Menu

Warga Kampung Ahli Waris Siap Berikan Kesaksian

Perdana Ramadhan / Metro Asahan.
Keluarga  Alm Jatio Simare Mare bersama warga kampung yang menyatakan dukungan dalam persidangan di PN Kisaran.

MetroAsahan.com, KISARAN – Sejumlah warga kampung Desa Aek Nauli Kecamatan Medang Deras siap memberikan kesaksian kepada majelis hakim di PN Kisaran untuk memperkuat keyakinan majelis hakin atas klaim tanah seluas 45 rante milik keluarga alm Jatio Simaremare.

“Kami kenal baik sama mendiang ini (Alm Jatio Simaremare). Saya kawan sekampungnya dan tau persis bagaimana dia membuka ladang di situ yang tiba-tiba diklaim punya orang lain,” kata Patan Butarbutar (65) salah seorang tetua masyarakat kampung Desa Aek Nauli kepada wartawan di PN Kisaran, Selasa (9/10). Butarbutar juga menambahkan jika diminta, pihaknya juga siap menghadirkan warga kampung lain di desa mereka untuk memberikan kesaksian terhadap lahan garapan yang usahakan oleh keluarga Jatio Simaremare. Hal yang sama juga dikatakan oleh Raulinda br Silalahi. Warga kampung setempat yang selama ini diamanahkan oleh keluarga Simaremare untuk mengusahai sebahagian tanah tersebut dengan tanaman palawija sejak puluhan tahun lalu.

“Terus terang opung itu yang izinkan saya bertanam di situ. Bahkan PBBnya pun dibayar ada sama kami sampai 2018 ini. Ini tiba tiba ada orang lain yang mengaku ngaku, dia punya bukti apa. Anak ku sudah lima orang besar dari ladang itu,” kata br Silalahi.

Informasi peroleh, gugatan perkara dengan nomor 27/Pdt.G/2018/PN Kis tanggal 21 Mei 2018 sudah menjalani beberapa kali persidangan hingga mendengarkan keterangan saksi. Perkara bermula ketika tahun 2015 lalu, diklaim secara lisan oleh Jahoras Siregar (tergugat) dan terus menyatakan bahwa tanah / ladang tersebut miliknya hingga perkara ini dilaporkan gugatannya ke PN Kisaran.

Sementara itu, Karman Rindu Simaremare anak dari Alm Jatio Simaremare menegaskan lahan tersebut sudah dikuasai oleh orangtuanya sejak tahun 1950-an. Ia meminta kepada Majelis Hakim di PN Kisaran untuk mengabulkan gugatan mereka.

“Tanah itu sudah lebih dulu diusahakan orang tua kami bertani sejak tahun 50 –an. Kami mohon hakim bersikap adil dan memutuskan kami berhak menguasai tanah itu,” kata Karman Simare Mare, didampingi enam saudara kandungnya dan kuasa hukum mereka. (per/pra/ma)

Loading...