Menu

Kobarkan Semangat Jurnalisme Damai

Perdana Ramadhan
Pengurus dan anggota PWI Asahan sebelum keberangkatan menuju Padang, Sumatera Barat.

MetroAsahan.com – Media bukan hanya milik para wartawan. Tapi menjadi milik hampir semua orang. Asalkan orang tersebut memiliki akses ke dunia maya, ia juga bisa menjadi seorang jurnalis yang dikenal dengan nama citizen journalism.

Hal tersebut disampaikan Indra Sikumbang, selaku Ketua PWI Kabupaten Asahan dalam menyikapi Hari Pers Nasional (HPN).

“Maka itu, sebagai seorang jurnalis, kita juga harus mengedepankan etika jurnalisme damai. Menjadi penyejuk atas konflik atau persoalan yang ada, menjadi alat control yang bijak di tengah maraknya kabar hoax,” ujar Indra.

Mantan Sekretaris PWI Asahan ini menambahkan, ketika kita memegang prinsip jurnalisme damai, berarti juga memegang prinsip kemanusiaan dan sikap anti-perpecahan.

“Kita pahami bahwa NKRI terdiri dari beragam suku, etnis, agama, dan budaya yang rawan terjadi perpecahan. Ketika kita menyulut isu berbau SARA dan memaparkan informasi di media tanpa prinsip jurnalisme damai, maka jelas konflik, pertikaian, dan perpecahan akan terjadi,” ujarnya.

Ia meminta kepada seluruh insan jurnalis di Kabupaten Asahan khususya agar bijak dalam menyebarkan berbagai informasi. Informasi yang disebarkan haruslah informasi yang benar serta tida memicu konflik.

Di samping itu, dalam Pasal 3 Kode Etik Jurnalistik (KEJ) SK Dewan Pers No. 03/SK-DP/III/2006, secara jelas diuraikan bahwa wartawan Indonesia selalu menguju informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah.

Pasal 4 juga menegaskan bahwa Wartawan Indonesia tidak membuat berita bohong, fitnah, sadis dan cabul. Dan pada Pasal 8 KEJ juga dipaparkan wartawan tidak menulis berita berdasarkan prasangka atau diskirminasi terhadap seseorang dan tidak merendahkan martabat orang lemah, sakit, dan cacat.

“Agaknya, kode etik ini juga harus dipakai oleh setiap orang yang bermedia. Sebab, bagaimana pun informasi yang disampaikan di media massa maupun media sosial akan dapat mempengaruhi pembacanya melalui proses pembingkaian berita, pengemasan dan penggambaran fakta, pemilihan sudut pandang, serta penempatan foto ataupun gambar,” ujarnya.
Di sinilah media dihadapkan pada dua realitas, yaitu sebagai peruncing konflik atau sebagai mediator untuk mengakhiri konflik. Media bisa menjadi alat propaganda dan alat perdamaian. Semua itu tergantung pada insan pers yang memberitakan.

“Momentum HPN ini bagi jurnalis dijadikan refleksi agar lebih mawas diri dalam bekerja sesuai dengan kode etik dan memberikan pencerdasan dalam bentuk berita kepada masyarakat,” sebut Indra. (per) 

Loading...