Bulan Ramadan disebut juga Bulan Pendidikan

Share this:
Ilustrasi

BULAN Ramadhan disebut juga Bulan Pendidikan atau Syahrul Tarbiyah. Meliputi pendidikan jihad (tarbiyah jihâdiyah), tarbiyah imâniyah (pendidikan iman), tarbiyah rûhiyah yakni melakukan pensucian jiwa (tazkiyah nafs), tarbiyah akhlâqiyah (pendidikan akhlaq) agar menjadi insan kamil, dan pendidikan sosial kemasyarakatan (tarbiyah ijtimâ‘iyah) yang berintikan kepedulian dan keberpihakan diri kepada kaum mustadh`afin (orang-orang lemah dan dilemahkan).

Misi Pendidikan Ramadhan tersebut di-break down dalam sekurangnya sepuluh paket ibadah Ramadhan. Yaitu: 1. Shaum (puasa) Ramadhan; 2. Qiyâm Ramadhân (shalat Tarawih); 3. Tilâwah (membaca dan meng-hayati) al-Qur`an; 4. Ifthâr Shâimîn (memberi makan berbuka); 5. Taktsir as Shadaqât wal Infâq (memperbanyak shadaqah dan infaq); 6. Al-I`tikâf fil `Asyril Awâkhir (I`tikaf 10 hari terakhir); 7. Taharri Lailatil Qadar (menghidupkan lailaitul qadar dengan memperbanyak ketaatan dan ibadah, termasuk i’tikaf); 8. Umrah fî Ramadhân (Umrah di bulan Ramaadhan); 9. Al-Qitâl fi Sabîlillâh (Berperang di jalan Allah); 10. Zakatul Fithri (Mengeluarkan Zakat Fitrah).

Paket pertama dan kesepuluh merupakan paket wajib, sedangkan lainnya adalah paket-paket pilihan yang semakin banyak dan maksimal paket-paket tersebut dipilih seorang mukmin, semakin potensial insya Allah meraih puncak hikmah shiyam, meraih derajat taqwa, la`allakum tattaquun.

1. Shiyam (Puasa). Rasulullah SAW berkata: “Setiap amalan anak Adam akan dilipatgandakan pahalanya, satu kebaikan akan berlipat menjadi 10 kebaikan sampai 700 kali lipat. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, ‘Kecuali puasa, sungguh dia bagianku dan Aku sendiri yang akan membalasnya, karena (orang yang berpuasa) dia telah meninggalkan syahwatnyadan makannya karena Aku’. Bagi orang yang berpuasa mendapat dua kegembiraan; gembira ketika berbuka puasa dan gembria ketika berjumpa Tuhannya dengan puasanya. Dan sesungguhnya bau tidak sedap mulutnya lebih wangi di sisi Allah dari pada bau minyak kesturi” (HR Bukhari dan Muslim).

Abu Hurairah ra meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW berwasiat: “Siapa berpuasa Ramadhan dengan keimanan dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (HR Bukhari dan Muslim).

2. Al-Qiyam (Shalat Malam atau Tarawih). Nabi Muhammad SAW berwasiat: “Barangsiapa yang menunaikan shalat malam di bulan Ramadan dengan keimanan dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (HR Bukhari dan Muslim).

Aisyah ra berkata: “Jangan tinggalkan shalat malam, karena sesungguhnya Rasulullah SAW tidak pernah meninggalkannya. Apabila beliau sakit atau melemah maka beliau shalat dengan duduk” (HR Abu Dawud dan Ahmad).

Sebaiknya shalat tarawih dilakukan berjamaah, sesuai wasiat Nabi SAW: “Siapa yang shalat bersama imamnya sehingga selesai, maka dicatat baginya shalat sepanjang malam” (HR Ahlus Sunan).

3. Shadaqah. “Shadaqah paling utama adalah shadaqah pada Bulan Ramadhan” (HR Imam At-Tirmidzi dari Anas ra). Bentuknya berupa:
a. Memberi Makan Kaum Dhuafa. Allah berfirman:

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya Kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesungguhnya Kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan. Maka Tuhan memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati. Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutera” (QS Al-Nsan: 8-12).

Rasullullah SAW berwasiat: “Wahai manusia, tebarkan salam, berilah makan, sambunglah silaturahim, dan shalatlah malam di saat manusia tidur, niscaya engkau akan masuk surga dengan selamat” (HR Ahmad, Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Al-Albani).

Bahkan ada beberapa ulama yang memberi makan orang lain padahal mereka sedang berpuasa (karena berhalangan atau musafir), seperti Abdullan bin Umar, Dawud al-Tha’i, Malik bin Dinar, dan Ahmad bin Hambal radhiyallahu ‘Anhum. Sedangkan Ibnu Umar ra membiasakan diri berbuka bersama anak-anak yatim dan orang-orang miskin.

b. Memberi Takjil bagi orang Puasa. “Siapa yang memberi berbuka orang puasa, baginya pahala seperti pahala orang berpuasa tadi tanpa dikurangi dari pahalanya sedikitpun” (HR Ahmad, Nasai, dan dishahihkan al-Albani).

Dan dalam hadits dari Salman ra: “Siapa yang memberi makan orang puasa di dalam bulan Ramadhan, maka diampuni dosanya, dibebaskan dari neraka, dan baginya pahala seperti pahala orang berpuasa tadi tanpa dikurangi sedikitpun dari pahalanya.”

4. Tilawah (Membaca dan Mempelajari) Al-Qur’an. Abu Hurairah ra meriwayatkan hadits dari Nabi SAW: “Dahulu Jibril mendatangi dan mengajarkan Al-Qur’an kepada Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam setiap tahun sekali (pada bulan ramadhan). Pada tahun wafatnya Rasulullah shalallahu ‘alayi wasallam Jibril mendatangi dan mengajarkan Al-Qur’an kepada beliau sebanyak dua kali” (HR Bukhari no 4614).

Ibnu Atsir ra menjelaskan hadits ini: “yaitu mempelajari (mudarasah) semua ayat Al-Quran yang turun” ( Al-Jami’ fi Gharib Hadits, 4/64).

5. Tafakkur di Masjid hingga terbit matahari. Imam al-Tirmidzi meriwayatkan dari Anas ra, bahwa Rasulullah SAW berwasiat:

“Siapa shalat Shubuh dengan berjama’ah, lalu duduk berdzikir kepada Allah hingga matahari terbit, lalu shalat dua raka’at, maka baginya seperti pahala haji dan umrah sempurna, sempurna , sempurna” (Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).

6. I’tikaf. I’tikaf merupakan ibadah yang berkumpul padanya bermacam-macam ketaatan; berupa tilawah, shalat, dzikir, doa dan lainnya. Bagi orang yang belum pernah melaksanakannya, i’tikaf dirasa sangat berat. Namun, pastinya ia akan mudah bagi siapa yang Allah mudahkan. Maka siapa yang berangkat dengan niat yang benar dan tekad kuat pasti Allah akan menolong.

Dianjurkan i’tikaf di sepuluh hari terakhir adalah untuk mendapatkan Lailatul Qadar.

Rasulullah SAW senantiasa beri’tikaf pada Bulan Ramadhan selama 10 hari. Dan pada tahun akan diwafatkannya, beliau beri’tikaf selama 20 hari (HR Bukhari dan Muslim). 8. Menghidupkan Lailatul Qadar. Allah Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadar: 1-3)

Rasulullah SAW berwasiat: “Dan siapa shalat pada Lailatul Qadar didasari imandan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (HR Bukhari dan Muslim).

Adalah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berusaha mencari Lailatul Qadar dan memerintahkan para sahabatnya untuk mencarinya. Beliau juga membangunkan keluarganya pada malam sepuluh hari terakhir dengan harapan mendapatkan Lailatul Qadar. Dalam Musnad Ahmad, dari Ubadah secara marfu’, “Siapa yang shalat untuk mencari Lailatul Qadar, lalu ia mendapatkannya, maka diampuni dosa-dosa-nya yang telah lalu dan akan datang.”

7. Umrah pada Ramadhan. Nabi SAW berwasiat: “Umrah pada bulan Ramadhan menyerupai haji” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

8. Memperbanyak dzikir, doa dan istighfar. Sesungguhnya malam dan siang Ramadhan adalah waktu-waktu yang mulia dan utama, maka manfaatkanlah dengan memperbanyak dzikir dan doa, khususnya pada waktu-waktu istijabah, di antaranya: Saat berbuka, karena seorang yang berpuasa saat ia berbuka memiliki doa yang tak ditolak. Sepertiga malam terakhir saat Allah turun ke langit dunia dan berfirman, “Adakah orang yang meminta, pasti aku beri. Adakah orang beristighfar, pasti Aku ampuni dia.”

Dan beristighfar di waktu sahur, seperti yang Allah firmankan, “Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah)” (QS Al-Dzaariyat: 18). (Taf)

Share this: