Paradoks Pendidikan Kita

Bagikan:
Ilustrasi

Pendidikan merupakan tonggak kemajuan suatu bangsa. Bangsa yang maju adalah bangsa yang memperhatikan dan memajukan kualitas pendidikan rakyatnya. Namun pada saat yang sama pendidikan bisa menjadi kambing hitam masalah bangsa.

OLEH: ASEP SAFA’AT SIREGAR
Penulis guru dan Kepala Divisi Humas, Pemasaran dan Bank Data Pesantren Modern Unggulan Terpadu “Darul Mursyid” (PDM), Tapanuli Selatan.

Dinamkia persoalan bangsa tidak terlepas dari bentuk pendidikannya seperti apa. Karena kasus korupsi, kolusi, nepotisme dan tindakan tidak terpuji lainnya dilakukan oleh orang-orang yang terpelajar, bahkan mayoritas didalangi orang dengan pendidikan tinggi, sarjana, doktor, bahkan profesor lengka dengan embel-embel panggilan spritualnya.

Negara kita Indonesia yang telah berusia lebih dari setengah seabad, masih terus berbenah dalam dunia pendidikan. Masih kita temukan anak-anak putus sekolah, sekolah yang minim guru, fasilitas sekolah yang tidak layak, gedung sekolah yang tidak bersiswa, pengangguran setelah tamat sekolah, gaji guru yang masih memprihatinkan, korupsi oleh oknum guru atau pengelola sekolah, membuat hati kita merasa miris dan hampir pesimis akan perbaikan kondisi pendidikan di negeri kita sebagaiman idealnya. Bingung entah dari mana memulainya.

Padahal Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 mengamanatkan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Yang dijamin kembali pada Pasal 31 ayat (1) Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan. Undang-undang ini tentunya berlaku untuk seluruh warga negara Republik Indonesia dari pulau Sumatera hingga Pulau Papua dan ribuan pulau lainnya.

Kita meyakini bahwa substansi pendidikan berubahnya tingkah laku peserta didik ke arah yang positif, perilaku yang baik dan memiliki karakter insan tercerdaskan. Namun berbanding terbalik kita saksikan kini banyak kasus kita saksikan kaum terpelajar, tawuran, diskriminasi, bullying, buat video mesum, konflik sara, premanisme, mencontek, plagiat, serta mengabaikan nilai nilai agama, lebih mementingkan meraih nilai tinggi ketimbang meraih moral yang bagus dan bentuk lain cerminan bukti kegagalan pendidikan kita.

Bagikan: