Menu

Sang Ibu Nekad Bunuh Aulia Lantaran Kesal Sama Suami

Perdana Ramadhan/Metro Asahan
Tersangka Datna br Manurung saat diinterogasi Kapolres Asahan didampingi Kasat Reskrim.

MetroAsahan.com, Tanjungbalai – Motif penganiayaan Aulia Patin, balita perempuan berusia tiga tahun yang ditemukan tewas di dapur rumahnya, Senin (21/5) lalu akibat dianiya ibu kandungnya, akhirnya terungkap.

Datna br Manurung, ibu korban kepada polisi mengaku kesal terhadap korban lantaran sering berbuat nakal. Selain itu, tersangka menyimpan dendam terhadap mantan suaminya yang merupakan ayah dari Aulia karena meninggalkan tersangka saat ia hamil lima bulan.

Selama ini mereka tinggal di Dusun IV Desa Asahan Mati, Kecamatan Tanjungbalai. “Menurut pengakuan tersangka, penganiayaan itu muncul karena anaknya nakal. Juga karena masih menyimpan dendam terhadap ayah korban yang meninggalkannya begitu saja saat hamil berusia lima bulan. Dendam itulah yang dilampiaskan kepada anaknya,” kata Kapolres Asahan AKBP Yemi Mandagi didampingi Kasat Reskrim AKP M Arif Batubara.

Mendengar pengakuan Datna br Manurung, Polres Asahan akhirnya resmi menetapkannya sebagai tersangka. Datna adalah ibu kandung Aulia Patin, balita perempuan berusia tiga tahun yang ditemukan tewas di dapur rumahnya, Senin (21/5) lalu dengan sejumlah luka lebam di sekujur tubuh dan pendarahan beku di otak akibat penyiksaan yang dilakukan tersangka.

“Atas perbuatan tersangka ini dia terancam hukuman kurungan 20 tahun penjara, karena dugaan penganiayaan hingga menyebabkan kematian anak kandungnya sendiri,” kata Kapolres Asahan AKBP Yemi Mandagi kepada awak media saat menggelar rilis pengungkapan kasus tersebut, Rabu (23/5).

Dijelaskan Kapolres, perbuatan tersangka diatur Pasal 80 ayat 3 juncto Pasal 76C Undang-undang RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, atau Pasal 44 ayat (3) Juncto Pasal (5)a UU 23 Tahun 2004 Tentang Keketasan Dalam Rumah Tangga.

Terpisah, Awaluddin  Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kabupaten Asahan mengapresiasi kinerja Polres Asahan yang dinilai cepat tanggap dan merespon aduan masyarakat atas kejadian yang mengakibatkan penganiayaan terhadap anak.

Ia meminta kepada pihak Kepolisian dan Kejaksaan menerapkan hukuman tertinggi dari undang-undang perlindungan anak dan tidak berkompromi dengan kasus penganiayaan anak, apalagi kejadian tersebut sampai meregang nyawa.

“Terkait maraknya kasus kekerasan terhadap anak ini sudah seharusnya Pemkab Asahan membentuk tim-tim untuk menanggulangi aksi kekerasan terhadap anak. Bisa melalui edukasi maupun sosialisasi,” sebutnya. (per/des/ma)

Loading...