Rita Tringani Ginting Sukses Pasarkan Ecoprint di 80 Negara

Share this:
Rita Tringani Ginting menunjukkan kain ecoprint hasil karyanya.

Rita menjelaskannya secara singkat. Katanya, diawali dengan memilih bahan baku kain, bisa katun ataupun sutra. Namun kalau kain sutra harganya lebih mahal, tapi memiliki kualitas yang baik dan hampir tidak ada kegagalan jika dibuat sebagai bahan untuk dimotif dengan teknik ecoprint.

Selanjutnya, bahan baku kain tersebut lebih dulu direbus selama lebih kurang 2 jam untuk menghilangkan zat-zat kimia yang ada pada kain. Selanjutnya, kain tersebut dipindahkan ke tempat yang bukan almanium dan didiamkan selama satu malaman.

Kemudian barulah masuk pada proses pemilihan daun yang akan dijadikan sebagai motif. Dalam proses ini, sebaiknya memilih daun yang memiliki kadar tanin tinggi agar warna daun bisa menempel pada kain. Seperti daun jati, kalpataru, daun lanang, daun jarak, daun mangsi dan lainnya.

Kemudian, berbagai macam daun tersebut direkatkan di bahan kain yang sudah disiapkan. Letaknya pun bebas sesuai dengan selera dan motif yang diinginkan. Setelah itu, kain pun dilipat atau digulung dengan rapi untuk kemudian dimasukkan dalam panci dan dikukus selama 1 atau 2 jam. “Lebih lama lebih bagus,” ujarnya.

Setelah selesai, barulah masuk proses fixsasi. Gulungan kain lalu direndam air tawas ataupun tunjungan. Tujuannya yaitu agar warna daun tidak luntur saat dicuci.Rita mengaku, hasil yang diberikan dari proses ecoprint sangat menarik. Sebab, warna dan motif yang dihasilkan pada tiap-tiap kain berbeda. “Itu yang membuat kain ecoprint unik dan eksklusif,” ucapnya.

Rita yang juga aktif diberbagai komunitas craft di kawasan Bekasi inipun juga mengaplikasikan teknik ecoprint pada berbagai produk kerajinan tangan lainnya, seperti tas, tempat tissu, Coaster dan produk kerajinan tangan lainnya.
Dan untuk memperkenalkan hasil karyanya itu, Rita yang juga pengurus di Wanita Pengusaha Muslimah Indonesia (WPMI) itu kerap mengikuti pameran maupun kurasi yang diselenggarakan disejumlah daerah.
Dan terakhir, Rita mengikuti kurasi yang diselenggarakan Maskapai Garuda & CT-Link bekerjasama dengan WPMI. Dalam kurasi ini, Rita menampilkan sejumlah produk seperti kain ecoprint, tas dan coaster. Kurator yang langsung dilakukan oleh pihak Maskapai Garuda itupun lantas memilih kain ecoprint karya Rita Tringani Ginting sebagai pemenang.

Keberhasilan itupun lantas membuka peluang bisnis bagi Rita. Sebab pada 7 November 2018 lalu, pihak Maskapai Garuda resmi membuat MoU dengan Rita Tringani Ginting dalam hal kerjasama pemasaran produk kain ecoprint hasil karyanya. Dan kini, disetiap inflight dan terminal maskapai Garuda yang tersebar di 80 negara di dunia, telah terpajang kain ecoprint karya anak Labuhanbatu tersebut. Cukup membanggakan bukan.
“Saya sudah cek dibeberapa negara, memang sudah ada, pihak maskapai menjualnya dengan harga sekitar Rp750 ribu per piece nya,” ungkapnya.

Namun jika konsumen melakukan pembelian langsung kepadanya, selembar kain ecoprint berbahan katun, dengan lebar sekitar 2 meter, biasanya hanya dijual dengan harga Rp250 ribu.
Sedangkan untuk kain ecoprint berbahan sutra, dijual dikisaran harga Rp750 ribu. Menurut Rita, mereka konsumen kain ecoprint ini datang dari berbagai kalangan, mulai dari kalangan pejabat hinggan kalangan selebritis.
“Terakhir itu pasangan artis Chicco Jerikho, ini mereka pakai produk kita,” ucap Rita sambil menunjukkan foto artis yang tersimpan di galeri handphone androidnya.

Pencapaian itu semua rupanya belum membuat Rita puas. Kedepan, Rita berkeinginan mengembangkan pruduk ecoprint ini dalam berbagai hasil kerajianan tangan. Termasuk ingin menjadikan ecoprint sebagai bahan
fashion atau pakaian jadi. Menurutnya, hal ini tentu memiliki peluan bisnis yang menjanjikan. “Seperti pakaian yang saya pakai ini, sebagaian bahannya ini ecoprint,” ucap Rita.

Pantas saja, sedari awal terlihat, pakaian yang dikenakan wanita berkulit putih itu memang memancing perhatian. Dimana pada bagian lengannya terlihat motif indah dedaunan. Cukup modis dan berkelas jika dipandang. Jadi, tentu sangat mungkin jika produk fashion ecoprint ini bisa dijadikan ladang bisnis yang menjanjikan.
“Ini yang akan kita lakukan, bagaimana nantinya kita memiliki produk fashion dengan brand sendiri, semoga bisa tercapai,” harapnya.

Dan diakhir perbincangan kami, Rita pun memotivasi anak muda di Labuhanbatu untuk tidak takut memulai industri kreatif, meskipun dimulai dari hal terkecil dengan segala keterbatasan.

“Jangan takut memulai, terus berkarya,” tandas wanita yang juga pernah menjadi model di kota Bandung itu. (nik)

Share this: