Menu

Disiksa Ayah & Ibu Tiri, Mulut Disulut Rokok, Kepala Dihantam Batu

Bangun Hasibuan/Metro Asahan
AU, bocah perempuan berusia 9 tahun di dampingi pihak Dinas PPA dan kepolisian.

MetroAsahan.com, LABUSEL – Seorang bocah perempuan, berinisial AU (9 tahun) sudah bertahun-tahun mengalami penganiayaan dan penyiksaan dari ayah kandungnya berinisial RAS dan ibu tirinya DI. Bibir korban disulut rokok, kepala dihantam batu gilingan dan punggung digigit ibu tirinya.

Terbongkarnya kasus ini setelah kakak kandung pelaku, Rita Khairani melaporkannya peristiwa yang dialami AU ke Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA) Kabupaten Labuhanbatu Selatan (Labusel).

“Ponakan saya ini AU dianiaya oleh adik saya RAS sudah bertahun-tahun, tetapi baru ini saya berani untuk mengadu karena sudah keterlaluan tingkah laku dari adik saya. Sampai-sampai orangtua saya diancam mau dibunuh kalau mengaduh ke kepolisian,” ujar Rita kepada Metro Asahan,  Jumat (27/7).

Kekejaman yang dialami korban terjadi di rumah pelaku di Dusun Pekan, Jalan Kampung Jawa, Desa Tanjung Medan, Kecamatan Kampung Rakyat, Kabupaten Labuhanbatu Selatan (Labusel).

Semula Rita Khairani melaporkan hal ini kepada Kepala Yayasan LBH Bela Rakyat Indonesia. Selanjutnya Ketua Yayasan LBH tersebut, Halomoan Panjaitan SH bersama Khairani mengadukan ke Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak Kabupaten Labuhanbatu Selatan, Selasa (25/7/2018). Isi aduan mohon untuk dilakukan pengawasan dan pemeriksaan kepada korban.

Tak berselang lama, Dinas PPA beserta Ketua Yayasan LBH Bela Rakyat Indonesia dan Khairani langsung menuju tempat kejadian.

Sesampainya di lokasi, terlihat ayah, ibu tiri, dan korban lagi istirahat. Kemudian pihak dari Dinas PPA menanyakan soal penganianyaan tersebut. Kontan saja pelaku menyangkal akan hal tersebut. “Saya tidak ada menganiaya anak saya,” cetusnya.

Selanjutnya,  Kabid Dinas PPA, Nelli Simanjuntak meminta ijin kepada orangtua korban untuk dilakukan pemeriksaan kesehatan (visum). Saat itu pelaku tidak mengasih korban untuk di bawah.

Beberapa waktu kemudian, Kapolsek Kampung Rakyat datang ke lokasi menanyakan langsung peristiwa itu ke si korban. “Apakah benar kamu dianiaya ayahmu,” ujar Kapolsek.

Ketika itu korban menjawab tidak, sambil melirik ayahnya. Kapolsek menyarankan agar orangtua korban mengijinkan si anak untuk dibawah oleh Dinas PPA untuk diperiksa kesehatannya. Kemudian sang ayah mengijinkan dan ikut ke rumah sakit umum Kota Pinang untuk diperiksa kesehatan si korban.

Tak lama kemudian, orangtua korban pulang. Sementara si anak masih tetap di rumah sakit di dampingi oleh Dinas PPA. Setelah si ayah pergi, barulah si korban mengaku bahwa bekas luka bakar di mulutnya karena disulut api rokok oleh sanga ayah. Kemudian benjolan yang ada di kepalanya adalah bekas pukulan batu gilingan yang dipukulkan ke kepala korban oleh ayahnya. Dan luka memar yang ada di bahu belakangnya adalah bekas gigitan dari ibu tirinya.

Korban merasa trauma dan tak mau untuk dipulangkan kepada orangtuanya, karena penganiayaan yang dilakukan ayah dan ibu tirinya tersebut.

Kemudian Dinas PPA mengamankan AU (korban) untuk sementara waktu, sembari menunggu proses hukum atas tindakan penganiayan oleh ayah dan ibu tirinya.

Sedangkan kedua orangtua korban, RAS dan ibu tirinya DI telah melarikan diri sejak peristiwa penganiayaan ini  terkuak.

Keduanya kini sedang dalam pencarian pihak kepolisian. “Kita sudah berkordinasi dengan petugas kepolisian untuk mencari kedua orangtua korban,” ujar Nelli, Kabid Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak Kabupaten Labusel. (bh/ma/nt) 

Loading...