Buruh Ngaku Dukun

Bagikan:
Ilustrasi

BURUH pabrik mengaku dukun, otak Bakir (48) nama samaran, jadi ngeres melulu. Ada dua ABG kembar cantik berobat kepadanya, justru dicabuli secara bergantian. Fitri (16) nama asal-asalan, yang paling sering diajak Bakir, dinyatakan hamil. Sedangkan Fitroh (16) juga nama samaran, meski tidak hamil, tapi kehormatannya sudah ternoda. Orang tua pun lapor ke Polres Serang.

Kenapa ya, menjadi dukun kalau tidak cabul kok belum afdhol rasanya. Soalnya di mana-mana, asal ada dukun pasti dilaporkan mencabuli pasien perempuanya. Tentu yang cantik-cantik. Cara pengobatannya pun jadi aneh-aneh, yang ujung-ujungnya musti ada persetubuhan dengan alasan kemauan atau tuntutan jin yang menjadi prewangannya. Padahal sebetulnya itu bukan tuntutan jin, melainkan tuntutan biologis si dukun itu sendiri.

Rupanya Bakir warga Kecamatan Keragilan, Kabupaten Serang, juga termasuk lelaki yang memperkuat barisan dukun cabul. Dia jadi dukun bukan untuk menyembuhkan penyakit pasien, tapi justru untuk memanjakan syahwatnya. Sebab asal mengatasnamakan terapi pengobatan, apapun perilaku dukun dimaklumi dan dipahami.

Entah siapa yang mengajari, Bakir belakangan dikenal sebagai paranormal. Padahal pekerjaan aslinya dia menjadi buruh pabrik di kawasan Ciklande. Tapi kata para bekas pasien, pengobatan Bakir banyak yang cocok. Ongkos juga tak pernah menentukan, seiklasnya kantong pasien.

Tapi sejak dapat pasien ABG kembar Fitri dan Fitroh, sepertinya dukun Bakir jadi lupa akan kode etik perdukunan. Dia tak berusaha menyembuhkan pasien, tapi justru berusaha bagaimana bisa menggauli dua pasiennya yang masih mulus-mulus itu. Bukankah usia kedua pasien itu sepantar anak sendiri di rumah? “Ya kalau sedang berbuat tak usah mikir anak di rumah,” kata setan memberi pembenaran.

Kedua pasien asal Jakarta Barat ini datang ke dukun Bakir awalnya mengaku sedang stress. Apa penyebab stress tidak jelas. Yang pasti tidur tak bisa pules, makan tak pernah habis, karena hati selalu gelisah. Mungkin karena kembar, persolan mereka juga sama. Mendengar keluhan Fitri-Fitroh, dukun Bakir manggut-manggut, meski berfikir hebat. Bukan berfikir bagaimana jika RI tahun 2030 bubar, tapi bagaimana bisa menikmati tubuh mulus dua pelajar SMA itu.

Keduanya pun lalu diterapi dalam kamar secara bergantian. Biasa, pakai mandi kembang 7 rupa, dengan air mineral galonan 7 merk. Soalnya untuk mencari air dari 7 mata air sungai, tak sempat lagi saking jauhnya. Dan ketika Bakir mensyaratkan penghilangan stress itu harus melaui kontak badan antara pasien dan dukun, keduanya pasrah saja.

Padahal bahasa sederhananya, baik Fitri maupun Fitroh siap disetubuhi.

Meski usia belum kepala lima, tapi Bakir memang sudah tidak lagi rosa-rosa macam Mbah Marijan. Maka dia menggauli kedua pasien secara bergantian, dengan hari-hari berbeda. Tapi dari pencabulan terhadap pasien tersebut, paling sering menjadi sasaran si Fitri, karena beberapa bulan berikutnya dinyatakan hamil.

Awalnya orangtua dua ABG itu kaget, kenapa setelah jadi pasien dukun Bakir kondisi perutnya jadi membuncit. Fitri dan Fitroh pun mengaku bla bla bla. Memangnya tak bisa menolak? “Kalau menolak katanya penyakit kita jadi makin parah dan kemudian mati.” Kata Fitri.

Kasus ini segera dilaporkan ke Polda Banten, dan dukun Bakir ditangkap tanpa perlawanan. Dalam pemeriksaan dia mengakui, tak biasanya dia tergoda imannya. Tapi begitu ketemu pasien Fitri-Fitroh, imannya benar-benar jadi jebol. Itulah jika iman kalah sama si “imin”. (jpnn)

Bagikan: