Pendidikan, Cegah Korupsi Sejak Dini

Bagikan:
Ilustrasi

Pendidikan merupakan hal yang paling mempengaruhi perilaku setiap individu. Maka pendidikan mempunyai peluang yang sangat besar untuk pencegahan korupsi. 

OLEH ASEP SAFA’AT SIREGAR
Penulis adalah Guru dan Kepala Divisi Humas, Pemasaran dan Bank Data Pesantren Modern Unggulan Terpadu “Darul Mursyid” (PDM), Sekretaris Umum PC. PMII Padangsidimpuan-Tapanuli Selatan Periode 2007-2009.

Penerapan anti korupsi harus ditanamkan sejak dini dalam pembentukan karakter generasi anak bangsa.Pendidikan anti korupsi sejak dini sangat penting guna mencegah adanya perilaku korupsi untu masa yang akan datang.

Pendidikan anti korupsi telah masuk kedalam kurikulum pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi mulai tahun 2012. Pendidikan anti korupsi sejak dini membawa harapan baru bagi masyarakat Indonesia, sehingga di masa depan kasus korupsi bisa diberantas secara baik dan menyeluruh.

Seperti kita ketahui bahwa korupsi di negeri kita sekarang sudah merambah kesemua instansi dan bahkan ke semua lini kehidupan, bahkan telah menjadi suatu “tradisi”. Pemerintah telah melakukan berbagai upaya dalam menangani korupsi dan hukum yang sangat tegas.

Hasilnya, tetap saja kasus korupsi masih menjadi topik yang selalu ada di setiap pemberitaan media televisi kita. Ironinya, pelaku korupsi terlihat tidak punya rasa malu dengan senyum lebar sumringah telah berhasil memakan uang negara.
Kita tidak larut pada bagaimana sikap dan hukuman yang diterima mereka (pelaku korupsi). Kini yang harus kita pikirkan adalah solusi untuk mencegah agar kasus dan tindakan Korupsi tidak terulang pada generasi mendatang yang nota bene anak dan keturunan kita.

Salah satu upaya yang terbaik untuk mengatasi korupsi adalah dengan memberikan pendidikan anti korupsi dini kepada kalangan generasi muda sekarang. Karena generasi muda adalah generasi penerus yang akan menggantikan kedudukan para penjabat terdahulu dan juga kita sendiri sebagai orangtua.

Kita juga faham bahwa generasi muda sangat mudah terpengaruh dengan lingkungan di sekitarnya. Maka, kita lebih mudah mendidikdan mempengaruhi generasi muda supaya tidak melakukan korupsi sebelum mereka lebih dulu dipengaruhi oleh “tradisi” korupsi dari generasi ke generasi.

Korupsi adalah perbuatan melawan hukum dengan maksud memperkaya diri sendiri atau orang lain yang dapat merugikan keuangan atau perekonomian negara (Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001).

Korupsi kini menjadi fenomena sosial yang telah berkembang secara sistemik dan menjadi budaya di negara kita.Tindakan korupsi sepertinya sudah melekat kedalam sistem operasional birokrasi sehari-hari dan sudah dianggap lazim serta tidak merasa bersalah ketika melakukannya.

Untuk itu penulis mencoba menawarkan 6 (enam) solusi pencegahannya lewat pendidikan anti korupsi sejak dini yang dapat diberikan orang tua kepada anaknya di lingkungan keluarga melalui model pembelajaran berbasis pembentukan karakter.

Pertama, menanamkan pelajaran agama yang berbicara langsung tentang keharaman dan tercelanya sikap korupsi. Tentu dengan defenisi yang sangat sederhana sehingga bisa dicerna anak-anak. Akan lebih bagus jika disertakan dengan beberapa contoh yang termasuk dalam perbuatan korupsi.

Seperti, menyembunyikan sisa belanja, mengambil uang jajan tanpa izin, mengambil bagian makanan orang lain secara paksa dan lain sebagainya yang bersentuhan langsung dalam dunia anak-anak. Pendidikan agama dan kekuatan iman menjadi benteng terakhir dan paling ampuh dalam mencegah setiap perbuatan terlarang termasuk perbuatan korupsi.
Kedua, Memberikan contoh atau keteladanan. Keteladanan merupakan hal yang paling utama kedua setelah penanaman doktrin agama. Bagaimanapun konsep dan teori pencegahan yang ingin kita terapkan akan berbuah sia-sia tanpa keteladanan kita sebagai orang terdekatnya.

Keteladanan menghindari perbuatan korupsi dalam bentuk sekecil apapun akan menjadi hukum bagi anak, bahwa dia akan merasa terbebabani bila keluar dari contoh yang kita perbuat. Sebaliknya akan menjadi bumerang bagi kita bila kita hanya pandai menganjurkan, mengajarkan jika kita tidak aplikasikan dalam kehidupan nyata kita sehari-hari.

Ketiga, menghindari pemberian imbalan bersifat materi. Kerap kali orangtua memberikan penghargaan pada anaknya dengan memberikan imbalan uang, makanan jajanan, barang mainan dan bentuk lainnya yang bersifat materi. Padahal tanpa kita sadari hal tersebut secara langsung memberikan pendidikan bagi anak kita bahwa setiap penghargaan harus disertakan dan dibuktikan dengan materi.

Bagikan: