Pak Bupati Mohon Jembatan Kami Diganti yang Baru Di Desa Bahung Sibatu-batu

Bagikan:
Jembatan Bahung Batu Batu yang rusak ancam nyawa pengguna jalan.(Zainal Arifin/Metro Asahan).

MetroAsahan.com, ASAHAN – Masyarakat Desa Bahung Sibatu-batu, Kecamatan Sei Dadap, Kabupaten Asahan, mengharapkan perbaikan jembatan penghubung lintas desa. Kondisi jembatan yang terbuat dari papan kayu ini telah lapuk, dan sangat mengancam keselamatan warga yang melintas.

“Pak Bupati, mohon jembatan kami ini diganti dengan yang baru. Kondisinya sudah gak layak dilewati. Jembatan ini satu satunya akses warga untuk mengangkut hasil pertanian, barang dan urusan lainnya ke ibukota kabupaten di Kisaran,” keluh Pardi (53) warga desa setempat, didampingi Herman (45) kepada wartawan, Kamis (31/1).
Karena sudah lapuk dan rusak, beberapa material kayunya tampak mulai keropos. Akibatnya, warga yang ingin melewati jembatan ini dengan bobot yang lebih berat harus berputar jalan melewati jalan yang lain, karena dikhawatirkan jembatan bisa roboh saat dilewati.

“Selain mengancam keselamatan pengguna jalan saat melintas, keperluan akan barang jasa juga terganggu. Warga harus berputar memilintas untuk menuju kantor desa dan masjid,” ucapnya lagi.

Pantauan wartawan, di atas jembatan ini terbentang parit dalam sekira enam meter. Tanpa pembatas atau penyangga, jika tak berhati-hati pengendara bisa saja jatuh terperosok ke dalam parit.

Kades Bahung Batu Batu Hasan Sinurat yang dikonfirmasi wartawan menuturkan, jembatan ini sudah masuk dalam usulan rencana pembangunan infrastruktur di tahun 2019. Namun, ia belum bisa memastikan apakah jembatan tersebut pada tahun ini bisa direalisasikan pembangunannya.

“Sejumlah usulan telah dibuat untuk memperbaik jembatan dan jalan. Bupati Asahan berjanji memperbaik jembatan hotmix jalan penghubung dusun ini menuju kantor desa. Mungkin sedang dalam proses,” sebutnya.

Meski demikian, Hasan mengatakan, pihaknya beberapa waktu lalu bekerjasama dengan TNI dan pemerintah kecamatan sudah pernah memperbaiki jembatan dengan mengganti beberapa material kayunya yang sudah lapuk. “Karena setiap hari digunakan mungkin sudah rusak lagi,” tutur Kades. (zar/per/ma)

Bagikan: