PNS Dianiaya karena Minta Uang Belanja

Bagikan:
Ilustrasi.

MetroAsahan.com, Batubara – Seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemkab Batubara berinisial D (37) dianiaya suaminya, ZA (45). Perempuan yang berprofesi sebagai perawat dan bertugas di salahsatu Puskesmas itu ditunjang dan dipukuli setelah meminta uang belanja.

Penganiayaan yang dilakukan ZA terjadi pada Rabu (15/8) lalu, sekira pukul 22.00 WIB. Tak terima perlakuan suaminya, D akhirnya melaporkan kejadian tersebut ke Mapolres Batubara, belum lama ini.

Kepada wartawan, D mengisahkan penganiayaan yang dilakukan suaminya yang berprofesi sebagai sopir pribadi seorang mantan pejabat di lingkungan Pemkab Batubara.

“Malam itu aku dipukul dan ditunjang suamiku itu di hadapan dua orang yang bekerja di toko ponsel di rumahku. Ada terekam di CCTV itu semua,” ujar D membuka cerita.

Menurut D, memang lebih kurang 2 pekan sebelum peristiwa itu, hubungan dia dan suami memang sudah tidak harmonis. Dan, sepekan sebelum penganiayaan itu, pasangan suami istri ini bertengkar hebat. Buntut dari pertengkaran itu, keduanya pun pisah ranjang dan tidak bertegur sapa.

D tinggal di kediamannya di Dusun IV, Desa Pahang Kecamatan, Talawi, sementara ZA pulang ke rumah sekaligus tempat usahanya di Desa Binjai Baru.

Selanjutnya, pada Rabu (15/8), D mendatangi ZA di warung milik suaminya itu di Desa Binjai Baru untuk meminta uang belanja. Ketika itu, D juga mengajak sang suami untuk bersama mengantarkan anak mereka ke pesantren. Dari situ lah awal keributan itu terjadi.

Karena tak ada kesepakatan akibat cekcok mulut itu, D akhirnya pulang ke rumahnya.

“Mungkin dia tidak terima. Malam itu ia mendatangi aku di toko ponsel. Setiba di toko, tanpa basa-basi dia (ZA) langsung memukul dan menunjangiku,” sebut D.

Akibat kejadian itu D mengaku mengalami memar di bagian kaki, bengkak di bagian kepala dan telinga. Bahkan, sebagian rambutnya juga rontok diduga akibat ditarik ZA.

Usai kejadian itu juga, D menderita sakit sehingga harus mendapatkan perawatan medis. Alhasil, tugas pelayanan kesehatan yang sehari-hari diembannya juga jadi terhalang.

“Aku jatuh sakit dan hari itu tidak bisa masuk kerja. Tugas-tugasku terhalang. Tidur pun aku susah, sebab kepalaku bengkak akibat dipukul dia,” aku ibu satu ini.

Peristiwa pemukulan itu disaksikan Sandi dan Indah, dua orang yang bekerja di toko ponsel milik D.

Kepada wartawan, kedua saksi itu mengaku melihat langsung penganiayaan yang dilakukan ZA terhadap D. “Waktu itu kami lagi kerja di toko ponsel. Tiba-tiba suami ibu itu memukul dan menunjang dia (D). Ibu itu kemudian diseret ke ruang keluarga.

Di ruangan itu menurut kedua saksi, ZA terus memukul, menampar serta menendang D berkali-kali. “Ibu itu tidak melawan,” ujar kedua saksi.

Kasus itu kini sudah ditangani Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Sat Reskrim Polres Batubara.

Kapolres Batubara AKBP Robinson Simatupang SH MH, melalui Pjs Kasat Reskrim, AKP Hery Tambunan SH, saat dikonfirmasi, Sabtu (25/8) membenarkan adanya laporan terkait KDRT tersebut. “Masih kita proses,” sebut Tambunan singkat ketika dikonfirmasi. (tn/int)

Bagikan: