Sidang Pencurian 3 Zak Pupuk, Hakim Harus Adil

Bagikan:
Rija Nurmansyah Tanjung SH.

MetroAsahan.com, ASAHAN- Kasus pencurian 3 karung pupuk di PT PP Lonsum Gunung Melayu Estate tbk yang masih dalam proses persidangan mendapat sorotan dari Rija Nurmansyah Tanjung SH, seorang pengamat hukum di Kabupaten Asahan.

Menurut Rija, dari hasil persidangan yang ia ikuti di Pengadilan Negeri Kisaran beberapa hari yang lalu, ia menilai ada keganjalan dalam kasus tersebut.

Ditemui di kantornya, Rija mengatakan, Selamat Priono selaku terdakwa, Abdul Haris Sidik dan Dendri Rahmad Harahap selaku saksi tidak bersalah dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari, karena sudah sesuai dengan Standart Operasional Prosedur (SOP).

Salahsatu pakar Hukum di Asahan itu mengatakan, Selamat tidak bisa dinyatakan sebagai tersangka karena berdasarkan bukti yang ada, Selamat tidak mencuri pupuk itu dan jumlah karung kosong juga dihitung pas sesuai dengan yang diangkut ke dalam mobil angkutan.

Pengacara muda itu juga mengkaji interpensi yang dilakukan oleh Mandor 1 M Sofian Siregar terhadap kedua saksi yang bernama Dendri dan Haris. Menurutnya, hal itu adalah tindakan tekanan yang tidak benar terhadap saksi. Sehingga melanggar HAM berdasarkan Undang undang nomor 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi yang salah satu poinnya adalah Hak Memperoleh Keadilan, Hak Kebebasan Pribadi dan Hak Atas Rasa Aman.

Dalam pelanggaran tersebut, M Sofian bisa dilaporkan atas dasar Undang undang tersebut ke KOMNASHAM (Komisi Nasional Hak Asasi Manusia) dan pihak yang berwajib.

“Saya meminta kepada Majelis Hakim Pengadilan Negeri Kisaran agar bertindak dan memutuskan kasus itu secara arif dan bijaksana serta bersikap seadil adilnya,” jelasnya.

“Begitu juga dengan Jaksa Penuntut Umum agar bertindak sesuai dengan motto Kejaksaan “Tri Krama Adhyaksa” adalah doktrin Kejaksaan Indonesia. Satya, yang artinya kesetiaan yang bersumber pada rasa jujur, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, terhadap diri pribadi dan keluarga, maupun kepada sesama manusia,” sambungnya.

Menurut Rija, Pimpinan perusahaan PT PP Lonsum tidak bijaksana dalam menyikapi pengaduan M Sofian. Sehingga menimbulkan pencemaran nama baik, fitnah dan perbuatan yang tidak menyenangkan.

“Jelas kasihan mereka, (Selamat, Haris dan Dendri), mereka hanya karyawan kecil, hanya seorang sopir dan tukang bongkar muat. Bukanya disejahterakan, malah disengsarakan,” kata Rija.

“Dengan adanya tuntutan terhadap mereka yak tak bersalah, saya yakin mereka tak enak makan dan tak enak tidur,” sambungnya.

“Dari perbuatan Pimpinan Perusahaan tersebut, saya selaku Advokat menyarankan kepada Selamat Priono, Haris dan Dendri agar membuat laporan di kantor polisi atas dasar tindakan yang dibuat oleh Pimpinan Perusahaan itu,” ujarnya.

Menurutnya, seorang pimpinan bisa dituntut berdasarkan Kitab Undang undang Hukum Pidana pasal 310 ayat 1 dengan ancaman maksimal 9 bulan penjara sub pasal 311 dengan ancaman maksimal 4 tahun penjara sub pasal 335 dengan ancaman maksimal 1 tahun penjara, ungkapnya.

Selasa (18/12) lalu, Pengadilan Negeri (PN)  Kisaran menyidangkan perkara dugaan pencurian 3 zak pupuk oleh terdakwa Selamat Priono (43), supir truk yang bekerja untuk PT PP Lonsum Gunung Melayu Estate Tbk Asahan.
Dalam persidangan yang dipimpin oleh Hakim Ketua itu, dan Jaksa Penuntut Umum Clara H Siregar, Elfian SH MH terdapat fakta baru mengejutkan.

Dua saksi yang dihadirkan dari PT Lonsum yakni Abdul Haris Sidik dan Dendra Rahmad Harahap memberikan pengakuan baru tidak hanya mengejutkan hakim tetapi juga mengejutkan pimpinan persidangan.

Keduanya yang masih berstatus sebagai karyawan di perusahaan perkebunan itu ternyata lebih dulu diintervensi oleh Mandor agar memberikan kesaksian dan keterangan palsu kepada penyidik di Kepolisian sebelum akhirnya kasus tersebut bergulir ke meja hijau.

Haris dan Dendri bekerja sebagai karyawan tukang bongkar muat pupuk dan kenek truck yang dikemudikan oleh terdakwa Selamat.

Kesaksian mereka dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) kepada penyidik di kepolisian awalnya membenarkan bahwa terdakwa telah berbuat curang kepada perusahaan dengan cara mencuri pupuk sebanyak 3 karung yang menyebabkan perusahaan mengalami kerugian sekitar Rp1,5 juta rupiah.

“Itu tidak benar Pak. Keterangan kami itu tak benar, yang benar cerita yang saat ini kami sampaikan Pak. Sesungguhnya pada saat itu kami tidak ada melihat Selamat mencuri. Lagi pula semua pupuk sudah kami turunkan ke titik yang sudah ditentukan dan pupuknya pun sudah habis di dalam mobil,” ungkap kedua saksi kepada Majelis Hakim.

Haris dan Dendri mengaku, mereka terpaksa membuat kesaksian palsu itu kepada penyidik karena diintervensi dan diancam oleh mandor 1 bernama Sofian Siregar.

“Kami memberikan keterangan di kantor Polisi karena kami dipaksa oleh mandor 1 (S Siregar). Kami diancam Pak. Kalau kami enggak nurut, kami mau dipecat. Mandor 1 nyuruh agar kami bilang sama polisi bahwa memang benar Selamat Priono ada melakukan pencurian,” ucapnya.

Atas keterangan palsunya itu, Haris dan Dendri mengaku setiap hari dihantui perasaan bersalah dan tidak tenang menjalankan aktivitasnya karena terbebani pernyataan yang malah menjerat rekannya sendiri.

“Kami merasa bersalah dan terus dihantui rasa salah setiap hari pak hakim. Mau ngapain gak enak selalu ada yang mengganjal,” aku keduanya lagi.

Mendengar kesaksian dari keduanya, Majelis Hakim menjadi  sedikit kebingungan karena penjelasan para saksi tidak sesuai dengan yang ada di BAP. Dipersidangan berikutnya Mandon 1 M. Sofian Siregar mengikuti persidangan dan dimintai keterangan sebagai saksi.

Ia mengatakan bahwa ia tidak mengetahui kejadian yang sesungguhnya, ia hanya mendapat laporan dari seseorang.
“Saya dapat laporan dari informan. Pada waktu saya mengawasi kerja, ia datang dan mengadu ke saya bahwa ada yang bermain/mencuri pupuk. Si Selamat lah pelakunya. Lalu saya langsung lapor kepada Askep (Asisten Kepala),” katanya.

Dari berbagai keterangan para saksi Majelis Hakim memutuskan agar persidangan ditunda hingga tanggal 8 Januari 2018.

Seusai persidangan, Mahmudi selaku Askep (Asisten Kepala)  di PT PP Lonsum Gunung Melayu Estate Tbk saat diwawancarai oleh Metro Asahan, ia mengatakan tidak tahu.

“Saya tidak tahu, karena saya hanya mendapatkan laporan dan saya baru sekali ini mengikuti persidangan ini, terkait hal ini saya belum bisa komentar,” kata Askep. (bay/ma)

 

Bagikan: