Terdakwa Kasus ITE Dituntut 3 Tahun Penjara

Bagikan:
Terdakwa saat menjalani persidangan di Pengadilan Negeri Kisaran. (F/Ist/Metro Asahan)

MetroAsahan.com, KISARAN – Terdakwa SP yang didakwa melakukan ujaran kebencian di media sosial facebook dituntut Jaksa Penuntut Umum (JPU) dengan ancaman pidana 3 tahun penjara dan denda Rp1 miliar subsidair 6 bulan masa tahanan di Pengadilan Negeri Kisaran.

Menanggapi tuntutan tersebut, Komisi Hukum MUI Asahan Numat Adam Nasution menilai, bahwa tuntutan yang diberikan jaksa dirasa kurang rasional. Seharusnya, terdakwa dituntut dengan ancaman pidana maksimal 6 tahun penjara.

“Tuntutan tiga tahun terhadap SP itu kurang rasional. Seharusnya dituntut dengan ancaman pidana enam tahun penjara. Karena tidak ada keterangan yang meringankan,” kata Numat Adam, saat diwawancarai wartawan, Jumat (11/1).

Meski dirasa kurang rasional, pihaknya tetap menghormati proses hukum.

“Tuntutan itu tetap kita hormati. Kita lihat saja dulu, seperti apa nanti putusan akhirnya,” pungkas Numat Adam Nasution yang juga sebagai Ketua Lembaga Advokasi Umat Islam (LADUI) Asahan ini.

Sebelumnya dalam sidang tuntutan yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Elfian SH MH, Rabu (9/1) di Pengadilan Negeri Kisaran kembali melanjutkan sidang terhadap terdakwa yang berprofesi sebagai Polri di Polres Asahan itu.

“Meminta kepada Majelis Hakim Pengadilan Negeri Kisaran yang memeriksa dan mengadili perkara ini, supaya memutuskan terdakwa bersalah, dengan pidana penjara selama 3 tahun, dikurangkan masa tahanan selama dalam penjara, dan denda sebesar Rp1 miliar, subsidair 6 bulan kurungan penjara,” kata jaksa Khairul Rahman didampingi Essa Hendra dan Sabri Marbun.

Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur pada Pasal 45a ayat (2) Undang-Undang (UU) RI Nomor 19 tentang Perubahan atas UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Hal-hal yang memberatkan terdakwa adalah sebagai anggota kepolisian. Seharusnya terdakwa memberikan contoh yang baik kepada masyarakat. Kemudian perbuatan terdakwa mengakibatkan timbulnya rasa kebencian dan permusuhan antar umat beragama.

Setelah mendengarkan pembacaan surat tuntutan tersebut, Majelis Hakim yang diketuai Elfian meminta tanggapan kuasa hukum terdakwa, Edy Lubis. Edy mengatakan pihaknya akan memberikan pledoi pembelaan pada sidang selanjutnya.

Setelah mendengarkan tanggapan Kuasa Hukum terdakwa, Majelis Hakim menyatakan sidang ditunda hingga Senin (14/1), dengan agenda mendengar pembelaan terdakwa.

Sebelumnya, terdakwa SP diketahui memosting kata-kata ujaram kebencian di akun Facebook miliknya pada Kamis (23/08/2018). Tidak berapa lama kemudian, terdakwa menghapus status tersebut dan menulis kembali bahwa akun facebooknya dibajak orang lain. (per/bay/ma)

Bagikan: