Mereka yang Berhasil Mengatasi Ketidakmungkinan

Bagikan:
Rendi Ilwan. (H. Hilmi Setiawan/Jawa Pos/ Metro Asahan)

DI tahun politik yang panas ini, mari bicara tentang inspirasi. Orang-orang berikut adalah sedikit contoh betapa tidak mungkin itu tidak ada. Sulit mengucapkan huruf R, berpostur kecil, dan pernah gagap bukanlah kendala untuk jadi penyanyi sukses, pesepak bola hebat, serta dosen-motivator yang berhasil.

Rendi Irwan, Gigih Mengatasi Trauma Pencoretan

KALAU saja di siang itu dia melupakan total sepak bola, tak akan ada Rendi Irwan yang berkostum tim nasional. Tidak akan ada pula Rendi Irwan yang dipercaya menjadi kapten salah satu klub besar tanah air, Persebaya Surabaya.

Juga, tidak akan ada Rendi Irwan yang menjadi bagian tim perebut emas Pekan Olahraga Nasional. Siang ketika dia, di usia 17 tahun, setelah sekitar dua jam berboncengan sepeda motor dengan ayahnya dari Sidoarjo ke Probolinggo, Jawa Timur, dicoret dari seleksi Diklat Tri Tunggal.

Itu pencoretan kesekian dari berbagai seleksi. Posturnya yang hanya 160 cm memang terlihat seperti “anak kecil di permainan orang dewasa”.

“Bapak ingin saya berhenti main sepak bola. Disuruh fokus kuliah saja,” tambah pemain kelahiran 26 April 1987 itu kepada Jawa Pos.

Dia memang akhirnya kuliah S-1 di Jurusan Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Tapi, sepak bola tak pernah benar-benar dia tinggalkan.

Dia aktif di tim futsal kampus. Unesa bahkan dua kali diantarkannya juara ajang futsal antarkampus. Dan, Rendi selalu jadi pencetak gol terbanyak.

Jalan rupanya terbuka dari sana. Dalam final ajang futsal antarkampus 2006, turut menyaksikan Direktur Amatir Persebaya Saleh Hanifah. “Saya langsung ditawari untuk ikut seleksi Persebaya Junior karena beliau (Saleh) tahu saya jebolan (klub internal Persebaya) Mitra Surabaya,” kata Rendi.

Ada 100 pemain yang ikut seleksi saat itu. Dan, Rendi termasuk yang paling mungil. Namanya juga disebut paling terakhir dalam seleksi.

Trauma berbagai kegagalan di seleksi-seleksi sebelumnya juga masih membayang. “Tapi, saya nothing to lose saja saat itu.”

Kegigihannya berbuah. Dia lolos seleksi. Menjadi bagian dari skuad Persebaya U-23. Sejak saat itulah, seperti orang bilang, the rest is history.

“Sejak saat itu orang tua mulai mengerti. Bahkan, sekarang saya menghidupi keluarga ya dari sepak bola ini,” kata Rendi.

Bapak dua anak itu makin terharu kala ditunjuk sebagai kapten Persebaya pada Liga 2 musim 2017. “Padahal, saya sering usil, bergurau, tapi malah dipilih jadi kapten,” terangnya.

Postur yang mungil tak membuat Rendi kehilangan wibawa. Dia punya cara sendiri untuk membuat pemain respek kepadanya.

Setiap ada masalah, dia kumpulkan semua rekan setim. “Saya ajak makan, saya ajak bicara. Saya juga harus bisa membedakan, mana waktu bercanda dan kapan harus serius,” kata mantan penggawa Persija Jakarta itu.

Nadya Fatira, Bisa, dengan ataupun tanpa Huruf R

Dia coba pahami setiap manusia

Punya hebat punya cacat

Dia coba nikmati hidup ini cuma sekali

(Lagu tanpa Huruf R)

Ucapan terima kasih itu datang dari mana-mana. Dari mereka yang merasa sangat terwakili oleh apa yang dituangkan Nadya Fatira dalam lagunya.

Sebuah lagu tanpa konsonan “R” sama sekali di keseluruhan liriknya. “Ada yang namanya juga sama, Nadya, susah ngomong R, dan juga ingin jadi musisi seperti gue,” tutur Nadya kepada Jawa Pos.

Susah mengucapkan huruf R dan ingin menjadi penyanyi. Jelas bukan dua hal yang berkawan. Tapi, Nadya telah membuktikan, tak ada yang tak mungkin.

Dia terus menulis lagu dan menyanyi. Melejitkan, antara lain, Penyendiri yang tentu saja penuh dengan huruf R. “Yang pasti, dari awal bikin lagu udah bertujuan ngasih tahu bahwa manusia nggak sempurna,” ujarnya.

Dalam Penyendiri, misalnya, Nadya bertutur betapa dirinya lebih nyaman ngobrol dengan sedikit orang daripada dalam sebuah kelompok besar. Pesan yang hendak dia sampaikan: Tak ada yang salah dengan menjadi introver.

Menurut dia, keunikan itu jangan sampai membatasi diri. Justru harus menjadi pelecut semangat. Toh, setiap manusia, seperti dia singgung dalam Lagu tanpa Huruf R, “punya hebat, punya cacat.” Jadi, begitu menginginkan sesuatu, harus terus dikejar meskipun banyak kendala.

Penulisan Lagu tanpa Huruf R adalah contoh bagaimana dia memegang prinsip itu. Perempuan kelahiran Jakarta tersebut mulai menulis lirik pertamanya pada 2013.

Awalnya dari baris kedua, “Sebuah konsonan menyulitkan membuat lidahnya bosan tak mudah diucapkan.” Nadya sadar bahwa kalimat itu tidak memiliki huruf R sama sekali. Dari situlah terpikir olehnya membuat lagu yang benar-benar tidak punya konsonan itu. “Tapi, terus aku tinggalin karena nggak ada inspirasi,” ungkap dia.

Meski demikian, pelan-pelan bagian lagu itu dia lengkapi dengan bait-bait baru. Musiknya kemudian selesai pada 2016 dan langsung direkam. Namun, mixing dan mastering-nya baru betul-betul disempurnakan pada 2018, sebelum lagu tersebut dirilis.

“Aku nggak ngira banget akan dapat sambutan sebegininya. Karena lagu itu kan tentang aku banget,” ungkap Nadya.

Mungkin Nadya memang bercerita tentang dirinya. Tapi, dari kisah-kisahnya, mungkin banyak orang belajar, dengan ataupun tanpa huruf R, seseorang bisa menjadi siapa saja yang dia inginkan.

Kholid Rosyidi Muhammad Nur, Melawan Keterbatasan, Menyebarkan Pengetahuan

BOCAH kecil itu duduk di bangkunya. Kelas begitu ramai, tapi dia tak bisa ikut serta dalam keriuhan tersebut. Jangankan berbincang dengan teman, membaca pun dia harus terbata-bata.

Itulah keterbatasan yang memang membuatnya tak percaya diri. Gagap atau kurang lancar bicara.

Tapi, lihatlah Kholid Rosyidi Muhammad Nur kini, si bocah yang telah menjadi pria dewasa itu. Semua yang tak terbayangkan bisa dia lakukan dulu sekarang menjadi bagian dari keseharian.

Dia dosen di Fakultas Keperawatan Universitas Jember. Bukan hanya itu. Kholid juga pernah merilis aplikasi Android tentang ilmu keperawatan dan memiliki penerbitan buku indie.

Dia juga seorang motivator. Lulusan S-2 Prince of Songkla University, Thailand, itu rutin pula ngevlog. Semuanya, seperti halnya dosen, otomatis menuntut keterampilan verbal. Bisa berbicara lancar di hadapan banyak orang.

Lalu, dari mana datangnya perubahan besar itu? Dari seorang yang tak lancar berbicara jadi seorang penyampai ilmu secara verbal -juga tulisan- yang sukses?

“Sejak SMP saya gandrung dengan buku-buku motivasi dan pengembangan diri. Buku pertama yang saya baca adalah karya Ary Ginanjar Agustian, lalu cari-cari semua buku yang dijadikan referensi olehnya,” lanjut pria asal Jember, Jawa Timur, itu kepada Jawa Pos Radar Jember.

Dengan kalimat lain, bukannya mengangkat tangan, Kholid mendobrak keterbatasan itu. Bagi pria penghobi seni tersebut, sukses dan gagal adalah satu paket yang tak bisa dipecah.

Ketika dihadapkan pada kegagalan, seseorang harus mencari cara cerdas supaya dapat menyelesaikannya hingga bangkit kembali. “Kalau ada yang gagal lantas terus mengeluh, nggak akan menyelesaikan masalah.”

Kelancarannya berbicara telah menyebarkan banyak ilmu, menghadirkan banyak teman, dan mendatangkan penghidupan yang mencukupi. Dia bukan lagi bocah kecil yang terasing di tengah keramaian. (jpc/int/ma)

Bagikan: