Meski Sempit Pelayanan Tetap Prima Melihat Kantor Kelurahan Tegal Sari

Bagikan:
Kondisi kantor Lurah Tegal Sari Kisaran yang berukuran lebar 3,8 Meter dan panjang 12,3 Meter. (Perdana Ramadhan / Metro Asahan).

MetroAsahan.com, KISARAN – Kantor Kelurahan Tegal Sari, Kecamatan Kota Kisaran Barat, Kabupaten Asahan bukanlah kantor lurah biasa. Lokasinya terletak di tengah bangunan pertokoan Jalan Panglima Polem No 17. Sepintas bangunan kantor ini terlihat seperti dikepung bangunan pertokoan tinggi di sekitarnya.

Menurut sejarah, Kelurahan Tegal Sari ini berdiri hasil dari pemekaran Kelurahan Kisaran Barat yang dimekarkan menjadi dua yakni Tegal Sari dan Sendang Sari pada tahun 1993.

Tak seperti ideal kantor lurah lainnya, kantor kelurahan Tegal Sari ini memiliki lebar 3,8 meter dan panjang 12,3 meter. Meski berkantor di atas lahan seadanya bahkan bisa dikatakan sangat sempit untuk sebuah kantor, namun tak membuat sempit hati pelayan dan staf kelurahannya untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat.

“Alhamdulillah yang ini saja bekerja di sini bisa kami nikmati,” kata Farida Hanum tersenyum selaku staf kantor kelurahan yang sudah mengabdikan diri menjadi pelayan masyarakat di Kelurahan Tegal Sari.

Menurut Farida Hanum, kantor lurah yang mereka tempati dulunya sebelum tahun 1993 difungsikan menjadi kantor kelurahan adalah kantor Perhimpunan Nelayan, yang mana lahan tersebut merupakan satu satunya asset Pemkab Asahan yang terletak di wilayah kelurahan Tegal Sari.

Sebanyak delapan staf kelurahan dengan urusan dan bidangnya masing-masing harus bergabung dalam satu ruangan. Tanpa ruangan tersendiri, masing masing staf kelurahan hanya difasilitasi sebuah meja dan kursi untuk mengoptimalkan tugas dan fungsi urusan masing masing staf.

Yang menjadi pembeda di ruangan tersebut hanya ruangan lurah. Itupun hanya berukuran sekitar 2,5 kali 3 meter persegi. Jika masuk waktu shalat seperti Zuhur dan Ashar jangan heran kalau ruang pribadi Pak Lurah berubah menjadi mushala tempat shalat para pegawai dan staf kelurahan menunaikan ibadah wajib. Sementara di balik dinding ruang lurah, terdapat kamar mandi berukuran sekitar dua meter persegi dan beberapa lemari penyimpanan arsip dan berkas-berkas.

Belum cukup sampai di situ, di belakang Kantor Lurah Tegal Sari ini masih terdapat sebuah rumah warga yang sudah ditinggali puluhan tahun oleh satu kepala keluarga. Jika mereka mau masuk harus melalui pintu kantor lurah yang tak berpagar, lalu masuk ke sebelah kanan melawati lorong sepanjang hampir sepuluh meter.

Moh Ibnu Afandi, lurah Kelurahan Tegal Sari saat berbincang kepada Metro Asahan mengaku tak begitu mempersoalkan luas kantor lurah yang seadanya itu. Bahkan dia merasa dengan kantor yang seadanya itu sangat memudahkan dirinya untuk memantau kinerja harian para staf kelurahannya.

“Ya seperti inilah kantornya bang. Kalau suka dukanya banyak. Sukanya aku bisa memantau langsung kinerja para staf ini karena kantor kami ini tak punya sekat,” kata Ibnu saat berbincang ringan bersama wartawan.

Ibnu juga mengatakan dengan kondisi kantor yang demikian kadangkala ia harus meminjam tempat lain jika sudah masuk bantuan beras kesejahteraan (Rastra) dan melakukan rapat bersama warga yang jumlah peserta rapatnya di atas 20 orang.

“Cuma, kalau misal datang beras Rasta itu tidak diletak di kantor ini. Kalau ke sini semua ber ton ton beras datang bisa tertutup beras semua ruangan ini. Kami biasanya pinjam halaman Mushola Pusaka Nabi yang hanya beberapa puluh meter dari kantor lurah. Termasuk untuk rapat-rapat yang jumlahnya besar,” ucapnya.

Secara pribadi, Ibnu juga tak begitu mempersoalkan kantor lurahnya yang kecil. Sejak awal menjabat lurah pada Mei 2017 lalu, alumni Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) angkatan XIX ini juga sudah terbiasa bertandang ke kantor tersebut karena rekan angkatannya pernah menjadi sekretaris lurah di Tegal Sari.

“Biasa aja Bang. Jadi Lurah ini kan amanah jabatan yang paling penting itu gimana kita member pelayanan yang maksimal ke masyarakat,” ujarnya. (per/ma)

Bagikan: