132 Warga Kena DBD, 2 Meninggal

Bagikan:
Memantau jentik (jumantik) di rumah merupakan salah satu cara memutus rantai perkembangan nyamuk. (F/Ist/Metro Asahan)

MetroAsahan.com, KISARAN – Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi momok menakutkan bagi masyarakat. Di Asahan sendiri, sepanjang tahun 2018 terdapat 132 warga yang kena DBD. Dua di antaranya meninggal dunia.

Meski angka ini berkurang dibanding tahun 2017, yakni 151 orang dengan korban meninggal sebanyak tiga orang, Pemkab Asahan tidak mau tinggal diam.

Pemkab langsung mengantisipasinya melalui gerakan satu rumah satu juru pemantik (Jumantik).

“Di Asahan angka penderita DBD di tahun 2017 sebanyak 151 pasien dengan korban meninggal tiga orang. Sementara pada tahun 2018 sebanyak 132 pasien dengan korban meninggal dunia sebanyak dua orang,” ujarnya kepada wartawan, Senin (11/2).

Menurut Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Asahan dr Aris Yudha Riansyah, gerakan satu rumah satu Jumantik ini dilakukan untuk mewujudkan Asahan bebas demam berdarah.

“Meski sejak dua tahun terakhir tren DBD turun dari tahun ke tahun, kita ingin memastikan penyakit yang disebabkan oleh nyamuk itu bisa hilang sepenuhnya terutama di Asahan,” kata Aris.

Dengan program 1 rumah 1 jumantik tersebut dia mengklaim sampai saat ini pihaknya masih rutin melaksanakan edukasi tentang antisipasi demam berdarah baik di tingkat sekolah maupun langsung ke masyarakat.

Sementara itu, Ketua TP PKK Asahan Hj Winda Fitrika sebagai mitra pemerintah ikut terlibat proaktif melaksanakan berbagai program dalam mengantisipasi penyebaran penyakit yang disebabkan oleh virus melalui gigitan nyamuk ini.

Ia mengatakan, lewat optimalisasi para kader PKK saat ini cukup membantu, karena memiliki fungsi dan peran yang cukup strategis dalam melaksanakan program pemberdayaan dan penyuluhan di lingkungan masyarakat khususnya keluarga.

Hj Winda telah meminta kepada TP PKK di seluruh tingkatan untuk turun langsung ke setiap rumah dan mengimbau masyarakat agar proaktif memaksimalkan gerakan 4M Plus (menguras tempat penyimpanan air, menutup) tempat penampungan air.

“Kemudian mengubur dengan membuang dan menutup barang bekas yang dapat menampung air, serta memantau semua wadah air yang dapat menjadi tempat nyamuk berkembang biak. Jangan menggantung pakaian dan memelihara ikan di tempat penampungan air,” ujarnya.

Di samping itu ia mengimbau masyarakat untuk menerapkan program gerakan 1 Rumah 1 Jumantik (Juru Pemantau Jentik) yang bertujuan untuk meminimalisir jumlah penderita dan jumlah kematian akibat Demam Berdarah melalui peran serta masyarakat dalam proses pencegahan.

“Saya berharap melalui proses pembinaan dan pemberdayaan peran masyarakat yang didukung sepenuhnya oleh Pemerintah Daerah melalui OPD terkait, penyebaran DBD di wilayah Asahan bisa diminimalisir. Dengan begitu, masyarakat akan lebih sehat dan bebas dari DBD,” pungkasnya. (per/ma)

Bagikan: