Disiapkan untuk Aksi Bom Bunuh Diri

Bagikan:
Ilustrasi

MetroAsahan.com, DUA terduga teroris berinisial AN Dan RI yang tewas dalam penyergapan Densus 88 Antiteror Mabes Polri di Tanjungbalai, diduga akan dijadikan sebagai pelaku aksi bom bunuh diri.

Kapolres Tanjungbalai AKBP Irfan Rifai mengatakan, dari hasil penyelidikan, kelompok ini akan melakukan teror dan penyerangan di sejumlah lokasi.

Dugaan AN dan RI dijadikan pelaku bunuh diri setelah adanya temuan atau menyita tiga rompi di lokasi penyergapan.

“Kelompok Syaiful ini sudah menyiapkan tiga rompi rangkaian bom yang rencanannya akan melakukan teror di sejumlah titik. AN dan RI diduga telah disiapkan menjadi ‘pengantin’ atau pelaku bom bunuh diri,” kata Kapolres Tanjungbalai AKBP Irfan Rifai.

Hal itu dibenarkan Kapolda Sumut Irjen Pol Agus Andrianto. Dia menjelaskan dua terduga teroris yang ditembak mati di Tanjungbalai, adalah berafiliasi atau jaringan Syaiful yang saat ini buron.

Menurut Kapolda, dua tersangka yang tewas ditembak petugas pada Kamis (18/10) masing-masing berinsial ASN alias AN kelahiran tahun 1992 dan MRA alias RI kelahiran tahun 1996.

“Keduanya merupakan anggota atau terlibat dalam jaringan Jaringan Ansharut Daulah (JAD) pimpinan Syaiful yang lolos dalam penyergapan Densus 88 pada bulan Mei 2018 kemarin di Kelurahan Beting Kuala Kapias, Teluk Nibung,” ujar Kapolda.

Kapolda, melanjutkan, hasil pemantauan Densus 88 terhadap gerakan jaringan Syaiful ternyata aktif. Terbukti atas penindakan terhadap dua tersangka yang kemarin tewas ditembak karena melakukan perlawanan dan mengancama nyawa petugas.

Tetap Waspada

Pada kesempatan itu, Irjend Pol Agus Andrianto juga menginformasikan, bahwa selain kedua orang terduga teroris tersebut,masih ada 1 (satu) orang lagi yang berkeliaran.

Hal itu diketahui dari rompi pengantin siap pakai yang ditemukan di rumah terduga teroris di Jalan Pukat Lingkungan V, Kelurahan Perjuangan, Kecamatan Teluk Nibung, Kota Tanjungbalai ada sebanyak 3 (tiga) buah.

“Masih ada satu orang lagi calon pengantinnya yang berkeliaran. Oleh karena itu, kita menghimbau kepada seluruh elemen masyarakat terutama para kepala lingkungan agar tetap mewaspadai setiap warga yang mencurigakan dan segera melaporkannya kepada pihak kepolisian,” ujar Kapoldasu Irjend Pol Agus Andrianto.

Sebagaimana diketahui, AN dan RI merupakan dua terduga teroris yang disebut kelompok Syaiful tewas dalam penyergapan, Kamis (18/10) lalu.

Dari penyergapan tersebut, Densus 88 berhasil menyita 7 bahan peledak atau bom rakitan (bukan kontainer). Kelompok ini rencananya akan melakukan aksi teror dengan sasaran kantor polisi, rumah ibadah dan objek vital.

Sopan dan Hormat dengan Tetangga

Warga sekitar Jalan Sipori-pori, Gang Jumpul, Lingkungan VI, Kelurahan Kapias Pulau Buaya, Kecamatan Teluk Nibung Kota Tanjungbalai masih membicarakan penembakan AN dan RI yang disebut sebagai terduga teroris.

Masyarakat terkejut atas peristiwa penembakan Kamis (18/10) itu. Apalagi para tetangga sama sekali tidak menyangka kalau keduanya berkaitan dengan jaringan teroris, karena selama ini dikenal sebagai pribadi yang sopan.

Seorang warga yang enggan namanya ditulis mengurai, bahwa masyarakat dikejutkan dengan suara tembakan.

Menurutnya, awal mula penangkapan tersebut, kedua terduga teroris dikejar petugas dari rumah salah seorang terduga teroris di tempat kejadian perkara (TKP).

“Kedua orang terduga teroris tersebut lari dari Jalan Pukat menuju ke TKP dan langsung bersembunyi di kamar mandi rumah kontrakan di lokasi tersebut. Namun petugas mengejar terus kedua terduga teroris sampai menuju kamar mandi. Karena adaanya perlawanan dari kedua terduga teroris, petugas langsung melumpuhkannya dengan tembakan,” ungkapnya.

“Seorang petugas yang memegang pistol itu berhadapan dengan dua terduga teroris. Saat akan ditangkap, kedua terduga teroris melawan hingga dilakukan penembakan,” ujar warga tadi.

Sementara itu, Zainab warga sekitar menyebutkan salah seorang terduga teroris inisial RI alias Sitawar yang selalu dipanggil namanya oleh wasyarakat Linkungan V, Kelurahan Perjuangan, Kecamatan Teluk Nibung. Dia tidak menyangka kalau pemuda tanggung yang selama ini sopan dan hormat terhadap masyarakat ternyata terlibat jaringan teroris.

“Selama ini dalam kesehariannya lajang tanggung terduga teroris itu cukup bagus bermasyarakat. Dia tinggal bersama ibunya berdua saja di rumah, Sitawar itu anak laki-laki paling bungsu dari tiga bersaudara. Kakaknya yang sulung sudah berkeluarga dan tinggal di Aceh ikut suaminya. Sedangkan kakaknya yang nomor dua juga tinggal di Aceh ikut bersama kakak sulungnya,” ujar ibu Zainab, tetangga Sitawar.

Hal senada juga dikatakan ibu Siah warga lainnya yang juga tetangga Sitawar. Meski jarang bergaul dengan sesama anak muda setempat, Sitawar bertutur sapa santun.

“Rumah yang dia tempati berdua dengan ibunya itu adalah rumah milik sendiri. Sejak orangtua laki-lakinya meninggal dua tahun yang lalu, pintu rumah mereka selalu tertutup. Pekerjaan Sitawar ini tidak menentu. Kadang ikut dia kelaut dengan warga disini, kadang menganggur. Tidak kami ketahuilah secara pasti apa aktifitasnya sehari-hari kalau lagi tidak melaut,” ujar Siah.

Dikatakannya lagi, selama mereka hidup bertetangga hampir sepuluh tahun, tidak pernah terlihat hal-hal yang mencurigakan.

“Tidak pernahlah kami lihat di rumah mereka ada perkumpulan, karena pintu rumah mereka lebih sering tertutup. Kalau untuk masalah beribadah Sitawar ini rajin salat dan mengaji di masjid. Tak sangkalah kami Sitawar ini adalah terduga teroris,” pungkasnya. (fir/tn/pojoksumut/ma)

Bagikan: