Cerita Keluarga Korban Kebakaran : Begitu Lihat Api, Kami Tidak Tau Mau Ngapain

Share this:
Kondisi rumah yang terbakar dan kini sudah rata dengan tanah. (f/ist)

KEBAKARAN yang melanda pangkalan elpiji 3 kg dan 30 unit rumah di Sei Berombang, Kecamatan Panai Hilir, Kabupaten Labuhanbatu 5 Juni lalu, membuat keluarga korban trauma.

Bagaimana tidak, seluruh harta benda mereka habis terbakar. Tidak ada yang bisa diselamatkan. Bahkan ‘menelan’ empat korban jiwa. Peristiwa memilukan itu terjadi dini hari atau sekitar pukul 03.30 WIB.
Pangkalan elpiji adalah milik Julham alias Pangku (50) yang turut menjadi korban dalam peristiwa itu, bersama istri dan kedua anaknya. Selama ini, pangkalan tersebut sekaligus sebagai tempat tinggal almarhum. Sementara dua anak korban yakni Jenni (15) dan Angel (11) sempat menyelamatkan diri bersama keponakannya. Dan, sampai saat ini keduanya masih trauma.

Hal serupa dialami korban lainnya. Seperti H Sulaiman Harun. Menurut Sulaiman, kejadian itu membuat keluarganya shock dan trauma.

“Kami shock. Kejadian itu masih segar di ingatanku. Saat kejadian tak ada yang bisa kami selamatkan. Saya pasrah begitu melihat rumah kami terbakar. Tak ada yang bisa kami lakukan karena kejadiannya sangat cepat. Harusnya keluarga pada saat itu bergembira karena menyambut takbir kemenangan untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri 1440 H. Tapi kenangan itu berubah menjadi duka,” terang Sulaiman Harun.
Dia mengaku sampai sekarang masih trauma melihat api. “Begitu melihat api yang sangat besar, semangat kami pun hilang. Apa yang mau kami ucapkan, apa yang harus kami buat, apa yang harus kami pegang, kami tidak tahu saat itu,” ungkapnya.

Pasca kebakaran, Sulaiman mengatakan bantuan mulai berdatangan. Baik dari keluarga, famili, para dermawan, Pemkab Labuhanbatu, bantuan pribadi dari Plt Bupati H Andi Suhaimi Dalimunthe dengan ASN lainnya.
“Merekalah yang mengurangi rasa kesedihan seluruh korban. Ini akan menjadi pelajaran buat kita. Kami berharap agar masyarakat lebih berhati-hati kedepannya. Jangan tempatkan barang yang mudah terbakar di tempat pemukiman yang padat. Kami tidak ingin kejadian pilu itu terulang kembali. Satu rumah yang terbakar, puluhan rumah kena imbasnya,” sebutnya.

Begitupun Sulaiman berharap tempat tinggal mereka kembali tegak berdiri. Sehingga para korban bisa kembali berkumpul bersama keluarga, yang saat ini mereka hanya bisa terima kenyataan dan menikmati kemurahan hati dari seanak famili yang mau menampung mereka.

Dari kebakaran yang terjadi, tidak ada yang tersisa, kecuali puing – puing bangunan yang hangus rata dengan tanah. Apa daya, tim pemadam kebakaran baru tiba di lokasi setelah amukan api yang hanguskan 30 rumah tersebut mereda.
Hal itu dikarenakan jarak yang cukup jauh yang harus ditempuh tim pemadam ke lokasi kebakaran. Ditambah dengan cepatnya api menyebar kala itu. Tak lain disebabkan oleh sebagian besar bangunan dari bahan yang mudah terbakar dan pula berada di lokasi sangat padat penduduk, dengan kondisi tidak ada jarak dari bangunan satu ke bangunan lainnya.

Kepulan api yang tampak seperti bukit itu hanya dipadamkan dengan kerja sama warga dengan anggota TNI dan Polri setempat, yang berjibaku menjinakan api. (zas/des)

Share this: