Cinta Ngaku Dikejar-kejar dan Ditolak Anak-anak

Bagikan:
Cinta yang sedang tidur pulas dijaga ibu dan neneknya di Rumah Sakit Dr FL Tobing Sibolga. (Toga Sianturi/New Tapanuli/Metro Asahan)

MetroAsahan.com, SIBOLGA – Cinta Alfira Nasution, balita berusia 4 tahun yang jatuh dari lantai V gedung Rusunawa Sibolga, kondisinya saat ini mulai membaik. Namun di balik kejadian naas tersebut, ada cerita menarik tentang sosok misterius yang dilihat Cinta.

Ya, setelah siuman, Cinta sempat bercerita kepada ayah dan ibunya, sebuah cerita mistis yang terjadi sebelum ia terjun dari lantai V.

Seperti yang diceritakan Lina, ibu kandung Cinta saat ditemui di ruang rawat anak Rumah Sakit Dr FL Tobing Sibolga, Rabu (5/12). Sambil menjaga Cinta yang sedang tertidur, Lina menjelaskan cerita Cinta kepadanya. Berawal, saat dirinya mencoba bertanya kepada Cinta, kenapa sampai jatuh dari lantai V. Menurut Cinta, pagi itu saat dia tidur, ada dua sosok anak kecil berwajah seram yang mengganggu tidurnya. Lina berpendapat sosok misterius itu adalah makhluk gaib. Lantas karena terusik dengan tingkah kedua sosok tersebut, Cinta pun terjaga dari tidurnya dan berusaha lari.

“Ada anak-anak dua orang, kemudian ada seorang wanita dewasa, seperti ibu kedua sosok itu. Wanita itu terlihat oleh Cinta sedang membawa pisau. Lalu kedua sosok anak itu mengganggu Cinta tidur,” kata Lina menceritakan pengakuan Cinta kepadanya.

Selanjutnya kedua mahluk tersebut menurut Cinta, mengancamnya dengan pisau dan terus mengejarnya. Takut dilukai, putri kedua pasangan Afrizal dan Lina itu mencoba membuka pintu depan untuk keluar dari rumah. Namun sayang, pintu terkunci dari luar. Dengan perasaan takut, Cinta mencoba mencari jalan lain agar bisa selamat dari kejaran sosok tersebut.

“Pintu gak bisa dibuka, tapi dikunci ayahnya dari luar, pas mau mengantarkan kakaknya ke sekolah. Sempat dia katanya teriak, tolong Bunda. Tapi gak ada yang mendengar. Teruslah katanya dia dikejar-kejar anak-anak yang dua itu dengan pisau. Anak-anak itu saja katanya yang mengganggu dia. Kalau mamaknya, gak ada mengganggu,” ketus Lina.

Di tengah ketakutannya, Cinta lari ke kamar dan mengambil dua bantal. Kemudian, dia menaruhnya persis di bawah jendela. Saat dia mencoba memanjat jendela tersebut, dua sosok tersebut mendorongnya hingga terjatuh dari lantai V.

“Ditolak orang itu Cinta, makanya Cinta jatuh,” kata Lina menirukan ucapan Cinta kepadanya.

Takut Pulang ke Rusunawa

Setelah melihat kondisi Cinta yang mulai membaik, Afrizal Nasution, ayah kandungnya pun mencoba membujuk anaknya tersebut untuk pulang ke rumah. Namun, balita tersebut menolak tawaran ayahnya. Dia mengaku takut pulang ke Rusunawa karena kedua sosok misterius tersebut akan terus mengganggunya.

“Tadi kubilang, pulanglah kita ke rumah ayah. Gak mau Cinta pulang ke rumah. Takut Cinta nanti diganggu orang itu lagi,” kata Afrizal menirukan bahasa Cinta padanya.

Tak ingin kejadian tersebut terulang kembali menimpa anaknya, diapun mengurungkan niatnya untuk kembali ke Rusunawa. Namun, dia bingung harus tinggal di mana lagi. “Rencananya mau pulang kianlah satu hari ini. Biarlah, makan obat saja nanti,” ungkapnya.

Menurut Afrizal, malam sebelum kejadian, sudah ada tanda-tanda akan ada kejadian tersebut. Semalaman, anaknya tersebut gelisah, tidak bisa tidur. “Sampai jam 02.30 WIB gelisah, subuh kami baru tidur. Sudah ada tanda-tandanya.”

Tak hanya itu, tanda-tanda lainnya, malam itu tak biasanya Cinta mencoret kaki kanannya. Saat diminta ayahnya untuk menghapusnya, Cinta menolak dan berjanji akan menghapusnya keesokan harinya. “Dilingkarinya kaki kanannya, ayah lihatlah ada tato Cinta, cantik kan. Kusuruh dihapus, katanya besok saja ayah. Itulah kakinya yang patah sekarang,” ketusnya.

Amatan di rumah sakit, Cinta ditemani ayah dan ibunya serta neneknya, yang setia menjaganya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Cinta jatuh dari lantai V gedung Rusunawa (Rumah Susun Sederhana Sewa) Sibolga yang memiliki ketinggianberkisar 20 meter, Selasa (4/12). Ajaibnya, balita berusia 4 tahun itu selamat.

Menurut sang ayah Afrizal Nasution, kejadian bermula saat dia hendak mengantar anak pertamanya sekolah. Sementara Cinta, yang merupakan anak keduanya, masih tertidur pulas di tempat tidur. Tak ingin mengganggu tidur Cinta, setelah memastikan seluruh jendela benar-benar tertutup, Afrizal pun memutuskan mengunci pintu dari luar dan pergi mengantar anaknya sekolah. “Kebetulan, abang mertua saya meninggal, jadi ibunya di sana. Saya pun sebenarnya mau menyusul ke sana, tapi karena anak saya Cinta masih tidur dan kakaknya harus sekolah, makanya aku gak ikut. Jadi kejadiannya, pas aku mau mengantar kakaknya sekolah. Karena gak ada yang menjaga, kukunci pintu dari luar,” kata Afrizal ditemui di ruang IGD Rumah Sakit FL Tobing Sibolga.

Usai mengantar anaknya, Afrizal mendengar ada suara warga rusunawa berteriak minta tolong. “Sudah kuantarnya anakku. Kan dekatnya sekolahnya dari rusunawa. Ada yang teriak, ada anak jatuh,” serunya menirukan teriakan warga tersebut.

Mengingat anaknya ditinggal sendiri di rumah, Afrizal pun buru-buru tancap gas untuk memastikan bocah yang sudah telungkup di pelataran parkir blok A rusunawa tersebut. Alangkah kagetnya dia saat mengetahui kalau bocah naas tersebut adalah anak keduanya. Buru-buru, dia membawa Cinta yang sudah tidak berdaya ke rumah sakit. “Kulihatlah anakku sudah tidak bergerak, posisinya telungkup di tanah itu,” ketusnya sambil memeragakan posisi anaknya saat ditemukan di pelataran parkir rusunawa.

Penasaran dengan jatuhnya anaknya dari lantai V, Afrizal sempat memeriksa rumahnya untuk memastikan bagaimana anaknya bisa terjatuh. Saat itu dia melihat ada dua bantal yang bertindih persis di bawah jendela. Dugaannya, bantal tersebut dijadikan Cinta sebagai tangga untuk.membuka jendela. “Padahal, posisi antara lantai dan jendela tinggi sekali. Tapi, kok bisa dia terjatuh. Kulihatlah, sudah ada bantal bersusun. Mungkin, itulah caranya memanjat lalu dibuka (Cinta, red)-nya jendela,” pungkasnya.

Sekilas, ayah dua anak yang kesehariannya bekerja sebagai pegawai Satpol PP Pemko Sibolga tersebut mengutarakan kekesalannya pada saat kejadian. Tak seorangpun warga yang mau menyelamatkan anaknya. Padahal saat itu, ada beberapa warga yang menyaksikan kejadian. “Ada empat orang tadi di situ yang melihat kejadian. Tapi dibiarkan saja, gak ditolongnya anakku ini. Padahal, sebelumnya pernah ada anak-anak jatuh juga dari rusunawa ini, akulah yang melolong. Tanganku ini yang menggendongnya,” ucapnya dengan nada sedih mengingat kejadian tersebut. (ts/nt/ma)

Bagikan: