuk bekerja lebih baik untuk kepentingan bangsa dan negara,” katanya.

Sebelumnya, peristiwa penganiayaan terhadap 2 pegawai KPK itu terjadi pada Minggu (3/2) dinihari. Juru bicara KPK Febri Diansyah menyebut, kedua penyelidik sedang dalam tugas untuk mengecek informasi mengenai adanya indikasi tindak pidana korupsi.

Pemantauan itu dilakukan di Hotel Borobudur, Jakarta. Pada saat yang sama, Pemprov Papua dan DPRD Papua baru saja menuntaskan rapat di hotel itu. Setelahnya, menurut Febri terjadilah penganiayaan itu hingga akhirnya KPK melaporkan kejadian itu ke Polda Metro Jaya.

Belakangan Polda Metro Jaya menaikkan status penanganan kasus itu ke tingkat penyidikan. Meski demikian, polisi belum menentukan siapa tersangka kasus itu.

Di sisi lain Pemprov Papua menilai tidak ada peristiwa penganiayaan yang terjadi saat itu. Pemprov Papua pun turut melapor ke Polda Metro Jaya mengenai dugaan pencemaran nama baik. Namun pelaporan Pemprov Papua itu masih di tahap penyelidikan. (jpc/int/ma)

Bagikan: