Butuh Bantuan, Berharap Mukjizat Kesembuhan

Bagikan:
Kondisi Nek Ponikem warga Desa Sei Nangka, Kabupaten Asahan yang menderita perut besar. (F/Ist/Metro Asahan).

MetroAsahan.com , KISARAN – Tak ada satupun manusia di dunia ini yang ingin menderita sakit yang menahun. Namun, jika takdir sudah berkehendak tak ada yang mampu menolak.

Itu pula yang kini dialami Ponikem. Nenek 82 tahun ini harus ikhlas menerima suratan takdir menderita penyakit aneh dan langka yang lama menghinggapinya.

Delapan tahun warga Dusun I, Desa Sei Nangka, Kecamatan Sei Kepayang Barat, Kabupaten Asahan menderita penyakit perut membesar.

Saat berkunjung ke rumahnya, kondisi Ponikem sangat memprihatinkan. Perekonomian yang serba sulit membuat dia hanya bisa terbaring lemas di rumahnya.

Mulyadi (40) anak lelaki Ponikem mengatakan, penyakit ibunya ini sudah nampak sejak tahun 2011. Awalnya dikira hanya sakit perut biasa. Oleh keluarga hanya memeriksakan ke Puskesmas setempat.

“Awalnya ada benjolan di perut mamak itu. Tapi tak besar. Kami sudah bawa ke puskesmas. Pernah juga dibawa ke rumah sakit Adam Malik Medan. Karena tak punya biaya, kami bawa pulang dan berobat di rumah saja,” kata Mulyadi.

Kini Ponikem tak bisa banyak beraktivitas. Sehari-hari dia hanya bisa berbaring menahan sakit. Untuk urusan makan dan buang air, anak dan menantunya selalu membantu. Semakin hari, perut Ponikem semakin membesar.

Kalau duduk, ia harus menggunakan bantuan seutas tali yang disiapkan di atas ranjangnya.

Lebih jauh, Mulyadi memaparkan, perihal penyakit ibunya, mereka tidak tahu persis apa muasal ibu mereka menderita penyakit yang demikian. Awalnya hanya tampak seperti benjolan kecil. Namun lama kelamaan ukurannya semakin membesar dan terus membesar.

“Segala cara sudah kami buat. Berobat ke sana kemari. Harta yang dijual juga pelan-pelan sudah habis,” katanya sembari menambahkan orangtuanya itu hingga kini belum terdaftar sebagai kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Hingga tahun 2013 lalu, Nek Ponikem sempat mendapat perawatan selama beberapa bulan di Rumah Sakit Adam Malik Medan. Namun hasilnya tidak begitu berdampak sehingga mereka membawa pulang akibat ketiadaan biaya.

“Dulu masuk pengobatan umum. Karena biaya sudah tak ada lagi, akhirnya kami bawa pulang,” katanya.

Untuk saat ini, Mulyadi yang sehari-harinya bekerja sebagai penarik becak berharap ada dukungan atau bantuan para dermawan.

“Kami sangat berharap bantuan dan mukjijat kesembuhan kepada orangtua kami ini. Hanya saja sampai saat ini Mamak belum mau dibawa ke rumah sakit. Dia bilang masih trauma pas dirawat di Adam Malik , tak ada hasil. Ini masih kami bujuk. Memang sudah ada tawaran dari orang kesehatan yang datang ke rumah agar Mamak dirawat di Rumah Sakit Umum Kisaran,” kata Mulyadi kembali sembari memberikan nomor kontak miliknya 081396955633.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Asahan dr Aris Yudhariansyah saat dikofirmasi mengatakan, saat ini petugas kesehatan sudah rutin melakukan pemeriksaan terhadap Nek Ponikem.

Meski begitu, ia berharap agar pihak keluarga membujuk pasien agar dirawat di RSUD HAMS Kisaran.

“BPJS nya sudah diurus. Sudah kita dampingi juga yang bersangkutan. Mohon bantuan yang bersangkutan agar mau dirujuk ke RSUD,” kata Aris melalui pesan whatsapp. (per/des/ma)

 

Bagikan: